Di Balik Huruf A, B, C, dan D, Bagaimana Nutri-Level Dipahami?

Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 21:39 WIB
Nutri-Level pada menu salah satu coffee shop. (Foto:dokumentasi pribadi)
Nutri-Level pada menu salah satu coffee shop. (Foto:dokumentasi pribadi)

Aroma kopi memenuhi ruangan saat Andre, salah seorang konsumen, berdiri di depan kasir coffee shop, siap memilih pesanan. Matanya kemudian tertuju pada deretan huruf berwarna di menu, A, B, C, hingga D. Ia sempat mengernyit, mencoba memahami maksud label yang baru pertama kali dilihatnya. Setelah membaca sekilas keterangannya, Andre menangkap satu hal, semakin tinggi tingkatannya, semakin perlu minuman itu dibatasi. Informasi sederhana itu pun membuatnya berpikir sejenak sebelum akhirnya menentukan pesanan.

Label yang baru saja dilihat oleh Andre adalah Nutri-Level. Ia mengaku awalnya tidak benar-benar memahami maksud dari huruf dan warna tersebut. Namun, rasa penasaran tersebut tidak berhenti pada informasi yang ia lihat di menu tersebut. Ia kemudian mencari tahu lebih lanjut di berbagai artikel serta media sosial seperti TikTok. Dari sana ia mulai memahami bahwa label ini memberi informasi terkait kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) pada makanan dan minuman.

“Aku sudah tahu Nutri-Level ini sejak awal diperkenalkan, sekitar tahun 2025 ya. Waktu itu aku ke coffee shop untuk nongkrong, lalu melihat ada label berbentuk bulat dengan warna dan huruf tertentu. Setelah aku baca, ternyata itu Nutri-Level. Dari situ aku jadi memilih minuman dengan label A berwarna hijau karena kandungan GGL-nya lebih rendah,” tutur Andre.

“Gak sampai di situ aja, aku langsung cari tahu di TikTok dan artikel tentang Nutri-Level dan memang bagus untuk mengedukasi masyarakat tentang kandungan GGL di minuman yang dibeli, ya, khususnya minuman kekinian kayak kopi,” tambah Andre.

Pengalaman Andre menunjukkan bahwa sebuah label yang awalnya hanya terlihat sekilas dapat memunculkan rasa ingin tahu. Ia tidak langsung memahami seluruh informasi di balik Nutri-Level, tetapi mencoba mencari penjelasan setelah melihatnya.

 

Di sisi lain, seorang mahasiswi, Jihan, yang rutin mengonsumsi kopi, justru mengaku belum pernah mendengar istilah  Nutri-Level sebelumnya. Ia mengaku selama ini lebih sering menentukan pilihan minuman berdasarkan rasa dan kebiasaan. Ketika ingin mengurangi gula, ia biasanya meminta less sugar atau memilih americano tanpa gula. 

“Aku baru pertama kali ini dengar nama Nutri-Level,” ujar Jihan. 

Jika Andre sudah pernah melihat label itu dan mencoba mencari informasi lebih lanjut, Jihan justru sama sekali belum mengenalnya. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kehadiran Nutri-Level di antara pilihan minuman tidak selalu menjamin bahwa semua konsumen mengetahui fungsi dan arti dari label tersebut.

Lalu bagaimana sebenarnya Nutri-Level diperkenalkan kepada masyarakat?

Salah satu ruang yang dimanfaatkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) untuk menyampaikan informasi tersebut adalah media sosial. Pada 17 April 2025, melalui akun resmi Instagram @kemenkes_ri,  Kemenkes RI,  membagikan konten edukatif terkait Nutri-Level, mulai dari pengenalan label Nutri-Level, tujuannya, dan ketentuan penerapan label gizi.

Media sosial memungkinkan masyarakat untuk mengakses informasi ini bahkan sebelum mereka berinteraksi langsung dengan label saat membeli makanan atau minuman. Namun, kemunculan informasi di media sosial tidak serta-merta membuat semua orang segera memahami maksudnya.

Hal ini dapat terlihat dari reaksi masyarakat terhadap postingan Kemenkes RI mengenai Nutri-Level. Di bagian komentar, respons yang muncul mencerminkan variasi tingkat pemahaman. Sebagian besar orang menyambut positif adanya informasi mengenai kandungan gizi ini. 

“Dukung, ges, ini termasuk program bagus. Di negara maju udah biasa dengan label minuman berpemanis gini,” sebut salah satu akun yang berkomentar, @aditiasb_. 

Sebaliknya, terdapat beberapa orang yang masih meragukan dan memberikan kritik terhadap postingan Nutri-Level tersebut. Beberapa orang mempertanyakan jenis kandungan gula yang dikategorikan serta minuman mana saja yang termasuk di dalamnya. Ada juga yang berkomentar bahwa kebijakan ini tidak akan berhasil di negara yang memiliki tingkat literasi dan minat baca yang rendah.

“Di negara minim literasi dan minat baca, kemungkinan besar tidak ada pengaruhnya. Seleksi alam bekerja,” sebut @dirgabiologychannel.

Respons tersebut menunjukkan bahwa memperkenalkan sebuah label adalah satu hal, sedangkan menjadikan masyarakat memahami artinya adalah hal yang berbeda. Sama seperti pengalaman Andre yang awalnya hanya memahami arti Nutri-Level secara umum sebelum menggali informasi lebih dalam, atau Jihan yang bahkan tidak pernah mendengar istilah tersebut.

Di tengah perbedaan pemahaman itu, sebenarnya apa maksud dari empat tingkatan Nutri-Level tersebut? 

Salah seorang ahli gizi, Reni Novia, menjelaskan bahwa Nutri-Level diciptakan sebagai sarana bantu agar konsumen bisa melihat informasi gizi dengan lebih mudah dan cepat. Huruf dan warna pada label membantu menunjukkan berapa banyak GGL yang terkandung, yang menjadi dasar untuk menentukan tingkatnya.  

Mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/301/2026, penentuan Nutri-Level didasarkan pada kandungan GGL per 100 mL pangan olahan siap saji berupa minuman. Ketiga kandungan ini menjadi dasar untuk membagi minuman ke dalam 4 kategori tingkatan, yaitu A,B,C, dan D.

Sumber: badankebijakan.kemkes.go.id
Sumber: badankebijakan.kemkes.go.id

 

Menurut Reni, Nutri-Level pada dasarnya dibuat sebagai alat bantu agar konsumen dapat melihat informasi gizi dengan lebih cepat. Warna dan huruf pada label membantu konsumen mendapatkan gambaran mengenai kandungan GGL dalam sebuah minuman. Dengan begitu, semakin rendah levelnya, semakin rendah pula kandungan zat gizi yang menjadi dasar penilaian Nutri-Level.

Namun, mudah dikenali bukan berarti otomatis mudah dipahami. Konsumen tetap perlu mengetahui apa yang membedakan setiap tingkatan dan bagaimana informasi tersebut berkaitan dengan kandungan dalam minuman yang mereka pilih. 

"Kalau untuk keputusan cepat, label ini memang membantu konsumen memilih, misalnya antara A dan B. Tapi untuk keputusan jangka panjang, edukasinya masih sangat dibutuhkan. Bukan cuma soal hafal huruf A, B, C, atau D, tapi juga tahu seberapa banyak gula di dalamnya dan berapa porsi yang aman dalam sehari. Nggak serta-merta minuman level A itu bebas kita minum sampai berkali-kali atau sepuluh cup sehari, nggak bisa seperti itu," tegas Reni.  

Di sinilah letak pentingnya edukasi porsi dan frekuensi yang ditekankan oleh Reni. Jika seseorang meminum minuman berlabel aman (level A atau B sekalipun) secara berulang kali dalam sehari hingga empat atau lima porsi, akumulasi gulanya tetap berpotensi melewati angka keramat 50 gram tersebut. Belum lagi jika ditambah sumber karbohidrat dan gula tersembunyi dari asupan harian lain, seperti nasi putih atau camilan kemasan. Sebaliknya, akan lebih aman jika hanya sesekali mengonsumsi minuman berlabel C atau D.Kuncinya ada pada pengendalian diri konsumen untuk tidak lagi menambah asupan manis dari makanan lain pada hari yang sama. 

Pada akhirnya, Nutri-Level digunakan untuk membantu masyarakat memilih produk. Namun pertanyaannya seberapa efektif label ini bekerja jika tingkat pemahaman konsumen di lapangan masih minim?. Dengan demikian, pertanyaan mengenai Nutri-Level bukan hanya soal apakah label tersebut sudah ada atau belum. Hal yang tidak kalah penting adalah apakah konsumen memahami informasi yang diberikan. Sebab, sebuah label tidak akan banyak membantu jika konsumen hanya melihat warna dan hurufnya tanpa mengetahui apa arti di baliknya. 

Dari sekian banyak pilihan yang terpampang di menu, mungkin pertanyaannya bukan lagi sekadar, “Mau pesan apa ya hari ini?” tetapi juga, “label mana yang sebenarnya masih aman untuk tubuhku hari ini? ” (Putri Theresia / Rakhel Claudia Hulu)

Editor : Redaksi
Kemenkes RI Minuman Kekinian Nutri-Level Literasi Gizi Kandungan Gula