Pementasan monolog “Bias Lampu Kota” karya Medan Teater menjadi rangkaian utama pada Atma Loka 2026 yang telah digelar pada Sabtu, 7 Februari 2026, di Gedung Utama Taman Budaya Medan. Pementasan ini dilaksanakan dalam dua sesi, yakni pada pukul 15.00 WIB dan 20.00 WIB.
Monolog tersebut dibawakan oleh Aucintia Agnes R. Manik, seorang pelaku teater muda asal Kota Siantar, mengangkat kisah kehidupan perempuan di tengah hiruk-pikuk kota. Aucintia menjelaskan bahwa kata “bias” dimaknai sebagai pendar cahaya di malam hari yang menyinari berbagai sisi kehidupan perempuan di kota.
“Bias itu ‘kan seperti berpendar. Jadi, ‘Bias Lampu Kota’ ini mau menyampaikan bagaimana pendar lampu kota itu menerangi wanita-wanita; wanita yang mengekang, wanita yang menolak, wanita yang menerima, wanita yang berjuang, semuanya dirasakan oleh wanita kota,” terang Aucintia.
Pementasan monolog ini menggambarkan realitas kehidupan perempuan kota dengan latar belakang dan pilihan hidup yang berbeda. Meski naskahnya tidak menawarkan solusi apapun terhadap persoalan yang dihadirkan, Aucintia berharap penampilannya dapat menjadi ruang refleksi bagi para wanita yang menyaksikannya.
Selain pementasan monolog, Atma Loka 2026 turut menghadirkan penampilan musik perkusi oleh Lana Percussion sebagai pembuka acara serta pameran seni lukis yang menampilkan karya-karya seniman lokal dengan tema yang senada.
Pimpinan Produksi Atma Loka 2026, Talitha Nabilah Ritonga, menyampaikan bahwa Atma Loka hadir sebagai wadah bagi para komunitas seni pertunjukan di Kota Medan, khususnya di bidang seni peran atau teater. Menurutnya, pemilihan pementasan monolog sebagai pembuka Atma Loka bertujuan memperkenalkan kembali monolog sebagai bagian penting dari teater kepada publik.
“Pementasan monolog menjadi langkah awal bagi Atma Loka, demi memperkenalkan serta mengingatkan bahwa monolog adalah bagian dari teater,” kata Talitha.
Pada panggung pertamanya ini, Atma Loka bekerja sama dengan salah satu komunitas teater di Kota Medan, yaitu Medan Teater. Penjalinan kerja sama dengan Medan Teater dilakukan setelah tim Atma Loka menyaksikan langsung pementasan “Meja Makan Mikir-Mikir” yang dibawakan oleh Medan Teater pada 2025 silam.
“Kami memilih Medan Teater setelah menonton salah satu pementasan mereka yang berjudul “Meja Makan Mikir-Mikir”. Nah, kami menilai dan langsung jatuh hati kepada salah satu aktornya, yaitu Aucintia. Sejak itu, kami mulai membangun komunikasi dan mengajak mereka untuk bekerja sama,” ujarnya.
Melalui Atma Loka 2026, Talitha berharap seni pertunjukan di Kota Medan dapat terus berkembang dan beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Ia juga berkeinginan agar kehadiran Atma Loka bisa menjadi ruang untuk mempertunjukkan karya seni untuk dinikmati oleh berbagai kalangan masyarakat. (sih)
Editor : Redaksi