Sumutpos.jawapos.com-Istilah narsistik kerap digunakan untuk menggambarkan seseorang yang egois, gemar mencari perhatian, atau sulit menerima kritik. Namun, mengenali perilaku narsistik tidak sesederhana menilai kepribadian seseorang dari satu ekspresi wajah.
Meski begitu, sejumlah perubahan ekspresi, terutama pada tatapan mata dan senyum, kerap menjadi perhatian ketika seseorang berhadapan dengan individu yang diduga gemar memanipulasi emosi orang lain.
Mengutip artikel YourTango yang ditulis John Sundholm dan diperbarui pada 11 Oktober 2026, hipnoterapis klinis Doug Womack membagikan lima ekspresi yang menurut pengamatannya dapat muncul dalam interaksi dengan orang yang menunjukkan perilaku manipulatif atau narsistik.
Baca Juga: Wargabinaan Lapas Binjai Tekun Kembangkan Keterampilan
Namun, penting dipahami bahwa ekspresi wajah bukan alat diagnosis gangguan kepribadian narsistik. Tatapan mata maupun senyuman seseorang dapat dipengaruhi banyak faktor dan tidak bisa dijadikan bukti tunggal untuk menilai kepribadiannya.
1. Senyum Menyeringai saat Orang Lain Terluka
Salah satu ekspresi yang disoroti adalah senyum menyeringai atau smirk, terutama ketika seseorang tampak puas melihat orang lain merasa tersakiti.
Menurut Womack, ekspresi tersebut dapat muncul dalam interaksi yang melibatkan manipulasi emosional. Seseorang mungkin terlihat menikmati situasi ketika perkataan atau tindakannya berhasil memancing reaksi negatif dari orang lain.
Dalam hubungan yang tidak sehat, perilaku semacam ini perlu diperhatikan apabila disertai kebiasaan merendahkan, mempermalukan, atau sengaja menyakiti perasaan orang lain.
Baca Juga: Ronaldo Terancam Absen dari Timnas Portugal, FPF Jatuhkan Skorsing Sementara
Meski demikian, senyum menyeringai saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang memiliki kepribadian narsistik. Konteks dan pola perilakunya jauh lebih penting.
2. Tatapan Kosong yang Terasa Dingin
Ekspresi kedua adalah tatapan kosong yang terkesan dingin dan tidak menunjukkan respons emosional yang diharapkan.
Womack menggambarkan tatapan tersebut seperti seseorang yang terlihat tidak terhubung secara emosional dengan lawan bicaranya. Dalam situasi tertentu, ekspresi semacam ini dapat membuat orang lain merasa diabaikan atau tidak didengarkan.
Namun, tatapan kosong tidak selalu menandakan manipulasi atau kurangnya empati. Seseorang bisa menunjukkan ekspresi serupa karena sedang lelah, melamun, mengalami tekanan, atau memiliki gaya komunikasi yang berbeda.
Baca Juga: Antisipasi Banjir Akhir 2026, BPBD Medan Tambah Perahu Karet dan Siaga Pantau Hulu
Karena itu, penilaian sebaiknya tidak berhenti pada tatapan mata. Perhatikan apakah orang tersebut secara konsisten mengabaikan perasaan orang lain atau menolak memahami dampak tindakannya.
3. Tatapan Berbinar saat Berhasil Memancing Emosi
Ekspresi berikutnya adalah tatapan mata yang tampak berbinar ketika seseorang berhasil membuat orang lain kesal, marah, atau kehilangan kendali.
Menurut Womack, ekspresi itu bisa terlihat ketika seseorang seolah menikmati reaksi emosional yang berhasil dipancingnya.
Dalam hubungan interpersonal, perilaku memprovokasi dapat menjadi masalah apabila dilakukan berulang kali untuk mempermalukan, mengendalikan, atau membalikkan keadaan sehingga pihak yang terpancing justru disalahkan.
Contohnya, seseorang sengaja melontarkan komentar menyakitkan, terus memancing pertengkaran, lalu menggunakan kemarahan lawan bicaranya sebagai alasan untuk menyebut orang tersebut bermasalah.
Pola seperti ini lebih layak mendapat perhatian daripada sekadar menafsirkan kilau mata. Perilaku yang berulang dan dampaknya terhadap hubungan merupakan petunjuk yang lebih relevan.
4. Menghindari Kontak Mata saat Berkomunikasi
Menghindari kontak mata juga disebut sebagai salah satu ekspresi yang perlu diperhatikan dalam interaksi dengan orang yang diduga manipulatif.
Dalam situasi tertentu, seseorang mungkin menghindari tatapan ketika lawan bicara menyampaikan perasaan atau meminta pertanggungjawaban. Jika disertai sikap meremehkan dan penolakan untuk mendengarkan, perilaku tersebut dapat membuat komunikasi terasa tidak seimbang.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Mengintai Sumut, BMKG Peringatkan Ancaman Banjir dan Longsor
Akan tetapi, menghindari kontak mata bukan tanda khusus narsisme. Rasa malu, kecemasan, perbedaan budaya, ketidaknyamanan, dan karakter pribadi dapat memengaruhi cara seseorang menatap lawan bicara.
Oleh sebab itu, yang lebih penting adalah bagaimana seseorang merespons pembicaraan. Apakah ia tetap berusaha memahami, menghormati, dan menjawab persoalan yang disampaikan, atau justru terus mengabaikan kebutuhan orang lain?
5. Tatapan Tampak Mengintimidasi saat Marah
Ekspresi terakhir yang dibahas Womack adalah perubahan tatapan ketika seseorang sedang marah. Matanya digambarkan seolah menggelap, dengan sorot yang terasa mengintimidasi.
Dalam konflik yang memanas, perubahan ekspresi wajah dan tatapan memang dapat membuat lawan bicara merasa terancam. Namun, anggapan bahwa mata seseorang secara harfiah berubah menjadi hitam bukan indikator klinis narsisme.
Hal yang perlu diperhatikan adalah perilaku yang menyertai kemarahan tersebut. Ancaman, intimidasi, penghinaan, tindakan agresif, atau upaya sengaja menimbulkan ketakutan merupakan persoalan serius yang tidak boleh diabaikan.
Jika seseorang berulang kali menggunakan kemarahan untuk mengendalikan orang lain, menjaga jarak dan mencari dukungan dari orang tepercaya dapat menjadi langkah yang bijak.
Bukan Sekadar Ekspresi, Perhatikan Pola Perilaku
Mengenali perilaku narsistik membutuhkan pengamatan yang lebih menyeluruh daripada membaca ekspresi wajah. Senyuman, tatapan kosong, atau kebiasaan menghindari kontak mata tidak dapat digunakan secara mandiri untuk menentukan apakah seseorang mengalami gangguan kepribadian narsistik.
Baca Juga: Deden Prayoga Dorong Anak Muda Berkarya, Perkuat Pemberdayaan dan Ekonomi Kreatif
Hal yang lebih penting adalah pola perilaku dalam jangka panjang, seperti merasa berhak mendapat perlakuan istimewa, terus-menerus membutuhkan kekaguman, merendahkan orang lain, mengeksploitasi hubungan, atau kesulitan mempertimbangkan perasaan orang lain.
Perilaku manipulatif juga dapat muncul tanpa adanya gangguan kepribadian tertentu. Karena itu, seseorang tidak perlu memberikan label psikologis untuk mengakui bahwa suatu hubungan terasa menyakitkan atau tidak sehat.
Jika menghadapi situasi seperti ini, tetapkan batasan yang jelas, perhatikan dampak hubungan terhadap kesejahteraan diri, dan carilah bantuan profesional apabila diperlukan.(net/han)
Editor : Johan Panjaitan