Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Awas, TBC dan Hepatitis dari Satwa Liar yang Dipelihara

Admin-1 Sumut Pos • Rabu, 2 Maret 2016 | 15:35 WIB
Photo
Photo
dok Pribadi
Rahmat Shah bersama koleksi burung di Kebun Binatang Siantar yang kini dikelolanya.

MEDAN, SUMUTPOS.CO - Ketua Perhimpuanan Kebun Binatang Se-Indonesia Dr H Rahmat Shah memberikan apresiasi kepada Polda Sumut yang berhasil menangkap penangkar satwa dilindungi di tempat hiburan masyarakat, beberapa hari lalu.

Pasalnya, meski niatnya ingin memberi hiburan kepada masyarakat, namun ketidaktahuan tentang bagaimana memelihara dan merawat bintang yang dilindungi itu justru berpotensi menimbulkan penebaran bibit penyakit yang dibawa oleh binatang tadi.

“Tidak gampang memelihara dan merawat hewan yang dilindungi tadi. Kalau di lembaga konservasi, kan ada dokter hewannya. Kalau di sana kan gak ada dokter hewan,” bilang Dr H Rahmat Shah, Ketua Umum PKBSI kepada Sumut Pos, Selasa (1/3).

“Ini masalahnya. Hewan-hewan yang kondisi kesehatannya terabaikan berpotensi menularkan bibit penyakit yang dideritanya kepada pengunjung tempat hiburan rakyat tadi. Kalau sudah begini, siapa yang harus bertanggungjawab,” tambahnya.

Menurut Rahmat Shah, beberapa penyakit yang kerap ditularkan hewan kepada manussia, diantaranya TBC, hepatitis, bahkan ada juga hewan yang bisa membuat pemeliharanya mengalami kemandulan.

Tak sampai di situ, Rahmat mengungkapkan bahwa memelihara binatang, selain membutuhkan pengorbanan materi yang tak sedikit, juga dibutuhkan keikhlasan.

Menurut Rahmat jika seseorang memelihara hewan hanya karena kemampuan materi, maka dirinya takkan pernah belajar bersunguh-sungguh untuk menyayangi hewan peliharaannya. Akibatnya, ketika hewan tadi mengalami gangguan kesehatan, maka si pemilik akan mengalami kesulitan untuk mengobati hewan peliharaannya tadi.

“Di sini lah perlunyadokter hewan tadi. Makanya, di lembaga konservasi seperti KBN Medan dan KBN Pematangsiantar selalu ada dokter hewan yang selain mengawasi kesehatan hewan tadi juga merawatnya agar tidak gampang terserang penyakit,” ungkap Rahmat.

Atas dasar itu Rahmat Shah mengatakan pihaknya bersedia menampung hewan-hewan yang dilindungi tadi untuk dirawat di lembaga konservasi yang dikelolanya seperti di KBN Pematangsiantar.

“Karena ketidaktahuannya ada orang yang membeli hewan dilindungi tadi dari pedagang pasar. Ketika dirinya belajar dan mengetahui jika hewan itu tidak boleh dipelihara, maka dia buru-buru menyerahkannya di Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut). Niatnya sih bagus. Hanya saja, apakah BBKSDA Sumut punya tanaga professional yang bisa merawat dan memelihara hewan-hewan tadi?” tanya Rahmat.

“Kondisinya berbeda apabila hewan-hewan tadi diserahkan ke lembaga konservasi. Karena di sana, selain ada petugas yang professional, juga memiliki dokter yang setiap hari bisa merawat kesehatan hewan-hewan yang dilindungi,” tambah Rahmat.

Ditambahkannya lagi jika faktor ketidakhuan kerap menjadi kendala dalam hal pemeliharaan dan perawatan hewan-hewan dilindungi. Rahmat mengambil contoh, dua pusat hiburan masyarakat yang beberapa waktu lalu digerebek karena mempertontonkan hewan-hewan dilindungi kepada para pengunjung.

“Jika mereka tahu itu adalah kesalahan, kan mustahil mereka mempertontonkan kesalahannya kepada masyarakat banyak. Karena mereka tidak tahu lah, makanya itu bisa terjadi. Mereka tidak tahu bagaimana dampak memelihara hewan dilindungi tadi kepada masyarakat, dan mereka juga tidak tahu, apa hukuman yang akan mereka terima jika memelihara hewan dilindungi tadi,” tuntasnya. (ije) Editor : Admin-1 Sumut Pos
#medan #Rahmat Shah #satwa dilindungi