MEDAN, SUMUTPOS.CO -Menjadi orang tua dari anak autistik bukanlah hal mudah. Dibutuhkan hati yang luas, kesabaran yang tak terbatas, dan tentu saja dukungan dari lingkungan dan komunitas.
Berbicara tentang autisme bukan hanya berhenti pada mencermati dan menganalisisnya sebagai kondisi, melainkan juga tentang bagaimana peran spiritualitas dan ketangguhan jiwa menjadi kekuatan utama dalam mendampingi anak-anak yang terlahir istimewa.
Hal ini disampaikan Presiden AURA (Autism Awareness Association) Indonesia, Revita Lubis, yang hadir sebagai seorang pembicara dalam talk show interaktif AURA bertajuk, “Spiritual Parents with Autistic Children” di Atrium Manhattan Time Square, Minggu (18/5) lalu.
Talk Show tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Women Leader Festival 2025 yang diselenggarakan oleh Perpina Sumut, IWAPI Sumut, AURA Indonesia, dan Lions Club Medan.
Narasumber lainnya adalah Monalisa Elizabet yang berprofesi sebagai dokter tumbuh kembang anak di RS Columbia Asia, serta R Hidayatin selaku psikolog dan treasurer AURA, dipandu Sekjen AURA Ika Purnama Dewi sebagai moderator.
“Melalui talk show ini, kami dari AURA Indonesia ingin memberikan ruang refleksi dan pembelajaran, agar setiap orang tua yang dianugerahi anak istimewa, tidak merasa sendiri. Setiap langkah mereka dihargai dan mengingatkan kembali, cinta yang dibangun atas dasar spiritualitas dapat menciptakan rumah yang aman dan penuh cahaya bagi anak-anak kita,” ungkap Revita optimis.
Revita yang juga menjabat Ketua YPAC Medan, yang menangani anak-anak berkebutuhan khusus, termasuk anak-anak autis, mengungkapkan sedikit pengalamannya sebagai orang tua yang memiliki anak istimewa.
“Yang paling pertama sekali kita lakukan itu adalah sebagai orangtua harus menerima kondisi anak tersebut, juga meyakini dalam pendekatan agama, yang percaya itu adalah berkah dari Allah Subhanahu wa Taala. Kita diberikan kepercayaan untuk memiliki anak-anak istimewa, karena kita dianggap mampu oleh Allah.
Dasarnya harus dibawa ke agama dulu, agar bisa menerima semuanya dengan tulus, bahwa mereka adalah anak-anak surga yang membawa rezeki bagi orangtuanya. Spiritual parenting itu penting untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda dalam mengasuh mereka.
Anak-anak istimewa itu, sesungguhnya memiliki banyak kelebihan yang bisa kita maksimalkan potensinya. Hanya saja, cara mengasuhnya tentu berbeda dengan anak-anak normal, yang sebenarnya juga ada kekurangannya,” beber Revita.
Menurut Revita, talk show yang diisi oleh para ahli di bidangnya tersebut, merupakan media untuk berbagi ilmu, pengalaman, dan panduan praktis bagi para orangtua istimewa.
“Saya percaya, dari ruang diskusi seperti inilah, benih-benih perubahan akan tumbuh. Untuk keluarga, untuk masyarakat, dan untuk Indonesia yang lebih inklusif,” jelasnya.
Sementara itu, R Hidayatin sebagai psikolog dan treasurer AURA, menjelaskan, berbicara tentang anak istimewa, orang tua juga punya masalah mental yang tidak ringan.
“Ketidaksiapan orang tua untuk menerima anak-anak yang berbeda ini, akan membuat mentalnya juga akan bermasalah.
Sehingga orang tua ini yang juga harus lebih banyak dikuatkan dan bantu untuk menerima anaknya. Maka, bagaimana orang tua menangani anaknya, begitulah hasilnya. Jadi kalau kita menghadapi orang tua dengan mental illness yang tidak bisa menerima kondisi anaknya sebagai anak yang istimewa, maka kondisi si anak juga bukannya makin baik. Tapi malah semakin buruk karena tidak mendapatkan treatment, pendidikan dan intervensi apapun, karena dianggap sebagai anak gagal.
Ya sudahlah, ini anak mau digimana-gimanain pun gakkan bisa apa-apa lagi. Ada mindset orang tua yang seperti itu,” katanya dengan nada prihatin.
Monalisa Elizabet selaku narasumber yang berprofesi sebagai dokter tumbuh kembang anak, menegaskan pentingnya mencermati tumbuh kembang anak sejak dini.
“Pertumbuhan dan perkembangan itu sebenarnya dua hal yang berbeda. Pertumbuhan itu contohnya berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan lainnya. Sementara perkembangannya dapat dilihat dari cara anak berbicara, berjalan, motorik halus, motorik kasar, sosialisasinya, dan kemandiriannya. Maka berhati-hatilah saat anak kita melewati fase perkembangan yang tidak seharusnya, misalnya tidak merangkak langsung berjalan, atau kurang merespons apa yang kita katakan. Indikasi itu terlihat wajar, namun harus tetap diwaspadai sebagai autism dengan berkonsultasi kepada dokter. Agar dapat diuji dan diteliti lebih lanjut,” imbaunya.
Selain talk show, di tempat yang sama, AURA juga menghadirkan konsultasi gratis dan screening awal autisme bekerja sama dengan ILA Education, yang disambut dengan antusias oleh para pengunjung kegiatan maupun pengunjung Manhattan Times Square. (rel/saz)
Editor : Redaksi