Foto Sinari boru Tumanggor, mahasiswi Akbid Doloksanggul yang hilang, diduga diculik pria ngaku aparat kenalannya via facebook.
MEDAN, SUMUTPOS.CO - Baru dua bulan tinggal di Medan, H Sinari boru Tumanggor (19) mahasiswi salah satu Akademi Kebidanan (Akbid) di Dolok Sanggul, Kecamatan Humbahas menghilang selama 6 hari. Kuat dugaan korban diculik seorang pria ngaku aparat yang ia kenal via jejaring sosial facebook.
Kasus ini terungkap saat Domma boru Tumanggor dan sepupunya Handika S Tumanggor mengadu ke Polsek Percut Sei Tuan, Jumat (34) siang. Dengan wajah panik, keduanya mengaku korban yang biasa disapa Nari itu tak pulang ke rumah sejak Sabtu (28/3) sore.
Saat ditemui, Domma mengaku dua bulan lalu Nari datang untuk melanjutkan kuliahnya di Medan. Selama di sini ia numpang tinggal di rumah abang sepupunya, Handika di Jalan Pancing 1, Kelurahan Indra Kasih, Kecamatan Medan Tembung.
Sabtu sore itu, Nari yang berasal dari Dusun Onggol, Desa Terabintang,Kecamatan Terabintang Humbahas itu, permisi dari rumah Handika dengan dalih ingin berkunjung ke rumah kakaknya (Domma-red) di Jalan HM Yamin/Serdang, Medan Timur.
Namun di tengah perjalanan, Nari sempat menghubungi Domma. Kepada kakak kandungnya itu, Nari mengaku agak telat sampai ke rumah karena diajak ketemuan oleh seorang pria kenalan facebooknya. Sejak saat itulah Nari menghilang dan tak pulang sampai sekarang.
“Kami tak kenal temannya itu. Nari cuma bilang kalau teman prianya itu seorang aparat. Makanya kami sangat kawatir,” lirih Domma.
Karena tak pulang hingga malam, Domma sempat menghubungi hanphone korban, tapi dirijek. Tak hanya itu, Domma dan Handika juga mengaku sudah mencari ke semua rumah sanak saudara mereka di Medan. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan Nari.
“Nati tak ada di mana-mana. Orang pintar juga sudah kami datangi, katanya adikku itu masih di Medan ini. Kata orang pintar itu, Nari dibawa paksa oleh seorang pria. Kalau temannya belum ada di Medan ini, soalnya dia (Nari) baru 2 bulan di sini. Apalagi selama ini dia gak pernah keluar rumah," ungkap Domma sedih.
Masih kata Domma, selama tinggal di Medan Nari tak pernah punya masalah. “Tak ada masalah apa-apa. Adikku ini termasuk wanita cerdas dengan lulusan terbaik sekolah kebidanan. Selain itu, dia periang dan terbuka kepada keluarga. Dia kalau ada masalah pasti cerita ke saya, karena sayalah kakaknya di Medan. Lagian dia juga tinggal sama abang sepupu saya, Handika dan istri abang sepupu saya itu baik serta sayang sama dia. Dia di rumah abang sepupu saya ini cuma jagain dan merawat anaknya. Tolong kami gimana mencari adik saya ini," lirih Domma.
Hal senada juga dikatakan Handika. Menurutnya Tari pergi dari rumahnya tanpa meninggalkan masalah. Ustadz muda ini juga mengaku sudah berusaha mencari tau keberadaan korban dari teman-teman facebooknya, maupun kerabat yang lain.
"Gak ada masalah sama kami bang. Lagian dia juga rajin dan baik. Dia memang tiap minggu berkunjung ke rumah kakaknya. Waktu itu dia juga permisi sama saya dan istri saya. Memang belakangan hari ini sewaktu di rumah, saya dan istri pernah dengar dia berbicara dari hape denganpria kenalannya itu. Karena tak curiga,kami biarkan saja,” kata Handika.
Handika makin kawatir karena hingga Jumat (3/4) sore, hanphone Nari masih tetap aktif. Tapi sewaktu dihubungi terus dirijek. Bahkan saat dihubungi via pesan singkat (SMS) pihak keluarga mendapat balasan dengan kata-kata, 'Saya gak kenal namanya Nari'. “Makanya kami mau minta bantuan pihak operator juga," pungkas Handika sembari memohon apabila ada yang mengetahui keberadaan Nari, bisa menghubungi ke kantor polisi atau ke nomornya di 085275508883.
Menanggapi laporan keluarga dan saudara korban yang terlihat syok dan panik tersebut,siang itu juga anggota Sentral Pelayanan Kepolisian (SPK) Polsek Percut Sei Tuan langsung mendata ciri-ciri korban yang berkulit putih, tubuh tinggi langsing, rambut ikal, serta mengenakan jilbab ini, untuk ditarunakan ke jajaran kepolisian.
"Sudah kita ambil keterangan dari keluarga mengenai ciri-ciri korban. Anggota sudah mentarunakannya lewat HT (Handytalking)," kata Kapolsek Percut Sei Tuan, Kompol Ronald Sipayung. (mri/deo) Editor : Admin-1 Sumut Pos