Ilusi Sehat di Balik Label Manis: Menyingkap Jebakan Health Halo Effect pada Minuman Kekinian

Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 20:45 WIB
Ilustrasi, konsumen memesan kopi kekinian. (Foto : dokumentasi pribadi)
Ilustrasi, konsumen memesan kopi kekinian. (Foto : dokumentasi pribadi)

 

Memesan kopi kekinian atau menyusuri lorong minimarket di sela padatnya aktivitas kini bukan lagi sekadar untuk memuaskan dahaga, melainkan rutinitas yang lekat dengan gaya hidup modern. Semakin marak minuman manis dengan berbagai rasa yang memikat sebagai kawan setia dalam aktivitas sehari-hari. Namun dibalik tingginya minat akan minuman manis ini, muncul pula kesadaran akan meningkatnya risiko diabetes di usia muda. Hal ini melahirkan tren baru yaitu cut off gula. Konsumen kini mulai mengincar minuman yang rendah gula.

Tren ini semakin didukung dengan adanya inovasi kebijakan kesehatan sistem pelabelan gizi (Nutri-Level) oleh kementerian kesehatan serta berbagai minuman dengan klaim “low sugar” atau “no sugar”.  Namun, seberapa jauh label tersebut benar-benar menunjukkan bahwa suatu minuman lebih sehat? Ataukah ia sekadar memicu ilusi psikologis yang dikenal sebagai health halo effect?

Antara Kesadaran dan Celah Rasa Aman 

Bagi sebagian konsumen, kadar gula menjadi salah satu pertimbangan penting ketika membeli minuman. Jihan, konsumen yang diwawancarai, mengaku cukup memperhatikan kandungan gula karena melihat konsumsi gula sebagai salah satu hal yang perlu dikendalikan. Ia terbiasa mengurangi kadar gula pada kopi yang dipesannya. Jika suatu minuman terasa terlalu manis, pada pembelian berikutnya ia akan memilih less sugar atau half sugar. Andre, konsumen lain, juga mengaku selalu memperhatikan kandungan gula pada minuman kemasan. Baginya, kadar gula menjadi salah satu indikator ketika menentukan pilihan. Ia bahkan terbiasa melihat ingredients dan jumlah gula pada kemasan sebelum membeli.

Namun, dibalik niat untuk mengontrol asupan tersebut, keyakinan mengenai batas aman harian rupanya masih menyisakan ruang abu-abu. Saat ditanya mengenai takaran pasti konsumsi gula harian, mereka tidak sepenuhnya tahu. Jihan mengaku tidak yakin dan mengira batas harian gula hanya sekitar dua sendok makan. Sementara Andre memperkirakannya dengan tepat sekitar empat sendok makan atau setara 50 gram, meskipun awalnya sedikit ragu.

Ketidakpastian ini juga tercermin dari bagaimana cara mereka menghitung asupan harian. Seperti yang diakui oleh Andre, ia tidak pernah menghitung kandungan gula secara sangat detail. Jika terdapat minuman kemasan yang mencantumkan label atau nilai gizi yang jelas ia akan cek terlebih dahulu. Jika kadar gulanya tinggi ia pasti akan mempertimbangkan ulang untuk membelinya. Sebaliknya, untuk produk di gerai komersial atau minuman tanpa label rincian nutrisi yang jelas ia tidak ambil pusing dan langsung membelinya begitu saja, meski minuman tersebut kemungkinan gulanya tinggi.

Di sisi lain, keinginan untuk mengetahui kandungan gula tidak selalu membuat Andre bersedia memeriksa setiap produk secara mendetail. ketika dihadapkan pada pilihan yang berderet di rak supermarket, ia mengaku enggan menghabiskan waktu untuk membandingkan informasi kandungan gula dari 3 hingga 5 produk sekaligus. Membalik kemasan satu per satu, membaca deretan angka berukuran kecil, lalu memperhitungkannya secara rasional dirasa terlalu menyita energi. Bagi Andre, proses membandingkan banyak produk secara detail adalah hal yang merepotkan. 

Mengenal Label, Belum Tentu Memahami

Keterbatasan literasi mengenai label penanda gizi pun turut mewarnai pengalaman konsumen. Hal ini terlihat dari pengalaman Andre ketika pertama kali menemukan label Nutri-Level di sebuah coffee shop. Saat itu, ia mengaku belum benar-benar memahami arti huruf dan warna yang tertera pada label tersebut. Rasa penasaran kemudian mendorongnya mencari informasi lebih lanjut melalui artikel dan media sosial, termasuk TikTok. Dari pencarian tersebut, ia mulai memahami bahwa Nutri-Level memberikan informasi mengenai kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) pada makanan dan minuman.

Pengalaman Andre memperlihatkan bahwa mengenali sebuah label tidak selalu berarti memahami seluruh informasi yang terkandung di dalamnya. Ia baru memperoleh pemahaman lebih lanjut setelah mencari informasi secara mandiri. Sementara itu, Jihan, konsumen lain yang rutin mengonsumsi kopi, bahkan mengaku belum pernah mendengar istilah Nutri-Level.

Kebiasaan tersebut memperlihatkan bahwa keinginan untuk menjaga kesehatan tidak selalu sejalan dengan kesediaan untuk memeriksa informasi gizi secara menyeluruh. Di satu sisi, konsumen berupaya mengontrol asupan gula, tetapi di sisi lain, pertimbangan kepraktisan dapat membuat mereka mengabaikan pemeriksaan lebih lanjut.

Sikap pragmatis inilah yang kemudian membuka celah bagi Health Halo Effect: ketika konsumen dihadapkan pada produk-produk yang menawarkan klaim khusus atau label penanda di bagian depan kemasan, kehadiran atribut tersebut seringkali langsung melunturkan kewaspadaan mereka, tanpa perlu repot-repot membalik kemasan untuk memeriksa tabel gizi secara rinci.

Jalan Pintas Otak dalam Memilih Minuman

Dalam kehidupan sehari-hari, konsumen tidak selalu memiliki waktu atau keinginan untuk menganalisis seluruh kandungan sebuah produk. Menurut Dina Nazriani, S.Psi., M.A., akademisi psikologi yang kami wawancarai, kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui Dual Process Theory. Teori ini membagi proses berpikir menjadi dua sistem. Sistem 1 bekerja secara cepat, spontan, dan otomatis, sedangkan Sistem 2 bekerja secara lebih sadar dan analitis. Dalam keputusan sehari-hari seperti membeli makanan atau minuman, konsumen cenderung lebih sering menggunakan Sistem 1.

Sistem 1 memungkinkan otak menggunakan heuristic atau jalan pintas dalam mengambil keputusan. Ketika melihat satu atribut yang dianggap positif, konsumen dapat menggunakannya sebagai dasar untuk menilai produk secara keseluruhan. Misalnya, ketika melihat tulisan low sugar, konsumen dapat langsung menganggap produk tersebut lebih sehat tanpa terlebih dahulu memeriksa kandungan lainnya.

Kemasan kemudian menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Letak label, ukuran tulisan, kesederhanaan informasi, hingga penggunaan warna dapat mempengaruhi perhatian konsumen. Warna tertentu, seperti hijau, dapat diasosiasikan dengan sesuatu yang lebih aman atau baik. Kepercayaan terhadap informasi yang dianggap resmi juga dapat memperkuat keyakinan konsumen terhadap klaim pada kemasan.

Saat Satu Atribut Membentuk Kesan Sehat

Ilustrasi. (Foto:dokumentasi pribadi)
Ilustrasi. (Foto:dokumentasi pribadi)

 

Di sinilah health halo effect bekerja. Ketika satu atribut positif terlihat menonjol, konsumen dapat menggeneralisasikan kesan positif tersebut kepada keseluruhan produk. Dalam wawancara, akademisi psikologi menjelaskan bahwa ketika konsumen melihat minuman dengan warna yang dianggap sehat dan tulisan low sugar, mereka dapat langsung menilai produk tersebut sebagai pilihan yang baik. Akibatnya, atribut lain yang sebenarnya perlu diperiksa dapat terlewat.

Fenomena tersebut tidak selalu berarti konsumen sengaja mengabaikan informasi. Cara kerja otak yang cenderung mencari keputusan cepat turut berperan. Dalam situasi pembelian sehari-hari, label yang sederhana dan mudah terlihat dapat menjadi informasi yang paling cepat diproses. Bahkan, bagi konsumen tertentu, pilihan less sugar dapat memberikan rasa lebih tenang ketika menikmati minuman yang disukai. Jihan mengaku merasa lebih less worry setelah memilih gula yang lebih sedikit karena ia mengetahui bahwa minumannya tidak semanis pilihan sebelumnya.

Dari sisi psikologi, kondisi tersebut berkaitan dengan cognitive dissonance. Ketika seseorang ingin menikmati minuman manis tetapi pada saat yang sama mengetahui bahwa konsumsi gula perlu diperhatikan, dapat muncul ketidaknyamanan dalam diri. Pilihan less sugar dapat menjadi bagian dari upaya seseorang mengurangi ketidaknyamanan tersebut. Namun, ahli psikologi menekankan bahwa pengaruhnya terhadap emosi tidak berlangsung secara langsung, melainkan berkaitan dengan proses kognitif dalam mengambil keputusan.

Membantu Memilih, tetapi Bukan Tiket Bebas

Label seperti low sugar maupun Nutri-Level sejatinya memiliki fungsi yang cukup sederhana: membantu konsumen mengambil keputusan belanja secara lebih cepat. Sistem Nutri-Level, misalnya, membagi tingkat nutrisi ke dalam empat kategori yang dibedakan melalui simbol huruf dan kode warna (A, B, C, dan D). Semakin tinggi peringkatnya (seperti A atau B), semakin rendah kandungan gula, garam, dan lemak jenuhnya dibandingkan tingkat di bawahnya.

Namun, kehadiran label-label tersebut bukan berarti konsumen dapat mengonsumsi produk tanpa batasan jumlah maupun frekuensi. Menurut akademisi Ilmu Gizi, Reni Novia, Nutri-Level memang dirancang sebagai panduan praktis dalam membaca kemasan. Meski demikian, label tersebut tidak bisa serta-merta ditafsirkan bahwa produk berlabel "A" sudah pasti sehat secara menyeluruh. Sebab, Nutri-Level berfokus pada tiga zat gizi utama: gula, garam, dan lemak jenuh (GGL). Oleh karena itu, konsumen tetap dituntut untuk cermat melihat informasi nilai gizi lainnya.

Di luar GGL, aspek gizi lain seperti protein, karbohidrat, kalori, hingga serat juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh masing-masing. Produk dengan kadar gula rendah, sebagai contoh, belum tentu rendah kalori karena asupan kalori bisa bersumber dari zat gizi lain. Selain itu, konsumen sangat dianjurkan untuk memeriksa daftar komposisi (ingredients) demi memastikan klaim di bagian depan kemasan benar-benar sejalan dengan isi produk.

Aspek penting lain yang kerap luput dari perhatian adalah takaran saji (serving size). Informasi nilai gizi pada kemasan umumnya hanya mencerminkan porsi untuk satu kali sajian, padahal satu kemasan utuh bisa terdiri atas dua sajian atau lebih. Artinya, konsumen perlu lebih teliti membedakan apakah angka nutrisi yang tertera berlaku untuk satu porsi saja atau untuk keseluruhan isi kemasan.

Kenyataan ini mempertegas bahwa hanya bersandar pada satu label saja jelas tidak cukup. Klaim seperti less sugar atau no sugar pun tidak otomatis menandakan produk tersebut sepenuhnya bebas gula. Klaim-klaim semacam ini memiliki ambang batas dan regulasi tertentu yang wajib dipahami lewat informasi rinci pada kemasan. Maka dari itu, perhitungan total asupan gula harian tetap memegang peranan kunci.

Sayangnya, tingkat pemahaman masyarakat terhadap dinamika pelabelan ini belum sepenuhnya merata. Akademisi gizi menilai bahwa edukasi dan sosialisasi mengenai sistem ini masih sangat perlu diperkuat. Penyebaran informasi yang masih mendominasi media sosial belum tentu menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata. Akibatnya, keterbatasan literasi gizi kerap memicu salah kaprah, misalnya menganggap produk tingkat D haram dikonsumsi sama sekali, atau sebaliknya, menganggap produk tingkat A bebas diteguk sebanyak apapun tanpa resiko.

Dari Sistem 1 Menuju Sistem 2

Meski health halo effect dapat membuat konsumen terlalu cepat menyimpulkan bahwa suatu produk sehat, fenomena tersebut tidak selalu harus dipandang sepenuhnya negatif. Akademisi psikologi menjelaskan bahwa Nutri Level juga dapat memberikan kesadaran awal kepada konsumen mengenai kesehatan. Ketika informasi tersebut membantu seseorang merasa mampu membuat pilihan yang lebih baik, muncul keyakinan yang dalam psikologi disebut self-efficacy. Namun, proses tersebut tetap membutuhkan tahapan dan tidak terjadi hanya karena sebuah label ditempelkan pada produk.

Karena itu, tantangannya bukan menghilangkan label kesehatan, melainkan memastikan konsumen tidak berhenti pada label tersebut. Akademisi psikologi menyarankan agar konsumen membiasakan diri beralih dari keputusan spontan menuju analisis yang lebih sadar. Konsumen dapat tetap menggunakan informasi pada bagian depan kemasan sebagai panduan awal, tetapi kemudian melanjutkannya dengan memeriksa takaran, ingredients, informasi gizi, serta membandingkan produk dengan pilihan lainnya.

Kebiasaan tersebut juga dapat dibentuk melalui pengalaman. Semakin sering seseorang membiasakan diri menganalisis informasi sebelum membeli, semakin terbentuk pula pola pengambilan keputusan tersebut. Dengan kata lain, konsumen tidak harus selalu berpikir panjang sejak awal, tetapi perlu menyadari kapan keputusan spontan perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan yang lebih kritis.

Pada akhirnya, persoalan minuman low sugar, less sugar, no sugar, maupun Nutri Level bukan sekadar persoalan ada atau tidaknya gula dalam sebuah produk. Di balik label tersebut terdapat proses psikologis, kebiasaan, pemahaman gizi, hingga strategi visual yang ikut membentuk keputusan konsumen.

Label dapat menjadi pintu masuk menuju pilihan yang lebih sadar, tetapi bukan jaminan bahwa sebuah produk sepenuhnya sehat. Konsumen tetap perlu melihat keseluruhan informasi sebelum mengambil keputusan. Sebab, mengurangi gula merupakan salah satu langkah, tetapi memahami apa yang sebenarnya dikonsumsi adalah langkah yang tidak kalah penting. (Rakhel Claudia Putri Hulu/Putri Theresia)

Editor : Redaksi
Health Halo Effect Minuman Kekinian Nutri-Level Literasi Gizi gula