Sumutpos.jawapos.com-Terkejut ketika mendengar suara keras atau bunyi mendadak merupakan respons alami tubuh. Jantung berdebar, tubuh tersentak, atau refleks menoleh secara spontan merupakan bagian dari mekanisme tubuh untuk menghadapi sesuatu yang dianggap mengancam.
Namun, bagaimana jika reaksi tersebut terasa jauh lebih kuat dari biasanya?
Suara pintu terbanting, klakson, benda jatuh, atau teriakan yang sebenarnya biasa saja bisa membuat seseorang melompat kaget, jantung berdegup cepat, bahkan merasa sangat tidak nyaman.
Kepekaan terhadap suara tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan saraf. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi banyak faktor, mulai dari stres, kecemasan, kurang tidur, konsumsi kafein hingga pengalaman traumatis.
Karena itu, penting melihat kondisi secara menyeluruh, terutama jika sensitivitas terhadap suara muncul terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: Rocky Gerung Jadi Wantimpres, Netizen Terbelah: Ada yang Dukung, Ada yang Sindir
Dilansir dari jawapos.com, berikut sejumlah kondisi dan faktor yang dapat membuat tubuh lebih mudah terkejut atau sensitif terhadap rangsangan suara.
1. Hiperarousal, Tubuh Terus Berada dalam Mode Siaga
Hiperarousal menggambarkan kondisi ketika tubuh dan pikiran berada dalam keadaan sangat waspada dalam waktu lama.
Dalam kondisi ini, sistem saraf dapat lebih mudah merespons berbagai rangsangan. Suara mendadak yang biasanya dianggap biasa bisa terasa jauh lebih mengganggu dan memicu respons tubuh yang lebih kuat.
Hiperarousal dapat berkaitan dengan kecemasan, stres berat, maupun pengalaman traumatis. Seseorang mungkin juga mengalami ketegangan tubuh, sulit rileks, gangguan tidur, dan lebih mudah tersentak.
2. Hipervigilansi, Terlalu Waspada terhadap Lingkungan
Hipervigilansi merupakan keadaan ketika seseorang terus-menerus memindai lingkungan untuk mencari kemungkinan ancaman.
Kewaspadaan yang berlebihan dapat membuat suara atau gerakan mendadak terasa lebih mengancam. Akibatnya, refleks terkejut bisa menjadi lebih kuat.
Baca Juga: Sabam Sibarani Mendaftar Calon Ketua DPD II Partai Golkar Dairi
Kondisi ini dapat muncul pada orang yang mengalami kecemasan atau pernah menghadapi pengalaman traumatis. Jika berlangsung lama, hipervigilansi juga dapat membuat seseorang sulit merasa tenang dan nyaman dalam lingkungan sosial.
3. PTSD dan Jejak Trauma
Pengalaman traumatis dapat memengaruhi cara otak merespons berbagai rangsangan.
Pada orang dengan gangguan stres pascatrauma atau PTSD, suara tertentu bahkan dapat menjadi pemicu yang mengingatkan mereka pada pengalaman traumatis. Suara keras atau mendadak kemudian dapat memunculkan respons seperti tersentak, jantung berdebar, berkeringat, atau merasa kembali berada dalam situasi berbahaya.
PTSD dapat berkaitan dengan berbagai pengalaman traumatis, termasuk kecelakaan, kekerasan, bencana, maupun peristiwa lain yang mengancam keselamatan.
Baca Juga: Polda Sumut Ungkap Puluhan Kasus Curas-Curat, 44 Tersangka Diciduk
Jika reaksi tersebut terus berulang dan mengganggu kehidupan sehari-hari, evaluasi oleh psikolog atau psikiater dapat membantu menentukan penanganan yang sesuai.
4. Gangguan Kecemasan
Kecemasan yang berlangsung terus-menerus juga dapat membuat tubuh berada dalam kondisi lebih waspada.
Ketika pikiran dipenuhi kekhawatiran, tubuh dapat lebih cepat merespons rangsangan dari lingkungan. Suara mendadak pun bisa memicu respons terkejut yang lebih kuat.
Pada gangguan kecemasan umum atau Generalized Anxiety Disorder (GAD), kekhawatiran berlebihan biasanya berlangsung dalam waktu lama dan sulit dikendalikan.
Baca Juga: Grand Mercure Medan Angkasa Rayakan Hari Batik Nasional
Sensitivitas terhadap suara bukanlah tanda tunggal untuk mendiagnosis GAD. Namun, jika mudah terkejut disertai rasa cemas berlebihan, ketegangan, sulit tidur, atau sulit berkonsentrasi, kondisi tersebut layak dibicarakan dengan tenaga kesehatan.
5. Terlalu Banyak Kafein
Bukan hanya kondisi psikologis yang dapat membuat tubuh lebih reaktif. Asupan kafein yang berlebihan juga dapat berperan.
Kafein merupakan stimulan yang dapat meningkatkan kewaspadaan. Pada sebagian orang, konsumsi terlalu banyak dapat menyebabkan jantung berdebar, gelisah, gugup, dan sulit tidur.
Ketika tubuh berada dalam kondisi terlalu terstimulasi, seseorang mungkin merasa lebih sensitif terhadap berbagai rangsangan di sekitarnya.
Karena itu, perhatikan jumlah kopi, teh, minuman energi, atau produk berkafein lainnya yang dikonsumsi, terutama jika keluhan muncul setelah mengonsumsinya.
6. Kurang Tidur
Tidur bukan sekadar waktu untuk memejamkan mata. Selama tidur, tubuh dan otak menjalankan berbagai proses pemulihan.
Kurang tidur dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengatur emosi dan merespons rangsangan. Akibatnya, seseorang bisa menjadi lebih mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, dan merasa lebih reaktif terhadap lingkungan.
Jika akhir-akhir ini Anda sering begadang dan mulai merasa lebih mudah terkejut oleh suara, memperbaiki pola tidur dapat menjadi salah satu langkah awal.
Usahakan memiliki jadwal tidur dan bangun yang teratur serta memberikan waktu istirahat yang cukup sesuai kebutuhan tubuh.
7. Stres Berkepanjangan
Stres sesekali merupakan bagian dari kehidupan. Namun, stres yang berlangsung terus-menerus dapat membuat tubuh berada dalam keadaan waspada lebih lama.
Sistem respons stres melibatkan berbagai perubahan pada tubuh, termasuk peningkatan hormon seperti kortisol dan adrenalin. Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat membuat seseorang merasa lebih tegang dan mudah bereaksi terhadap rangsangan.
Baca Juga: Sempat Crash, Vega Ega Posisi 18 di Kualifikasi Moto3 Jepang 2026
Karena itu, ketika tubuh tiba-tiba menjadi jauh lebih sensitif terhadap suara, jangan hanya memperhatikan kondisi telinga. Evaluasi pula kualitas tidur, tingkat stres, konsumsi kafein, serta kondisi emosional beberapa waktu terakhir.
Kapan Perlu Berkonsultasi?
Mudah terkejut sesekali bukan berarti ada masalah serius. Respons tersebut merupakan bagian normal dari mekanisme pertahanan tubuh.
Namun, sebaiknya jangan mengabaikan keluhan jika sensitivitas terhadap suara muncul terus-menerus, semakin berat, disertai gangguan pendengaran, telinga berdenging, pusing, sakit kepala, kecemasan berat, atau mulai mengganggu pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
Dalam kondisi seperti itu, pemeriksaan dokter dapat membantu mencari penyebab yang sebenarnya.
Sensitif terhadap suara bukan diagnosis tunggal. Di balik keluhan tersebut bisa terdapat berbagai faktor yang saling berkaitan.(jpc/han)
Editor : Johan Panjaitan