Hujan deras yang melanda kota Medan menyebabkan banjir di Jalan Sudirman Medan tahun 2013 lalu. Buruknya drainase salah satu penyebab terjadinya genangan air di saat hujan deras.
MEDAN, SUMUTPOS.CO - Program Medan Berhias (Bersih, Hijau, Asri dan Sehat) yang digaung-gaungkan Pemko Medan seolah hanya isapan jempol belaka. Buktinya, sampai saat ini ibu kota Sumut ini tetap saja banjir, kotor dan semrawut. Untuk tahun ini, banjir juga dipastikan akan kembali ‘mengepung’.
Hal ini sesuai dengan perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Sumut yang menyebut curah hujan di Medan sekitarnya akan mulai tinggi dari pertengahan September hingga akhir tahun 2015. “Kemungkinan terjadinya banjir di Medan masih sangat besar,” tegas Sunardi, Kabid Data dan Informasi BMKG Wilayah I Sumut saat ditemui, kemarin.
Apalagi sampai detik ini, lanjutnya, Pemko Medan belum terlihat melakukan normalisasi drainase. Karena itu Sunardi mengimbau warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai, dan kawasan yang aliran drainase-nya buruk siap siaga. Dipaparkan Sunardi, di beberapa kota besar di Indonesia, biasanya banjir akan terjadi saat curah hujan mencapai lebih dari 50 milimeter/jam. Tapi lain dengan Kota Medan, banjir sudah menyapa warga meski curah hujan masih di bawah 50 milimeter/jam.
"Di Medan hujan bentar saja pasti banjir. Padahal curah hujannya cuma 30 milimeter/jam. Itu akibat aliran airnya yang sangat buruk," ungkapnya.
Masih kata Sunardi, selama bulan September 2015 ini, curah hujan di Kota Medan diperkirakan akan menyentuh level sedang, yaitu 201 hingga 300 milimeter. Curah hujan dominan ini akan menyambangi Kecamatan Medan Selayang, Kecamatan Medan Baru, Kecamatan Medan Timur, dan Kecamatan Medan Helvetia. Sementara, angin kencang dan puting beliung juga diperkirakan akan ikut menyambangi Kota Medan dan beberapa kab/kota lainnya, seperti Langkat, Serdang Bedagai, Simalungun dan Asahan.
Sedang curah hujan rendah selama bulan September ini, 151-200 milimeter akan terjadi di Deliserdang, Binjai, Asahan, Dairi, Padang Lawas, Madina, Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tanjung Balai, Tanah Karo dan Tapanuli Selatan. Sedang prakiraan curah hujan tinggi bakal terjadi Labuhan Batu, Siantar, Langkat, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Simalungun, Toba Samosir, dan Medan. “Jadi warga Medan harus siap-siap,” tandasnya.
Data dihimpun, dari tahun ke tahun banjir memang selalu terjadi di Medan. Tak hanya di bantaran sungai, warga yang jauh dari bantaran juga ikut jadi korban. Upaya untuk mengantisipasi masalah ini memang sudah sering dilakukan. Bahkan, sudah cukup banyak proyek penanggulangan banjir dikerjakan. Ratusan miliar uang rakyat, hingga triliunan dana pinjaman dari Japan International Cooperation Agency (JICA) telah digelontorkan. Tapi hasilnya tetap mengecewakan.
Sebut saja proyek Medan Metropolitan Urban Development (MMUDP) yang dikerjakan pada rentang tahun 1983 hingga 1994. Ada juga proyek Kanal Medan Flood Control (MFC) kawasan Titi Kuning, Medan Johor yang merupakan proyek besar pinjaman Japan Bank For International Corporation (JBIC). Proyek senilai Rp240 miliar pada tahun 2008 itu dibangun untuk mengurangi banjir yang kerap melanda Medan. Kenyataannya, setiap kali turun hujan walau tak deras, titik genangan air malah makin meluas. Ironisnya lagi,setelah itu,sampai hari ini belum ada lagi mega proyek dari pemerintah untuk mengatasi banjir yang sudah sangat meresahkan warga ini.
Kabid Drainase Bina Marga Kota Medan Yusdartono yang ditemui mengaku, banjir yang terjadi selama ini sifatnya genangan. Dengan artian, dalam tempo 4 atau 5 jam, air akan surut. Hal ini katanya, terjadi karena resapan air sudah berkurang lantaran rumah penduduk sekarang ini penuh sesak. “Dulu, resapan air masih banyak. Sekarang, perumahan makin banyak. Perumahan yang dibangun airnya langsung turun ke drainase dan tidak ada tanah tersisa. Akibatnya, drainase tidak bisa menampung curah air yang masuk ke dalam drainase,” tuturnya.
“Kalau dia sadar, coba pikirin nasib orang lain yang jadi korban banjir gara-gara ulah mereka. Kalau dibongkar, tak dikasih kita. Inilah yang kendala yang kita hadapi,” bebernya.
Yusdartono mengatakan, meski mereka terus-terusan membersihkan drainase, tapi masih saja ada permasalahan. Soalnya, pihaknya sulit membersihkan sampah lantaran banyak drainase yang sudah ditutup dengan semen. Selain itu, drainase sebagian tertutup oleh para pedagang yang berjualan dekat di tengah-tengah kota Medan. Padahal, dalam pembersihan drainase ini tidak hanya mengangkut sampah, tetapi juga harus dikeruk.
“Itu lah faktanya. Para pemilik maupun pemborong ruko terkadang tidak memperdulikan warga sekitar dengan mendirikan bangunan lebih tinggi ketimbang parit. Akibatnya, setiap hujan turun warga makin merana. Soalnya, saluran drainase lebih rendah ketimbang jalan,” ungkapnya. Yusdartono bilang, tahun ini pihaknya berencana membangun sebanyak 180-an drainase di 21 kecamatan dengan menelan biaya Rp150 miliar lebih.
“Sejauh ini, 70 persen pengerjaan drainase sedang berjalan. Seluruh kecamatan dikerjai tapi tidak semua lingkungan yang ada di kelurahan. Itu tergantung lokasi laman saja yang rusak. Seperti Jalan Denai, Jalan Sembada, Jalan Ikhlas, Jalan Menteng 7 dan kawasan Selayang,” ungkapnya.
Satu sisi, Yusdartono berharap partisipasi warga untuk menjaga lingkungan juga sangat dibutuhkan. Umumnya, drainase di kota ini tersumbat karena banyak sampah dibuang sesuka hati.
“Setiap hari, 1.300 ton sampah diangkut. Tidak semua sampah diangkut tapi ada yang masuk ke dalam drainase. Jadi, kita minta kesadaran warga untuk tidak membuang sampai ke drainase maupun sungai,” pintanya.
Salinan Peraturan Walikota Medan No.14 Tahun 2009 Tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Medan No. 9 Tahun 2009 Tentang Retribusi Izin Pengelolaan, Pengeboran, Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah di Kota Medan, Yusdartono bilang, sekarang ini banyak menyalah. Bangunan banyak berdiri di atas parit.
“Itu jelas perwalnya. Kita tidak bisa mencampuri ini. Terkadang pengawas TRTB kurang juga, tapi maklumlah. Saat ditanya, pemilik rumah menunjukkan surat rekomendasi dari TRTB. Terpenting jangan diganggu tapi dipelihara drainase di Medan,” akunya.
Menurutnya lagi, sungai yang ada melintas di Kota Medan seperti sungai Sikambing, sungai Putih, sungai Belawan, sungai Babura, sungai Deli, sungai Kera, sungai Percut dan sungai Batuan sekarang ini mengalami pendangkalan akibat sampah, dan daya serap alir sangat susah. Jadi, perlu dikorek lagi agar daya tampungnya bisa besar lagi.
“Kita sudah berkali-kali minta sosialisasi dengan pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) II. Namun, belum juga berjalan. Susah juga kadang-kadang,” ketusnya.
Alat Sedot tak Maksimal
Meski Dinas Bina Marga memiliki 2 unit mobil alat sedot Lumpur seharga Rp3,7 miliar per unit, namun semuanya belum berjalan maksimal. Pasalnya, banjir di kota ini belum juga teratasi. Apalgi mobil alat sedot lumpur itu baru dipergunakan di moment-moment tertentu saja. Setiap ada pergerakan pejabat nomor satu di kota ini, baru mobil tersebut keluar dari sarang. Tapi saat dikonfirmasi kru koran ini, Kabid Drainase Bina Marga Kota Medan Yusdartono membantahnya.
“Nggak benar itu. Setiap malam mobil memiliki daya tampung sebanyak 5 kubik ini keluar. Kita bergerak ke UPT yang sulit dijangkau. Rugilah kita kalau tak dipakai alat sedot yang dibeli sangat mahal,” ungkapnya. Yusdartono menyebutkan, di Kota Medan perlu banyak alat sedot dengan kondisi kota yang sangat besar. Diperkirakan cukup 5 untuk mengatasi banjir di kota ini. “Membongkar beberapa titik, perlu memakan waktu cukup lama. Begitu ada celah untuk masuk, bisa dimasukkan pipanya dengan panjang 6 meter,” ucapnya.
Bahkan, Yusdartono juga bilang, rumah makan bisa menjadi penyumbat drainase. Sebab, limbah lemak dari rumah makan dibuang sembarangan. Akibatnya, lemak jadi lengket di dinding drainase. Begitu plastik mengalir, malah lengket di sana. “Kita ini ibarat si Buah Simalakama. Ujung-ujungnya, kita (Bina Marga Kota Medan) yang kena. Padahal, instansi lain harus mengerjainya juga,” pungkasnya. (win/ali/deo) Editor : Admin-1 Sumut Pos