DELI SERDANG, SUMUT POS - Batuk itu kembali memecah keheningan sore di rumah sederhana di Jalan Suka Maju, Pasar VII, Tembung, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Suaranya berat, disusul napas yang tersengal-sengal. Beberapa kali Saiman (84) menutup mulut dengan sapu tangan lusuh, lalu memejamkan mata, berusaha menarik napas yang terasa semakin berat.
Di sampingnya, sang istri, Ismiah, sigap menyodorkan segelas air hangat dan obat. Dengan tangan yang mulai bergetar, veteran pejuang kemerdekaan itu menerimanya dengan perlahan. "Kalau sesaknya datang malam hari, saya tidak bisa tidur," ujarnya kepada Sumut Pos di kediamannya, Rabu (10/6/2026).
Di ruang tamunya, hanya ada sofa tua, empat bingkai foto Saiman semasa muda berseragam pejuang, serta sejumlah piagam penghargaan yang mulai menguning dimakan usia. Kini, Saiman menghabiskan masa tuanya bersama sang istri. Kelima anaknya telah berkeluarga dan tinggal terpisah.
Lahir pada 1 Juni 1942, saat remaja Saiman bergabung sebagai pejuang sipil (veteran non-TNI). Pada 1964, ia terlibat dalam operasi pengamanan di Riau dan Jakarta sebelum akhirnya kembali ke tanah kelahirannya di Sumatera Utara. Dan menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kenangan masa perjuangan itu kembali hidup dalam ingatannya. Baginya, kemerdekaan bukan hanya kenangan tentang perjuangan di medan perang, tetapi juga keyakinan bahwa negara tetap hadir melindungi para pejuangnya melalui jaminan kesehatan. "Jika nanti masih diberi umur sampai 17 Agustus, saya ingin melihat bendera Merah Putih berkibar lagi," ucap Saiman pelan.
Namun, untuk mewujudkan harapan sederhana itu, ia harus berjuang di tengah kondisi kesehatan yang terus menurun. Penumpukan cairan di paru-parunya menyebabkan sesak napas yang terus berulang. Hipertensi, nyeri tulang, dan gangguan pendengaran semakin menggerus kondisi fisiknya. Dalam sebulan, dua hingga tiga kali ia harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Sepekan sebelum wawancara ini dilakukan, Saiman baru saja pulang menjalani perawatan selama empat hari di Rumkit TK II Putri Hijau Kesdam I/Bukit Barisan Medan, Jalan Putri Hijau, Medan. Berulang kali menjalani rawat inap tentu bukan perkara ringan bila seluruh biaya harus ditanggung sendiri. "Kalau berobat pakai biaya sendiri, tentu saya tidak sanggup. Uang tunjangan veteran sangat kecil. Untuk makan sehari-hari saja kadang masih kurang," katanya.
Bagi Saiman, perjuangan kini bukan lagi mengangkat senjata, melainkan menjaga tubuh yang terus menua. Dalam perjalanan itu, Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan memberinya ketenangan untuk menjalani pemeriksaan, pengobatan, hingga rawat inap tanpa dibayangi persoalan biaya. "Alhamdulillah saya bisa berobat gratis. Kalau pakai uang sendiri mungkin biayanya puluhan juta. Saya bersyukur negara masih ingat kami," ujar Saiman tersenyum.
Kisah Saiman bukan sekadar tentang seorang veteran, melainkan potret nyata bagaimana semangat gotong royong dalam Program JKN menjaga para pejuang bangsa di hari tua. Ketika seorang peserta sehat, ia tetap membayar iuran. Ketika peserta lain sakit, iuran itulah yang menopang pelayanan kesehatan. Hari ini Saiman menjadi penerima manfaat. Esok hari, siapa pun dari kita bisa berada di posisi yang sama.
Dari kisah Saiman, membawa Sumut Pos menyusuri Rumkit TK II Putri Hijau Kesdam I/Bukit Barisan Medan, tempat ia beberapa kali menjalani perawatan. Di ruang tunggu, prajurit aktif, pensiunan TNI, veteran, hingga masyarakat umum duduk berdampingan menanti panggilan dokter. Wajah-wajah mereka memancarkan harapan akan kesembuhan.
Kepala Penerangan Kodam I/Bukit Barisan (Kapendam I/BB), Kolonel Inf Sandy, S.I.P., M.Han., mengatakan JKN bersama layanan Rumkit TK II Putri Hijau menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran negara untuk memastikan para pejuang kemerdekaan tetap memperoleh perlindungan kesehatan yang mudah diakses dan bermutu. "Rumkit TK II Putri Hijau memberikan pelayanan kepada personel TNI, keluarga, masyarakat umum, termasuk para veteran, dengan layanan yang mudah diakses dan berkualitas sebagai bentuk kepedulian Kodam I/Bukit Barisan terhadap para pejuang bangsa,” ujar Sandy kepada Sumut Pos.
Namun, menurut Sandy, pelayanan bagi para veteran masih menghadapi sejumlah tantangan. Mayoritas veteran kini berhadapan dengan penyakit kronis akibat pertambahan usia. Sebagian lainnya tinggal di wilayah yang akses layanan kesehatannya masih terbatas. "Karena itu, koordinasi antara pemerintah, organisasi veteran, dan penyelenggara JKN perlu terus diperkuat agar pelayanan semakin efektif. Edukasi mengenai hak dan manfaat JKN bagi para veteran juga masih perlu diperluas agar seluruh veteran dapat memanfaatkan layanan yang tersedia secara optimal,” pungkas Sandy.
Semangat gotong royong dalam JKN telah menjangkau hampir seluruh penduduk Indonesia. Hingga 1 Mei 2026, sebanyak 285 juta jiwa atau 98,87 persen penduduk telah menjadi peserta JKN. Di Sumatera Utara, cakupannya bahkan mencapai 99,42 persen. Di antara 285 juta peserta JKN itu, terdapat 70.230 jiwa veteran memperoleh perlindungan, termasuk 3.054 jiwa veteran di Sumatera Utara.
Deputi Direksi Wilayah I Sumut-Aceh BPJS Kesehatan Mustafa mengatakan JKN dibangun dengan sistem gotong royong melalui mekanisme subsidi silang, yaitu peserta yang sehat membiayai peserta yang sakit. BPJS Kesehatan juga berkomitmen memastikan seluruh penduduk, termasuk kelompok rentan, tetap memperoleh akses layanan kesehatan yang adil dan berkualitas. "BPJS Kesehatan terus berkolaborasi dengan pemerintah, fasilitas kesehatan, dan berbagai pemangku kepentingan agar kelompok rentan, termasuk masyarakat miskin, lanjut usia, penyandang disabilitas, dan warga di wilayah terpencil, tetap memperoleh akses layanan kesehatan yang mudah dijangkau," ujar Mustafa kepada Sumut Pos.
Baca Juga: FMSP Nilai Sinergi Tiorita Br Surbakti–Samsul Rizal Berpotensi Perkuat Arah Pembangunan Langkat
Mustafa mengatakan penyakit katastropik masih menjadi penyumbang terbesar pembiayaan layanan kesehatan di Sumatera Utara. Penyakit jantung menjadi kasus terbanyak, disusul stroke, kanker, dan gagal ginjal. "Di balik besarnya pembiayaan penyakit katastropik, JKN terus menunjukkan manfaatnya. Salah satunya tercermin dari meningkatnya Umur Harapan Hidup masyarakat Sumatera Utara, dari 73,90 tahun pada 2024 menjadi 74,19 tahun pada 2025," pungkas Mustafa.
Pemerhati Kesehatan sekaligus Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dr Deliyuzar, MKed(PA), SpPA(K), menilai JKN memberikan rasa aman bagi kelompok rentan, termasuk para veteran yang memiliki risiko kesehatan lebih tinggi di usia lanjut. "Memastikan veteran memperoleh layanan kesehatan yang mudah diakses bukan hanya persoalan pelayanan medis, tetapi juga bentuk penghormatan atas pengabdian mereka kepada negara," kata Deliyuzar kepada Sumut Pos.
Menurut Deliyuzar, gotong royong dalam JKN merupakan investasi sosial yang menjaga kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat pembangunan nasional. "Ketika masyarakat memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan tanpa harus dibebani kekhawatiran biaya, kualitas hidup akan meningkat, produktivitas terjaga, dan pembangunan nasional pun menjadi lebih kuat," tuturnya.
Gambaran itu tercermin dalam kehidupan Saiman. Di usia senjanya, ia tak lagi memikirkan biaya rumah sakit. Energinya hanya difokuskan untuk menjalani pengobatan dan menikmati hari-hari bersama sang istri. Kini, tak ada lagi suara tembakan. Tak ada lagi komando perang. Medan juang Saiman telah berganti menjadi ruang-ruang perawatan rumah sakit, tempat ia berjuang melawan penyakit yang terus menggerus tubuhnya.
Baca Juga: Polres Batu Bara Gelar Minggu Kasih, Salurkan Sembako untuk Warga Kurang Mampu di Sejumlah Kecamatan
Namun, ia tak pernah berjuang sendirian. Di balik setiap obat yang diminumnya, setiap infus yang menetes, hingga setiap kali ia pulang dengan napas yang kembali lega, ada jutaan peserta JKN yang bergotong royong menopangnya. Gotong royong itu telah menjelma menjadi harapan yang menjaga seorang pejuang tetap bertahan di usia senja. Di senja sang pejuang, harapan itu memang tak pernah padam. (ila)
Editor : Redaksi