Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Sepi Pembeli tapi Pedagang Tetap Eksis

Admin-1 Sumut Pos • Kamis, 22 Februari 2018 | 14:06 WIB
Foto: Pran Hasibuan/Sumut Pos Suasana di Pasar Muara Takus terlihat sepi dari pengunjung, Rabu (21/2).
Foto: Pran Hasibuan/Sumut Pos Suasana di Pasar Muara Takus terlihat sepi dari pengunjung, Rabu (21/2).
Photo
Photo
Foto: Pran Hasibuan/Sumut Pos
Suasana di Pasar Muara Takus terlihat sepi dari pengunjung, Rabu (21/2).

SUMUTPOS.CO - Dulu siapa yang tak kenal dengan Pasar Muara Takus? Tapi sekarang, sejak banyak bangunan tinggi menjulang menutupi pasar itu, ditambah kehadiran pasar modern di belakangnya, membuat Pasar Muara Takus seperti 'lenyap ditelan bumi'. Namanya pun tidak gahar lagi terdengar. Bahkan, transaksi antara pedagang dan konsumen di pasar itu, kini bisa dihitung dengan jari.


==============================================================================

PRAN HASIBUAN, Medan

==============================================================================

Sebelum didirikan pada 1965, pasar yang berlokasi di Jalan Muara Takus, Kelurahan Madras Huku, Kecamatan Medan Polonia ini dulunya bekas perkuburan umat Hindu, Budha, dan Katolik. PT Sumatera Contractor yang membangun pasar itu, setelah mengajukan surat kepada Pemko Medan, 9 November 1964. Kemudian permohonan itu disetujui DPRD Kota Medan melalui Surat Keputusan No.7/DPRD-GR tanggal 7 Mei 1965.


Adapun tujuan pembangunan di atas tanah komplek perkuburan tersebut, adalah untuk mengganti dan menampung pedagang yang berada di pasar pagi Jalan Kediri Medan, yang dianggap sudah tidak laik dipertahankan sebagai pasar. Demikian pula dengan komplek perkuburan Hindu, Budha, dan Katolik di Jalan Muara Takus dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan dan perluasan Kota Medan.


"Dalam SK Wali Kota Medan tahun 1965 lampiran 2 nomor 250, ditetapkan bahwa PT Sumatera Contractor harus mendirikan bangunan-bangunan permanen yang terdiri dari; 39 pintu toko harian ukuran 4x12 meter, 13 pintu toko harian ukuran 4x8 meter, 12 unit kios permanen ukuran 4x6 meter, 172 unit stand permanen ukuran 2x2 meter, 1 bangunan tempat penyimpanan sepeda sepanjang 45 meter (berlantai semen), 1 lapangan pasar pagi seluas 10x45 meter (diaspal)," terang Kepala Cabang II Perusahaan Daerah (PD) Pasar Medan, Jalil Muhammad didampingi Kepala Pasar Muara Takus, Daniel Bustamam kepada Sumut Pos, belum lama ini.

Photo
Photo
Foto: Pran Hasibuan/Sumut Pos
Suasana di Pasar Muara Takus terlihat sepi dari pengunjung, Rabu (21/2).

Selain bangunan-bangunan tersebut, papar Jalil, pihak pemborong diminta membangun toilet, jalan-jalan, riol-riol dan parit. Selanjutnya untuk pembagian bangunan di proyek Muara Takus antara lain; 172 unit stand pemanen dan satu bangunan tempat penyimpanan sepeda sepanjang 45 meter, satu pintu toko harian ukuran 4x8 meter, diserahkan menjadi milik kantor dari LSD, Kampung Madras Hulu secara gratis, satu pintu toko harian ukuran 4x8 meter diserahkan menjadi milik kantor dari Koperasi Kampung Madras Hulu secara gratis, 39 pintu toko harian ukuran 4x12 meter, 11 pintu toko harian dan 12 kios permanen ukuran 4x6 meter adalah untuk pemborong, PT Sumatera Contractor," katanya.


Seiring perjalanan waktu, pertumbuhan penduduk dan dinamika yang terjadi, pembangunan di seputar Pasar Muara Takus berkembang pesat. Bahkan, sejak kehadiran pusat perbelanjaan modern Sun Plaza pada 2002, yang berada persis di belakang pasar tradisional tersebut, makin membuat sepi konsumen berbelanja ke situ. Pun sejak perkembangan usaha swalayan berjejaring, Pasar Muara Takus kondisinya semakin 'terpuruk'. Ironinya, jarak antara swalayan itu dengan Pasar Muara Takus tak sampai 10 meter. Praktis kini pasar itu semakin tak diminati masyarakat.


"Dulu kata orang, pasar ini ramai dikunjungi pembeli. Bahkan untuk jalan di dalam pasar saja pun susah. Harus saling tabrak istilahnya, sangkin ramainya. Sekarang orang (pembeli) jarang kemari," kata Kepala Pasar Muara Takus, Daniel Bustamam.


Ia mengaku harga barang-barang yang dijual di pasar itu terbilang cukup mahal. Namun kualitas barangnya justru terjamin. Sekarang ini, pedagang cenderung memanfaatkan pelanggan lama demi bisa bertahan di pasar tradisional tersebut. "Barang dagangan mereka tetap habis kok. Berarti kan ada pembelinya. Tapi memang nggak langsung kemari, mungkin via telepon saja. Sama halnya kayak tukang jahit, sudah ada pelanggan tetap. Makanya mereka tetap eksis. Bahkan anak SMAN 1 Medan menjahit baju atau simbol sekolah, datangnya kemari," sebut Daniel.


Amatan Sumut Pos, kondisi Pasar Muara Takus saat ini memang sangat memprihatinkan. Selain sepi pembeli, bangunan kios banyak yang sudah rusak.  Bahkan atap atau seng-seng kios yang ada, sudah pada berkelupasan dan berjatuhan. Pasar yang umumnya dihuni pedagang dari Tionghoa dan India ini pun, semakin tidak terlihat akibat banyak diapit bangunan-bangunan tinggi. Keberadaannya makin terasa terkucilkan dan tergilas, lantaran pusat perbelanjalaan modern dibangun persis dibelakang pasar tersebut. Atas kondisi ini pula, Pemko Medan berencana merevitalisasi Pasar Muara Takus pada 2018. (*/bersambung)

  Editor : Admin-1 Sumut Pos
#pasar muara takus #pasar di medan