Sumutpos.jawapos.com-Air minum yang terlihat jernih belum tentu bebas dari zat berbahaya. Karena itu, setiap rumah tangga perlu memahami sumber air, memilih metode pemurnian yang tepat, menjaga kebersihan tempat penyimpanan, hingga melakukan pengujian kualitas air secara berkala.
Akses terhadap air bersih memang terus meningkat. Namun, tersedianya sambungan air bukan jaminan bahwa kualitas air yang dikonsumsi masyarakat selalu aman. Pencemaran dapat terjadi akibat kondisi pipa yang sudah tua, kebocoran, hingga kontaminasi air tanah.
Dilansir dari The daily jagran, sejumlah zat berbahaya, seperti arsenik, fluorida, nitrat, dan logam berat, bahkan tidak selalu mengubah warna, rasa, maupun aroma air. Artinya, mengandalkan pengamatan mata saja tidak cukup untuk memastikan air minum aman dikonsumsi.
Baca Juga: Lyon vs Crystal Palace: Pierre Sage Siap Bikin Kejutan
Padahal, air dengan kualitas buruk berpotensi memicu berbagai penyakit, mulai dari diare dan disentri hingga tifoid dan kolera. Karena itu, menjaga keamanan air minum harus menjadi kebiasaan setiap keluarga, bukan sekadar mengandalkan alat penyaring yang terpasang di rumah.
5 Hal Penting untuk Memastikan Air Minum Tetap Aman
1. Kenali Sumber Air Sebelum Memilih Penyaring
Setiap sumber air memiliki karakteristik dan potensi pencemaran yang berbeda. Air dari jaringan perpipaan, sumur, maupun sumber air lainnya membutuhkan perhatian sesuai kondisi masing-masing.
Pipa yang menua, kebocoran, dan sambungan yang tidak sesuai dapat memengaruhi kualitas air sebelum sampai ke keran rumah. Oleh sebab itu, pemilihan alat pemurni air sebaiknya didasarkan pada kondisi sumber air, bukan hanya mengikuti tren atau rekomendasi umum.
Jika air tiba-tiba berubah warna, rasa, atau bau, jangan langsung menganggapnya sebagai perubahan biasa. Laporkan kondisi tersebut kepada pengelola layanan air atau instansi terkait agar dapat diperiksa lebih lanjut.
2. Jangan Lupa Mengganti Filter Air
Memasang alat pemurni air bukan berarti persoalan kualitas air selesai. Kinerja alat tersebut sangat bergantung pada pemeliharaan, termasuk penggantian elemen filter sesuai jadwal yang dianjurkan produsen.
Filter yang melewati masa pakai dapat kehilangan efektivitasnya. Masalahnya, penurunan kinerja itu belum tentu terlihat dari perubahan rasa, warna, atau kejernihan air.
Baca Juga: Ekonomi Vietnam Melaju 9,95 Persen, Jauh Tinggalkan Indonesia
Karena itu, setiap rumah tangga perlu mencatat jadwal penggantian filter dan melakukan perawatan secara berkala. Jangan menunggu air berubah rasa atau berbau untuk memeriksa kondisi alat pemurni.
3. Simpan Air dalam Wadah yang Bersih dan Tertutup
Air yang telah dimurnikan tetap berisiko terkontaminasi apabila disimpan dengan cara yang tidak tepat. Wadah yang kotor, tangan yang tidak bersih, atau tempat penyimpanan yang dibiarkan terbuka dapat mengurangi kualitas air.
Gunakan wadah bersih yang memang diperuntukkan bagi penyimpanan air minum. Pastikan wadah tertutup dan dibersihkan secara teratur. Hindari mencelupkan gelas atau tangan yang belum bersih langsung ke dalam tempat penyimpanan.
Baca Juga: Kapolres Sergai Sambangi Yayasan Cahaya Hati Kemanusiaan, Beri Dukungan bagi Lansia dan ODGJ
Pemeliharaan kualitas air juga perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sumbernya, proses pemurnian, hingga cara penyimpanan. Memiliki alat penyaring saja tidak cukup jika kebersihan setelah proses penyaringan diabaikan.
4. Jangan Mudah Percaya Klaim Produk Pemurni Air
Beragam produk pemurni air menawarkan klaim mampu menyaring berbagai jenis kontaminan. Namun, konsumen perlu memeriksa bukti pengujian dan kemampuan teknis produk sebelum memutuskan untuk membeli.
Pilih produk yang memiliki informasi jelas mengenai jenis kontaminan yang dapat dikurangi, metode pengujian, serta standar yang digunakan. Jika memungkinkan, periksa hasil pengujian dari laboratorium independen yang menggunakan metode ilmiah yang diakui.
Baca Juga: AC Milan dalam Tekanan, Salzburg Siap Lanjutkan Tren Gila di Liga Europa
Alat pengukur total padatan terlarut atau total dissolved solids (TDS) juga dapat membantu memantau perubahan kadar zat terlarut dalam air. Meski demikian, angka TDS yang rendah tidak otomatis membuktikan air bebas dari bakteri, logam berat, pestisida, atau kontaminan berbahaya lainnya.
Dengan kata lain, hasil pengukuran TDS tidak dapat menggantikan pengujian laboratorium untuk mengetahui keamanan air secara menyeluruh.
5. Uji Kualitas Air Secara Berkala
Salah satu tantangan terbesar dalam menjaga keamanan air adalah keberadaan kontaminan yang tidak dapat dikenali melalui indra manusia. Logam berat dan residu pestisida, misalnya, dapat berada di dalam air tanpa menimbulkan perubahan warna, rasa, maupun bau yang jelas.
Risiko ini perlu menjadi perhatian, terutama bagi rumah tangga yang menggunakan air tanah atau tinggal di wilayah dengan riwayat masalah kualitas air.
Pengujian laboratorium dapat membantu mengidentifikasi kandungan tertentu yang tidak dapat diketahui hanya melalui pemeriksaan sederhana. Pemeriksaan sebaiknya disesuaikan dengan sumber air dan risiko pencemaran di lingkungan setempat.
Sebagai langkah awal, pengujian air minum secara berkala dapat dipertimbangkan. Frekuensi dan jenis pemeriksaan perlu mengikuti kondisi sumber air, rekomendasi otoritas kesehatan atau lingkungan, serta standar yang berlaku. Pemeriksaan tambahan mungkin diperlukan setelah banjir, gangguan jaringan perpipaan, atau perubahan kualitas air yang mencurigakan.
Berapa pH Air Minum yang Ideal?
Rentang pH 6,5–8,5 kerap digunakan sebagai acuan untuk menilai karakteristik pH air minum. Namun, pH bukan satu-satunya indikator keamanan air. Air dengan pH yang berada dalam rentang tersebut belum tentu bebas dari mikroorganisme maupun zat kimia berbahaya.
Sebaliknya, hasil pemeriksaan yang menunjukkan air jernih juga tidak cukup untuk memastikan air tersebut layak dikonsumsi.
Baca Juga: Gagal Edarkan Sabu di Binjai, Pria Asal Deliserdang Terancam Hukuman Berat
Karena itu, penilaian kualitas air perlu mempertimbangkan berbagai parameter, termasuk kondisi mikrobiologis dan kandungan kimianya. Pemeriksaan yang sesuai akan memberikan gambaran lebih akurat dibandingkan hanya mengandalkan tampilan air atau satu angka pengukuran.
Kebiasaan Sederhana untuk Melindungi Keluarga
Menjaga keamanan air minum tidak harus dimulai dengan langkah yang rumit. Rumah tangga dapat memulainya dengan mengenali sumber air, merawat alat pemurni, menjaga kebersihan wadah penyimpanan, serta memperhatikan perubahan kualitas air.
Jika ditemukan perubahan warna, bau, atau rasa yang tidak biasa, hentikan sementara konsumsi air tersebut sampai penyebabnya diketahui. Hubungi penyedia layanan air atau instansi berwenang untuk mendapatkan arahan dan pemeriksaan yang diperlukan.(net/han)
Editor : Johan Panjaitan