Jangan Asal Pesan! Ternyata Ini yang Bikin Makanan Delivery Kurang Sehat

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 11:26 WIB
Pesan makanan melalui aplikasi. (ilustrasi/Freepik)
Pesan makanan melalui aplikasi. (ilustrasi/Freepik)

 

Sumutpos.jawapos.com-Pesan makanan lewat aplikasi sudah menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Praktis, cepat, dan menjadi solusi ketika waktu untuk memasak sangat terbatas.

Namun, makanan pesan-antar kerap dianggap otomatis lebih tidak sehat dibandingkan masakan sendiri. Benarkah demikian?

Dilansir dari RBC.ukraina, seprang ahli gizi Yuliia Drahulova menjelaskan, persoalannya bukan semata-mata pada bagaimana makanan diperoleh, melainkan apa yang dimakan, seberapa sering, serta bagaimana komposisi makanan tersebut.

Bukan Berarti Delivery Selalu Tak Sehat

Memasak sendiri memang memberikan kendali lebih besar terhadap bahan makanan. Jumlah minyak, garam, saus hingga ukuran porsi dapat diatur sesuai kebutuhan.

Sebaliknya, ketika membeli makanan jadi, konsumen sering kali tidak mengetahui secara pasti berapa banyak minyak, garam atau saus yang digunakan selama proses memasak.

“Ketika kita memasak di rumah, lebih mudah bagi kita mengontrol jumlah minyak, garam, saus dan ukuran porsinya,” jelas Drahulova.

Baca Juga: Catat Tanggalnya! 12 Zodiak Disebut Punya Momen Spesial di Oktober 2026

Artinya, makanan yang terlihat sederhana sekalipun bisa memiliki kandungan kalori lebih tinggi jika menggunakan minyak atau saus dalam jumlah besar.

Meski begitu, kondisi tersebut bukan berarti semua makanan pesan-antar harus dihindari.

Kuncinya Ada di Isi Piring

Menurut Drahulova, makanan delivery tetap bisa menjadi bagian dari pola makan yang seimbang. Yang perlu diperhatikan adalah cara memilih menu.

Satu kali makan idealnya tetap mengandung beberapa komponen penting, terutama sumber protein, sayuran dan sumber karbohidrat seperti nasi, kentang atau biji-bijian.

Kombinasi tersebut dapat membantu membuat makanan lebih lengkap dibandingkan hanya memilih satu jenis makanan yang tinggi karbohidrat atau lemak.

Sementara itu, saus tambahan dan minuman manis tidak harus selalu menjadi bagian dari setiap pesanan. Mengurangi tambahan tersebut dapat membantu menjaga keseimbangan asupan secara keseluruhan.

Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar masakan rumah versus makanan delivery. Yang jauh lebih menentukan adalah komposisi makanan dan pola makan secara keseluruhan.

Jangan Terjebak Porsi Besar

Ukuran porsi juga menjadi hal yang tak kalah penting.

Makanan pesan-antar terkadang datang dalam porsi lebih besar daripada kebutuhan seseorang dalam sekali makan. Kondisi ini tidak berarti seluruh makanan harus langsung dihabiskan.

Sebagian makanan dapat disimpan untuk waktu makan berikutnya, selama penyimpanannya dilakukan dengan aman dan sesuai jenis makanannya.

Cara tersebut juga membantu menghindari kebiasaan makan berlebihan hanya karena merasa harus menghabiskan seluruh makanan yang sudah dipesan.

Tak Perlu Terobsesi Mencari Menu Sempurna

Pada akhirnya, pola makan sehat tidak ditentukan oleh satu kali makan.

Satu porsi makanan yang kurang ideal tidak serta-merta membuat keseluruhan pola makan menjadi buruk. Sebaliknya, makanan yang dianggap sehat juga tidak otomatis membuat pola makan seseorang seimbang jika dikonsumsi tanpa memperhatikan variasi dan kebutuhan tubuh.

Baca Juga: Sumut Pos Rayakan HUT ke-25, Momentum Refleksi di Tengah Disrupsi Digital

Karena itu, makanan delivery tetap bisa menjadi pilihan praktis di tengah kesibukan. Kuncinya adalah lebih cermat melihat bahan dan komposisi makanan, memperhatikan ukuran porsi, serta menjaga keberagaman menu dari waktu ke waktu.

Jadi, bukan soal memasak sendiri atau memesan makanan, melainkan bagaimana pilihan makanan tersebut menjadi bagian dari pola makan yang lebih seimbang. (net/han)

Editor : Johan Panjaitan
delivery kurang sehat ahli gizi makanan