Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Ndredeg saat Duduk di Atas Watu Gilang

Admin-1 Sumut Pos • Rabu, 13 Mei 2015 | 11:30 WIB
Photo
Photo
Foto: Tepas Tandha Yekti for Jawa Pos
GKR Mangkubumi duduk di atas Watu Gilang setelah menerima dawuh raja Sultan HB X di Bangsal Sitihinggil, Keraton Jogjakarta, 5 Mei lalu.

Tidak banyak yang mengetahui prosesi detik-detik ketika GKR Pembayun mendapat nama baru, GKR Mangkubumi, pada Selasa, 5 Mei lalu. Selain hanya diikuti kerabat dekat, upacara tersebut tertutup untuk media. Namun, kepada Jawa Pos, putri sulung Sultan HB X-GKR Hemas itu bersedia menceritakan hari bersejarahnya tersebut.

FERLYNDA PUTRI, Jogjakarta

BAGI Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun, hari Selasa Wage, 5 Mei lalu, merupakan momen penting dalam perjalanan hidupnya. Sebab, pada hari itu dia menerima dawuh raja (perintah raja) Sri Sultan Hamengku Bawono (HB) X untuk duduk di atas Watu Gilang dan mengganti namanya menjadi GKR Mangkubumi.


Menurut Pembayun, upacara penahbisan dirinya yang dilangsungkan di Bangsal Sitihinggil, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tersebut benar-benar mendadak. Dia mengaku belum pernah sekali pun mendapat pemberitahuan dari ayahandanya untuk melaksanakan dawuh raja yang menyebutkan pergantian namanya dari GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi.


"Sekitar pukul 06.30 saya mendapat telepon dari adik saya, GKR Condrokirono, di keraton," ujar Mangkubumi dalam surat elektroniknya menjawab pertanyaan Jawa Pos Senin (11/5). Mangkubumi tak bersedia melayani wawancara langsung yang diajukan Jawa Pos karena sejak Sabtu (9/5) tidak enak badan. Giginya sakit dan badannya agak demam.


Telepon Condrokirono tersebut meminta Mangkubumi secepatnya ke keraton. Sebab, pada pukul 11.00 ada acara di Bangsal Sitihinggil. Namun, acara apa itu, Pembayun tidak diberi tahu.


Pembayun mengaku tidak terlalu kaget dengan panggilan mendadak dari Keraton Kilen. "Sebenarnya tidak bisa dibilang mendadak. Karena dawuh Gusti Allah (lewat Sultan HB X), jadi harus dilaksanakan secepatnya," kata istri KPH Wironegoro tersebut.


Pembayun pun segera bersiap-siap. Dari rumahnya di Dalem Wironegaran, di luar kompleks keraton, dia mengenakan kebaya panjang dan kain batik. Memang, menurut kebiasaan, bila ada acara di keraton, para putri raja/sultan akan mengenakan kebaya yang sama. Sayangnya, kebaya Mangkubumi tidak ada. Dia pun memutuskan untuk memakai kebaya yang punya warna dan motif yang hampir sama dengan kebaya adik-adiknya.


Dengan terburu-buru, pukul 08.00, ibu dua anak itu sampai di Keraton Kilen, kediaman ayahandanya, Sultan HB X. "Di Keraton Kilen kami sanggulan dan sedikit memakai make-up," terangnya. Tukang rias sudah disiapkan di Keraton Kilen. GKR Condrokirono-lah yang mendatangkan perias yang sudah jadi langganan keluarga keraton itu.


Dalam acara dawuh raja tersebut, HB X memakai baju kebesaran yang sama ketika dilantik sebagai raja/sultan pada 7 Maret 1989. Sebenarnya, GKR Hemas, permaisuri HB X, akan mengenakan baju yang sama saat mendampingi suaminya dilantik sebagai raja. "Namun sayangnya, baju ibu (GKR Hemas, Red) sudah sempit. Tidak cukup lagi," ungkap Mangkubumi.


Mangkubumi lalu menelepon adiknya yang lain, GKR Maduretno, untuk membawakan kebaya dirinya waktu menikah. Kebaya itu rencananya dipakai Hemas, sang ibu. Tapi, begitu dicoba Hemas, ternyata baju kebaya tersebut terlalu longgar. Tak hilang akal, dengan cepat kebaya itu dikecilkan agar pas di badan Hemas. "Kalau ingat kejadian itu, lucu," ucap Mangkubumi.


Menjelang pukul 11.00, persiapan di Keraton Kilen sudah selesai. Para abdi dalem juga sudah selesai mempersiapkan Sitihinggil yang rencananya digunakan untuk acara yang hanya diketahui HB X itu. Rombongan yang terdiri atas keluarga keraton dan undangan pun berjalan beriringan menuju Sitihinggil. "Saat jalan ke Sitihinggil itulah, saya diberi tahu Ngarso Dalem (Sultan HB X, Red), ketika nanti selesai dipanggil, harus duduk di kursi yang berada di atas Watu Gilang," cerita perempuan 43 tahun tersebut.

Bisikan ayahandanya itu membuat Mangkubumi deg-degan. Dia jadi menduga-duga acara apa yang akan dilaksanakan di Sitihinggil tersebut. Apalagi, dia tahu bahwa Watu Gilang tidak pernah diduduki siapa pun sejak HB X diangkat sebagai putra mahkota pada 7 Maret 1989.


Rombongan lalu masuk ke Bangsal Mangunturtangkil di kompleks Bangsal Sitihinggil. Ada tempat khusus untuk duduk Sultan HB X atau yang dikenal dengan nama Dampar Kencana. Kemudian, para putri dan kerabat duduk berhadapan dengan HB X. Persis di depan deretan para putri itu, terdapat sebuah kursi kayu yang diletakkan di atas batu yang ditutup karpet merah dan ditaburi bunga melati. Itulah tempat yang disebut HB X sebagai Watu Gilang, tempat penobatan putri mahkota.


"Raos," ucap salah seorang abdi dalem dengan lantang. Ucapan tersebut merupakan pertanda bahwa Sultan HB X akan datang. Tak ada irama gamelan seperti biasa ketika HB X datang. Yang ada, hadir suasana khidmat para kerabat keraton dan undangan menyaksikan raja Keraton Jogjakarta itu berjalan menuju Bangsal Mangunturtangkil.


Setelah HB X duduk di Dampar Kencana, suasana hening sejenak. Semua yang datang tahu bahwa mereka harus berdoa. Tak lama, HB X memberikan tanda berupa anggukan kepada GKR Mangkubumi untuk segera menghadapnya.


Mangkubumi berjalan menuju hadapan ayahandanya. Sembah dihaturkan sambil berdiri. Ketika Mangkubumi sudah sampai di depan sultan, dawuh raja dibacakan. Bahasa yang digunakan merupakan bahasa Jawa. Isinya, mengganti nama GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi, nama yang sama ketika Sultan HB X menjadi putra mahkota.


Seusai pembacaan dawuh raja, Mangkubumi diperintah untuk duduk di kursi di atas Watu Gilang. Upacara yang tak lebih dari sepuluh menit itu ditutup dengan doa. "Saya semakin ndredeg ketika duduk di atas Watu Gilang. Sampai-sampai tidak melihat Ngarso Dalem berdiri untuk keluar," ungkap Mangkubumi.


Nama baru itu membuat Pembayun merasa punya tanggung jawab yang lebih berat. Nama Mangkubumi pernah dikenakan HB I, HB VI, dan HB X.


Sementara itu, sebelum upacara berlangsung, kesibukan mendadak terjadi di keraton. Pasalnya, Sultan HB X tiba-tiba memerintah KRT Yudadiningrat, Pengageng Tepas Tanda Yekti, untuk mengumpulkan para abdi dalem guna mengikuti upacara dawuh raja tersebut. Baik abdi dalem yang bertugas di keraton maupun yang menjadi pegawai di luar keraton.

Untungnya, hari itu bertepatan dengan Selasa Wage, weton (hari lahir menurut penanggalan Jawa) HB X. Sehingga dipastikan seluruh abdi dalem berkumpul untuk sowan kepada Sultan. Biasanya mereka berkumpul di pelataran Bangsal Kencana yang terletak di Keraton Dalem. Para abdi dalem itu mengenakan baju peranakan berupa beskap lurik, belangkon, jarit, dan keris.


"Jadi, saya tidak perlu telepon satu per satu para abdi dalem untuk kumpul," ungkap KRT Yudadiningrat. "Tapi, banyak yang tanya ada apa kok harus ke Sitihinggil," tambahnya.


Yudadiningrat menjawab bahwa itu perintah sultan. Mendapat jawaban seperti itu, para abdi dalem langsung diam. Sebab, mereka wajib untuk sendika dhawuh kepada perintah sultan. Mereka segera melaksanakannya sesuai perintah sang raja.


Sebelumnya Yudadiningrat mendapat telepon dari GKR Condrokirono. Isi percakapan di telepon tersebut memberi tahu bahwa pada pukul 11.00 ada acara di keraton. Namun Condrokirono tidak mengatakan acara apa yang akan dihelat. "Yang saya jadi bertanya-tanya adalah saya harus memakai atela putih," kata Yuda, sapaannya.


Atela atau surjan putih itu biasanya dikenakan khusus untuk acara besar Keraton Jogjakarta. Misalnya pada saat pernikahaan para putri Sultan HB X. Yang berhak memakai atela putih adalah abdi dalem yang punya kedudukan sebagai pengageng.


Dalam telepon itu pula, Yuda mendapatkan tugas untuk memberitahukan isi pesannya kepada sebelas pengageng tepas di keraton. "Karena acaranya mendadak, sempat ada salah seorang pengageng yang ketinggalan kerisnya," kenang dia. Namun, pengangeng itu akhirnya bisa mendapatkan pinjaman keris dari abdi dalem yang sedang berjaga. "Terus terang, saya baru tahu acara (di Sitihinggil) itu ketika Sultan (HB X) membacakan dawuh raja," lanjutnya.


Menurut Yuda, dalam dawuh raja itu tidak ada kata-kata untuk menobatkan GKR Mangkubumi sebagai putri mahkota. "Itu hanya perubahan nama," katanya.


Hal yang sama diungkapkan KRT Pujaningrat. Pengageng II Kawedanan Ageng Sriwandowo itu mengatakan, dawuh raja yang dilaksanakan Selasa pekan lalu itu tidak seperti pelantikan putra mahkota. Pujaningrat tahu betul suasana tersebut karena dirinyalah yang dulu menjadi pembaca teks pengangkatan HB X waktu menjadi putra mahkota. Dia pun berani memastikan bahwa dawuh raja bukanlah pengangkatan putri mahkota. "Kemarin itu tidak ada kata-kata kalau jadi putri mahkota. Jadi, itu bukan pengangkatan putri mahkota," katanya.


Semestinya, jika itu merupakan pengangkatan putri mahkota, dalam dawuh raja harus ada kalimat yang menyatakan GKR Mangkubumi sebagai putri mahkota. Seperti yang dia bacakan dulu ketika pengangkatan HB X menjadi putra mahkota.


Menurut dia, pengangkatan putra mahkota tidak semata-mata dilakukan dengan pergantian nama Mangkubumi. Menurut cerita Puja, sapaannya, HB II juga memiliki putra bernama Mangkubumi. Namun, dia tidak menjadi raja. "HB III itu namanya Surojo," ucap pria yang memiliki sanggar tari itu. (*/c9/ari) Editor : Admin-1 Sumut Pos
#GKR Mangkubumi #GKR Pembayun #Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat