Bukan Biohacking! 5 Kebiasaan Sederhana Ini Ternyata Lebih Ampuh Bantu Perlambat Penuaan

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 11:00 WIB
Kurang tidur dan tidak menjaga pola makan berdampak mempercepat penuaan.(ilustrasi/Sumut Pos)
Kurang tidur dan tidak menjaga pola makan berdampak mempercepat penuaan.(ilustrasi/Sumut Pos)

 
 Sumutpos.jawapos.com-Penuaan tidak datang seperti tombol yang tiba-tiba ditekan ketika seseorang memasuki usia 30 tahun. Namun, setelah usia tersebut, sebagian orang mulai merasakan perubahan kecil yang sebelumnya tidak terlalu mengganggu.

Kurang tidur, misalnya, bisa membuat tubuh terasa lebih cepat lelah. Kulit membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih setelah stres. Menjaga kebugaran juga dapat terasa lebih menantang ketika aktivitas fisik mulai berkurang.

Perubahan tersebut merupakan bagian dari proses biologis yang berlangsung secara bertahap. Karena itu, memasuki usia 30 bukan berarti tubuh mendadak mengalami penurunan drastis.

Baca Juga: Cristiano Ronaldo Batal Pensiun dari Timnas Portugal, Akui Salah Tinggalkan Skuad

Dilansir dari RBC.ukraina, seorang dokter Olha But, PhD in Medicine sekaligus kepala AM System, menjelaskan bahwa perubahan respons tubuh terhadap tidur, stres, aktivitas fisik, dan pola makan dapat mulai lebih terasa seiring bertambahnya usia.

Setelah 30, Tubuh Mulai Menuntut Perhatian Lebih

Salah satu perubahan yang mungkin dirasakan adalah kemampuan tubuh untuk pulih.

Setelah mengalami stres atau beberapa malam kurang tidur, misalnya, sebagian orang membutuhkan waktu lebih panjang untuk kembali merasa bugar. Kondisi kulit juga dapat ikut terpengaruh.

Komposisi tubuh perlahan berubah seiring bertambahnya usia. Rasio massa otot dan lemak dapat bergeser, terutama jika seseorang semakin jarang bergerak.

Akibatnya, mempertahankan tingkat kebugaran yang sama seperti ketika masih muda membutuhkan usaha lebih besar.

Perubahan energi juga bisa terasa. Kurang tidur berkepanjangan, stres tinggi, dan minim aktivitas fisik dapat membuat seseorang lebih mudah merasa lelah.

Baca Juga: Indonesia Diproyeksikan Jadi Negara dengan Pertumbuhan Orang Super Kaya Tercepat

Namun, faktor tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh usia.

Justru kebiasaan sehari-hari memiliki peran besar dalam menentukan bagaimana tubuh menghadapi proses penuaan.

Jangan Mudah Terjebak Tren Anti-Aging

Keinginan untuk terlihat dan merasa lebih muda membuat berbagai metode anti-aging semakin populer.

Mulai dari suplemen, infus yang diklaim dapat meningkatkan vitalitas, program detoks hingga diet jus, semuanya menawarkan janji untuk membantu tubuh tetap prima.

Masalahnya, tidak semua tren tersebut memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Olha But mengingatkan agar penggunaan suplemen tidak dilakukan secara sembarangan. Suplemen memang dapat bermanfaat dalam kondisi tertentu, tetapi penggunaannya sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan seseorang.

Mengonsumsi terlalu banyak zat tertentu tanpa indikasi juga berpotensi menimbulkan masalah.

Hal serupa berlaku untuk program detoks.

Pada orang sehat, belum terdapat cukup bukti ilmiah bahwa diet jus atau program detoks tertentu mampu “membersihkan racun” dari tubuh seperti yang sering diklaim.

Baca Juga: Pembebasan Bersyarat Indra Kenz Direkomendasikan Dicabut, Ini Temuan Kemenimipas

Sebaliknya, pola makan yang terlalu ketat justru dapat membuat tubuh kekurangan asupan penting.

Perawatan Kulit Bukan Pengganti Gaya Hidup Sehat

Perawatan kosmetik tetap memiliki tempat. Prosedur tertentu dapat membantu memperbaiki tampilan kulit dan membuat seseorang merasa lebih percaya diri.

Namun, perawatan dari luar tidak bisa menggantikan kebutuhan dasar tubuh.

Tidur yang cukup, aktivitas fisik, pola makan seimbang dan pemeriksaan kesehatan secara berkala tetap menjadi fondasi yang jauh lebih penting.

“Peremajaan tidak dimulai dengan obat-obatan atau prosedur. Peremajaan dimulai dengan memahami apa yang sedang terjadi di tubuh Anda saat ini,” kata Olha But.

Pesannya sederhana: jangan hanya mengejar penampilan ketika kesehatan tubuh justru diabaikan.

Lima Kebiasaan yang Lebih Masuk Akal

Jika ingin memperlambat dampak penuaan, pendekatan yang paling masuk akal justru tidak selalu terlihat spektakuler.

Pertama, pertahankan massa otot.

Jangan menjadikan angka timbangan sebagai satu-satunya ukuran kebugaran. Aktivitas fisik secara rutin, terutama latihan kekuatan, penting untuk mempertahankan massa otot.

Otot berperan dalam daya tahan tubuh, metabolisme, hingga kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari.

Kedua, penuhi kebutuhan nutrisi.

Pola makan sebaiknya tidak hanya berorientasi pada pembatasan kalori. Tubuh membutuhkan protein berkualitas, sayuran, buah, lemak sehat, serat, serta berbagai mikronutrien.

Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Pekerja Ojol Ikut Dilindungi

Ketiga, jangan menunggu sakit untuk memeriksakan kesehatan.

Sejumlah perubahan dalam tubuh dapat berlangsung tanpa menimbulkan gejala yang jelas. Pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat membantu mendeteksi masalah lebih awal.

Keempat, kendalikan faktor yang mempercepat penuaan.

Tidur cukup, rutin bergerak, menjaga pola makan, berhenti merokok, membatasi alkohol, serta mengelola penyakit kronis memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan jangka panjang.

Langkah-langkah sederhana tersebut mungkin tidak sepopuler tren biohacking. Namun, dampaknya terhadap kesehatan jauh lebih mendasar.

Kelima, jangan asal mengikuti protokol orang lain.

Tubuh setiap orang memiliki kebutuhan berbeda. Program kesehatan yang berhasil pada seseorang belum tentu memberikan hasil serupa pada orang lain.

Karena itu, pendekatan yang personal jauh lebih masuk akal dibandingkan mengikuti setiap tren anti-aging yang sedang viral.

Pada akhirnya, memperlambat dampak penuaan bukan soal mencari satu pil, prosedur, atau metode ajaib.

Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan yang mampu menjaga tubuh tetap kuat, aktif dan sehat dalam jangka panjang.

Biohacking boleh menjadi pilihan, tetapi fondasi kesehatan tetap sama: tidur cukup, bergerak, makan dengan baik, melakukan pencegahan, dan memahami kebutuhan tubuh sendiri.(net/han)

Editor : Johan Panjaitan
aktivitas fisik kulit penuaan tubuh kurang tidur