Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Melalui Program M4CR, KLHK-BRGM Optimis Keberlanjutan Rehabilitasi Mangrove di Sumut

Redaksi Sumutpos.co • Minggu, 1 Desember 2024 | 17:25 WIB
KLHK-BRGM saat melaksanakan kegiatan Media Gathering, di Hotel Swiss Belinn Medan, Minggu (1/12/2024). (Dewi Syahruni Lubis)
KLHK-BRGM saat melaksanakan kegiatan Media Gathering, di Hotel Swiss Belinn Medan, Minggu (1/12/2024). (Dewi Syahruni Lubis)

MEDAN, SUMUTPOS.CO - Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), sebuah inisiatif kolaboratif antara Kementerian Kehutanan serta Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), melaksanakan kegiatan Media Gathering, di Hotel Swiss Belinn Medan, Minggu (1/12/2024).

Acara dilaksanakan selama empat hari, yakni Minggu-Rabu, 1-4 Desember 2024. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan dukungan media nasional dan lokal terhadap konservasi mangrove, terutama dalam memperkuat ketahanan pesisir dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal yang bergantung pada ekosistem mangrove.

Kegiatan Media Gathering ini, dihadiri oleh belasan media nasional dan lokal dari Sumatera Utara (Sumut) yang diundang untuk mendapatkan pemahaman langsung tentang pentingnya konservasi mangrove. Media berkesempatan mengunjungi beberapa lokasi rehabilitasi mangrove di Kabupaten Langkat dan Deliserdang, di mana mereka menyaksikan sendiri bagaimana program M4CR telah memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat setempat.

Indonesia memiliki sekitar 23 persen dari total ekosistem mangrove dunia, menjadikannya negara dengan kawasan mangrove terbesar secara global. Hutan mangrove memberikan berbagai manfaat penting, termasuk sebagai pelindung alami dari erosi pantai, badai, dan tsunami.

Selain itu, mangrove juga memiliki kemampuan menyerap karbon dalam jumlah besar, yang dikenal sebagai 'blue carbon, sehingga berperan penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Meski demikian, mangrove di Indonesia mengalami tekanan berat akibat aktivitas manusia, seperti alih fungsi lahan menjadi tambak dan pengembangan wilayah pesisir.

Melalui program M4CR, Pemerintah Indonesia menargetkan rehabilitasi lebih dari 75.000 hektar mangrove yang terdegradasi untuk mendukung ketahanan iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Program ini juga dirancang untuk meningkatkan keterampilan masyarakat lokal dalam memanfaatkan mangrove secara berkelanjutan, misalnya melalui ekowisata, budidaya perikanan, serta pengembangan produk turunan mangrove.

Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Ir Hartono menyatakan, mangrove tidak hanya penting bagi lingkungan tetapi juga memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat pesisir. Program M4CR bertujuan melindungi wilayah pesisir dan memberdayakan masyarakat lokal agar mampu menjaga sekaligus memanfaatkan hutan mangrove secara berkelanjutan.

"Dengan keterlibatan media dalam acara ini, kami berharap semakin banyak masyarakat Indonesia yang menyadari pentingnya menjaga ekosistem mangrove, baik sebagai pelindung alam maupun sumber penghidupan," ujarnya.

Dijelaskannya, Provinsi Sumut menjadi satu di antara empat provinsi prioritas Mangrove for Coastal Resilience dengan luas target 6.078 hektar hingga tahun 2027, meliputi 12 Kabupaten, 34 Kecamatan, dan 93 desa.

"Salah satunya berada di Desa Pasar Rawa, Kabupaten Langkat, Sumut. Di Pasar Rawa, Kabupaten Langkat, para peserta Media Gathering melihat contoh nyata rehabilitasi mangrove secara swadaya dan swakelola, di mana masyarakat bahu-membahu melakukan konservasi mangrove," katanya.

Sementara itu, Ketua KTH Maju Bersama, Kasto Wahyudi yang turut terlibat dalam program ini mengungkapkan, dahulu pihaknya sering khawatir akan abrasi dan gelombang tinggi yang mengancam desa. Namun, sejak ada penanaman mangrove, pantai mereka lebih terlindungi.

Selain itu, lanjutnya, dirinya juga dapat memanfaatkan mangrove dalam membantu perekonomian keluarga mereka.

"Selama empat hari kegiatan, peserta media berpartisipasi dalam berbagai sesi yang dirancang untuk memperkenalkan program M4CR secara menyeluruh, yakni Presentasi dan Diskusi. Pada hari pertama ini, acara diawali dengan presentasi mengenai pentingnya mangrove untuk ketahanan pesisir. Fungsi mangrove sebagai penyerap karbon, dan peran ekosistem ini dalam mendukung mata pencaharian masyarakat lokal," ungkapnya.

Kemudian, sambung Kasto, sesi diskusi interaktif bersama para ahli dan pejabat pemerintah, juga dilakukan untuk memberikan wawasan lebih dalam tentang tantangan dan peluang dalam rehabilitasi mangrove.

Selanjutnya, kunjungan lapangan ke lokasi Rehabilitasi Mangrove, pada hari kedua dan ketiga. Media diajak ke lokasi rehabilitasi mangrove di Langkat dan Deli Serdang. Di lokasi ini, para jurnalis menyaksikan langsung hasil dari upaya restorasi mangrove dan bertemu dengan masyarakat yang kini memanfaatkan mangrove untuk kegiatan produktif, seperti pembuatan kerupuk ikan baronang, gula nipah, dan batik berbahan pewarna alami dari mangrove.

Lalu, tambah Kasto, diskusi dan testimoni dari komunitas lokal. Sesi ini menghadirkan tokoh-tokoh masyarakat dan pegiat lingkungan yang aktif terlibat dalam program M4CR. Melalui sesi tersebut, para jurnalis dapat mendengar langsung cerita dari masyarakat yang terdampak, yang tidak hanya merasakan perlindungan alam tetapi juga manfaat ekonomi yang muncul dari konservasi mangrove.

"Dengan diselenggarakannya Media Gathering ini, harapannya menjadi sarana bagi publik untuk memahami urgensi konservasi mangrove serta dukungan yang dapat diberikan oleh masyarakat untuk menjaga ekosistem ini. Peran media sangat krusial dalam menyebarkan informasi tentang pentingnya mangrove, baik untuk ketahanan iklim maupun untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir," tandasnya. (dwi/tri)

Editor : Redaksi
#rehabilitasi mangrove