Dedi Syahputra alias Tarso mengerang kesakitan saat dirawat di RSUD Djoelham karena kakinya yang terkena tembakan saat ditangkap, Senin (15/5).
SUMUTPOS.CO - Tim gabungan TNI-Polri terus mengejar 10 tahanan yang kabur dari Rumah Tahanan Polisi (RTP) Polres Binjai. Hingga kemarin (15/5), dua tahanan lagi berhasil diringkus. Tersisa delapan tahanan lagi yang masih dalam pengejaran.
Kedua tahanan yang berhasil diringkus yakni Dedi Syahputra alias Tarso dan Bambang Syahputra alias Bembeng. Tarso terpaksa ditembak pada bagian lutut kiri dan betis kanan karena melawan petugas saat hendak ditangkap. Sementara Bembeng, menyerahkan diri kepada petugas, setelah merasa menyesal telah melarikan diri dari tahanan.
Kasat Reserse Narkoba Polres Binjai, AKP Bambang Tarigan mengatakan, Tarso diamankan di sebuah kos-kosan Jalan Soekarno-Hatta Km 18, Kelurahan Sumber Karya, Binjai Timur, sekira pukul 07.00 WIB. Saat hendak ditangkap, Tarso melakukan perlawanan dengan memukul petugas. Petugas pun terpaksa melepaskan tembakan. "Tersangka (Tarso) memukul anggota, yang terkena kepalanya," ujar AKP Bambang Tarigan, Senin (15/5).
Kemudian Tarso dibawa ke RS Djoelham Binjai untuk mendapatkan perawatan medis. Bahkan, petugas juga menemukan selinting ganja siap hisap dalam kotak rokok dari saku celananya.
Sementara Bambang Syahputra alias Bembeng, menyerahkan diri ditemani istrinya, Dewi sekira pukul 16.00 WIB. Warga Jalan T Amir Hamzah, Kelurahan Jati Karya, Binjai Utara itu dijemput Polisi dari rumahnya. "Saya enggak tahu kalau suami saya ikut kabur. Tahunya setelah didatangi Polisi. Saya juga takut kalau dia kemana-mana dan hidup tak aman," ujar Dewi di Mapolres Binjai, kemarin.
Menurut ibu beranak empat ini, dia sengaja menghubungi Polres Binjai untuk menyerahkan suaminya. Apalagi, suaminya merasa menyesal telah melarikan diri dari tahanan.
Hal itu diakui Bembeng. Menurutnya, saat itu dia baru salat isya di tahanan. Tiba-tiba dia melihat dinding sel telah jebol. Spontan, dia pun ikut kabur bersama tahanan lainnya. Bembeng mengaku, sempat bersembunyi di semak belukar di bawah jembatan Kelurahan Pahlawan, Binjai Utara.
Setelah merasa aman, Bembeng menumpangi angkot menuju Paya Mabar, Stabat. "Karena enggak punya uang, turun dari angkot saya langsung lari (tidak bayar)," aku Bembeng.
Karena tak punya tujuan, dia pun masuk ke daerah hutan. Selama dua hari, Bembeng mengendap di hutan. Dua hari pula ia tak makan nasi. Karena tak sanggup hidup di hutan tanpa ada stok makanan, akhirnya Bembeng berniat menyerahkan diri.
"Saya juga kasihan sama anak-anak dan keluarga. Makanya ingin pulang, tapi enggak tahu caranya. Jadi, saya telpon keluarga untuk menyerahkan diri. Menyesal juga aku. Jadi, saya dijemput di Stabat dan merasa bersalah juga," ujar pria yang bekerja sebagai buruh bangunan ini.
Bembeng (kiri) dan isteri diserahkan oleh keluarga ke Mapolres Binjai. Bembeng adalah tahanan yang kabur dan sudah ditetapkan sebagai DPO.
Sementara, tim gabungan masih terus melakukan pencarian dan pengejaran terhadap para tahanan yang masih menghirup udara bebas. Berbagai langkah dan cara terus dilakukan. Salah satunya dengan cara menongkrongi keluarga para tahanan yang masih kabur.
Selain itu, Polres Binjai juga telah menyebarkan foto-foto para DPO di loket bus, terminal, dan stasiun KA Kota Binjai, Jalan Ikan Paus. Upaya yang dilakukan oleh Kepolisian menarik simpati masyarakat. "Kami minta agar keluarga mengimbau sanak saudaranya agar menyerahkan diri," ujar Kabag Ops Polres Binjai, Kompol Jenda Kita Sitepu.
Berdasar pantauan wartawan, Sat Res Narkoba Polres Binjai pascalari tahanan melakukan sejumlah pembenahan. Salah satunya, memasang CCTV di sel tahanan. Itu dilakukan untuk melakukan monitoring langsung kegiatan para tahanan. "Belum tahu berapa banyak yang mau dipasang (CCTV). Tapi pun rencananya juga nanti tahanan tidak lagi di Narkoba," tandas KBO Sat Res Narkoba Polres Binjai, Iptu M Panggabean.
Sementara Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Poldasu masih menelaah peristiwa kaburnya 19 tahanan narkoba yang kabur dari Rumah Tahanan Polisi (RTP) Polres Binjai. Propam Poldasu akan mengevaluasi, siapa pejabat Polres Binjai yang paling bertanggung jawab atas kaburnya para tahanan tersebut. Apalagi, lubang yang dibuat para tahanan sama sekali tidak terpantau. Padahal secara aturan, harusnya dilakukan pengecekan berkala ke setiap sudut ruang RTP.
Kepala Bidang (Kabid) Humas Poldasu, Kombes Pol Rina Sari Ginting beranggapan, hal itu jelas sebuah kecorobohan. Saat ini, Tim Propam Poldasu sedang melakukan penyelidikan. Memeriksa mulai dari petugas piket hingga pimpinan di Polres Binjai.
“Untuk mengetahui siapa yang harusnya bertanggungjawab, itu nanti hasil penyelidikan. Memang, ini sebuah kelalaian. Bagaimana bisa lubang sebegitu besar tidak pernah terpantau sama sekali,” kata Rina kepada Sumut Pos, Senin (15/5).
Menurutnya, sesuai prosedur tetap (protap), harusnya dilakukan pengecekan berkala di setiap sudut dinding sel tahanan. “Nah, di sini tugas pimpinan untuk memantau apa yang dikerjakan bawahannya. Ya memang ini sebuah kelalaian,” terang wanita yang juga pernah menjabat Kapolres Binjai ini.
Dirinya mengatakan, ada beberapa jabatan yang akan diperiksa atas kejadian ini dan akan di sidang Propam. “Siapa yang akan dievaluasi belum bisa ditentukan. Karena yang bertanggungjawab berjenjang. Ada Kasubbag Tahti, Kasat Narkoba, dan beberapa jenjang lain, baru berujung kepada Kapolres Binjai. Itu nanti akan ditentukan di sidang Propam,” papar Rina.
Polres Binjai menempel foto-foto DPO tahanan yang kabur di Stasiun KA Binjai.
Menyikapi tahanan kabur ini, anggota DPRD Sumut Zeira Salim Ritonga mengaku tidak habis pikir sampai hal tersebut terjadi. Menurutnya, ada faktor kelalaian pada kaburnya tahanan narkoba Polres Binjai itu. "Bagaimana bisa tahanan lepas di kantor polisi? Apakah tidak ada yang piket disana? Berarti penjaga atau Polisi yang piket lalai," kata Zeira saat ditemui di gedung DPRD Sumut, Senin (15/5).
Dia juga mencurigai ada permainan antara petugas piket dengan tahanan yang kabur. "Bagaimana mungkin tahanan bisa lepas? Bukan tidak mungkin ada main mata sehingga tahanan bisa kambur," duganya.
Beberapa waktu lalu, kata Politisi PKB ini, tahanan di Lapas Riau juga melarikan diri. "Biasanya tahanan yang lari atau kabur dari lapas itu karena kelebihan kapasitas. Apakah kasus ini juga terjadi di tahanan Polisi," tanya dia.
Apabila tahanan di Polres Binjai sudah penuh, pihak kepolisian harusnya bisa memindahkan tahanan tersebut ke lapas atau rutan. Selain itu, dia mengatakan, persoalan ini menjadi tanggung jawab mutlak dari Kapolres Binjai. "Sebagai pimpinan tertinggi di tempat itu, harus berani bertanggung jawab. Kapolres Binjai harus dievaluasi atas kejadian itu. Kalah memang, terjadi atas kelalaian maka Kapolresnya harus dicopot," tegasnya.
Zeira juga mendesak agar pihak kepolisian segera menangkap 10 tahanan yang telah ditetapkan sebagai DPO. "Peristiwa tahanan kabur ini sudah membuat masyarakat resah. Polisi harus bergerak cepat untuk menangkap mereka, agar masyarakat menjadi tenang," tuturnya.
Anggota DPRD Sumut Fraksi Demokrat, Muhri Fauzi Hafiz juga mengatakan hal senada. Dia meminta agar proses pengamanan tahanan di Polres Binjai dievaluasi. Ia juga mengingatkan agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali. "Kalau memang kapasitas penjara di polres sudah over maka pihak polres melalui kapolres harus berani sampaikan kepada pimpinan untuk bisa dibangun tahanan baru,"tuturnya.(dvs/dik/ted/adz) Editor : Admin-1 Sumut Pos