Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Simbol Semangat Mempertahankan RI

Admin-1 Sumut Pos • Rabu, 16 Agustus 2017 | 11:16 WIB
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS MENGECAT_Beberapa orang pekerja sedang mengecat tugu Apollo yang berada di Jalan Sutomo Medan, Senin (24/7) Pengerjaan tersebut bagian dari peremajaan monumen bersejarah yang ada di kota medan.
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS MENGECAT_Beberapa orang pekerja sedang mengecat tugu Apollo yang berada di Jalan Sutomo Medan, Senin (24/7) Pengerjaan tersebut bagian dari peremajaan monumen bersejarah yang ada di kota medan.
Photo
Photo
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
MENGECAT_Beberapa orang pekerja sedang mengecat tugu Apollo yang berada di Jalan Sutomo Medan, Senin (24/7) Pengerjaan tersebut bagian dari peremajaan monumen bersejarah yang ada di kota medan.

SUMUTPOS.CO - Tujuh minggu empat hari setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, pasukan sekutu mendarat di Medan dibawah pimpinan T.E.D Kelly. Kedatangan pasukan sekutu diikuti oleh pasukan NICA itu dipersiapkan untuk mengambil alih pemerintahan. Peristiwa ini terjadi tepatnya 9 Oktober 1945.


Awalnya mereka diterima secara baik oleh pemerintah RI di Sumatera Utara sehubungan dengan tugasnya untuk membebaskan tawanan perang (tentara Belanda). “Sebuah insiden pun terjadi di hotel Jalan Bali, Medan pada tanggal 13 Oktober 1945. Saat itu seorang penghuni hotel (pasukan NICA) merampas dan menginjak-injak lencana Merah Putih yang dipakai pemuda Indonesia. Hal ini mengundang kemarahan para pemuda. Akibatnya terjadi perusakan dan penyerangan terhadap hotel yang banyak dihuni pasukan NICA,” kata sejarawan Rosmaida Sinaga kepada Sumut Pos, Selasa (15/8).


Pada 1 Desember 1945, pihak sekutu memasang papan-papan yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area di berbagai sudut Kota Medan. Sejak saat itulah Medan Area menjadi terkenal. Pasukan Inggris dan NICA mengadakan pembersihan terhadap unsur republik yang berada di Medan. Selanjutnya pada 10 Desember 1945, sekutu dan NICA melancarkan serangan besar-besaran terhadap Kota Medan. Serangan ini menimbulkan banyak korban dikedua belah pihak.


“Pada April 1946, sekutu berhasil menduduki Kota Medan. Pusat perjuangan rakyat Medan kemudian dipindahkan ke Pemantang Siantar. Untuk melanjutkan perjuangan di Medan maka pada Agustus 1946 dibentuk Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area. Komandan ini terus mengadakan serangan terhadap sekutu di wilayah Medan. Untuk mengenang kejadian tersebut maka didirikanlah Tugu Pertempuran Medan Area,” jelas dosen Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan itu.


Kini, Tugu Pertempuran Medan Area lebih dikenal  Tugu Apollo. Tugu ini adalah monumen paling bersejarah di Kota Medan. Karena menjadi simbol sekaligus cerminan begitu heroiknya para pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Ibukota Provinsi Sumut.


Tugu Apollo yang berada di Jalan Sutomo, Kelurahan Pusat Pasar, Medan Kota itu, menurut Rosmaida, hampir sama dengan Tugu Pahlawan di Surabaya, dan monumen Bandung Lautan Api yang bernilai kepahlawanan serta menyimpan sejarah besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. “Ketiganya sama-sama menyimpan cerita heroik pejuang-pejuang Indonesia terutama pemuda, dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada masa itu,” katanya.

Namun sayang, kata dia, kondisi Tugu Apollo bila dibandingkan dengan Tugu 10 November dan monumen Bandung Lautan Api sangat jauh berbeda. Di mana kurang perhatiannya pemerintah setempat terhadap kelestarian Tugu Apollo. “Sebagai seorang sejarawan, saya sangat miris melihatnya. Di dalam tugu itu saya lihat sudah dijadikan tempat penyimpanan gerobak pedagang. Bahkan sore hari saya menyaksikan ada orang yang buang air kecil di situ. Padahal itu adalah lambang perjuangan bangsa ini di Kota Medan," katanya.


Ia berharap di tengah gencarnya pemerintahan rezim Jokowi-JK membangun ingin karakter bangsa, kepedulian terhadap monumen-monumen bersejarah di seluruh nusantara termasuk Kota Medan, dapat dirawat kelestariannya.


"Paling tidak kita bisa mengenang nilai-nilai kepahlawanan dan sejarah bangsa ini melalui monumen tersebut. Kita juga berharap, melalui kelestarian itu agar generasi muda Kota Medan dapat mengetahui kilas balik perjuangan pemuda kita mempertahankan kemerdekaan di Kota Medan, sehingga mampu meningkatkan semangat nasionalisme, heroiktisme dan patriotisme," harap wanita kelahiran Sipinggan, 1967 silam itu.


Dengan momen Hari Kemerdekaan yang mengusung tema 'Indonesia Kerja Bersama' ini, Rosmaida mengingatkan kepada seluruh elemen masyarakat di Kota Medan untuk kembali mengenang sejarah. “Kita harap Pemko Medan kembali melestarikan dan memugar tugu tersebut, dengan harapan sebagai materi pembelajaran sejarah yang nyata bagi generasi muda kita. Tidak hanya hayalan dan mereka bisa langsung kunjungi. Sebab bisa melecut semangat patriotisme, heroiktisme, rasa persatuan dan kesatuan bangsa serta cerminan kaum pemuda di masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Kota Medan,” katanya. (prn/yaa)

  Editor : Admin-1 Sumut Pos
#hut ri #hari kemerdekaan ri #tugu apollo