MEDAN, SUMUTPOS.CO - Puluhan pelajar beserta keluarga korban pemerkosaan gadis keterbelakangan mental berinisial SH, berunjukrasa di Mapolrestabes Medan. Mereka kecewa atas lambatnya penanganan kasus tersebut, yang hingga kini pelaku belum ditangkap.
“Kita sebagai PH korban kecewa dengan kinerja Polrestabes Medan. Artinya, sudah jelas pada tanggal 6 Desember kita sama-sama dengan Kapolrestabes mendatangi kediaman korban,” ujar kuasa hukum korban, Bernard Simaremare, Senin (16/12).
Menurut Bernard, kehadiran Kapolrestabes Medan ke rumah korban, pada Jumat (6/12) lalu, merupakan bentuk atensi atas kasus tersebut untuk segera diusut.
“Ini kan sudah atensi Kapolrestabes, namun sampai pada hari ini orang yang pertama mengantar si korban belum juga dipanggil,” katanya.
Penarik betor yang mengantar SH pulang pada saat itu, menurutnya, dapat menjadi saksi kunci dalam kasus tersebut. Pasalnya, korban SH diyakini tidak dapat mengetahui arah jalan pulang ketika ditinggal disuatu tempat.
Bahkan, beberapa hari lalu korban SH dikatakan mengalami pendarahan dan tidak sadarkan diri.
“Kami tidak menyalahkan siapa pun. Kalau tukang becak dipanggil, bisa mendapat informasi, bisa menjadi saksi kunci. Coba ditanya dari mana yang kamu dapatkan itu. Karena kalau korban, diletakkan di suatu tempat ditanya alamatnya dia tidak tahu itu. Kenapa bisa sampai ke rumah itu,” katanya lagi.
Pihak Sat Reskrim Polrestabes Medan pun menerima utusan massa yang mewakili PH korban untuk bermediasi. Dalam mediasi itu, kata Bernard, petugas disebutkan akan melakukan pengecekan cctv di kawasan kediaman korban.
Dia berharap petugas dengan cepat menangani kasus tersebut dan menangkap pelakunya. “Jadi harapan kami sebagai PH korban, siapapun pelakunya segera ditangkap,” pungkasnya. (man)
Editor : Redaksi