PFI Medan Gelar Pameran “Prahara Pulau Emas”, Hadirkan 68 Foto Bencana Sumatra

Triadi Wibowo • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 11:52 WIB
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Ketua PFI Medan Riski Cahyadi melihat 68 karya foto yang dipamerkan dalam “Prahara Pulau Emas” di Atrium Plaza Medan Fair, Rabu (19/8/2026). (Dok. PFI Medan)
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Ketua PFI Medan Riski Cahyadi melihat 68 karya foto yang dipamerkan dalam “Prahara Pulau Emas” di Atrium Plaza Medan Fair, Rabu (19/8/2026). (Dok. PFI Medan)

 

MEDAN - Sebanyak 68 karya foto yang merekam bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dipamerkan dalam “Prahara Pulau Emas” di Atrium Utara Plaza Medan Fair, Lantai 1, Medan, Rabu (19/8/2026).

Pameran yang digelar Pewarta Foto Indonesia (PFI) bersama Yayasan mataWaktu dan PLN tersebut menjadi rangkaian terakhir road show pameran foto di tiga kota, setelah sebelumnya berlangsung di Padang dan Banda Aceh. Pembukaan pameran dilakukan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Ketua PFI Medan Riski Cahyadi.

Sebanyak 68 karya yang dipamerkan merupakan bagian dari 140 karya yang telah dibukukan. Karya tersebut dihasilkan 48 pewarta foto dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh, Medan, Padang hingga Jakarta, termasuk fotografer dari kantor berita asing, kantor berita nasional dan media di Sumatera Utara.

Korwil PFI Sumatera Utara Hendra Syamhari dan Ketua Panitia Pameran Irsan Mulyadi bersama Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas dalam pameran foto “Prahara Pulau Emas” di Atrium Plaza Medan Fair, Rabu (19/8/2026). (Dok. Kominfo Medan)
Korwil PFI Sumatera Utara Hendra Syamhari dan Ketua Panitia Pameran Irsan Mulyadi bersama Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas dalam pameran foto “Prahara Pulau Emas” di Atrium Plaza Medan Fair, Rabu (19/8/2026). (Dok. Kominfo Medan)

 

Ketua Panitia Pameran, Irsan Mulyadi, mengatakan pameran tersebut tidak sekadar menampilkan kesedihan akibat bencana, tetapi menjadi pengingat bahwa Sumatra merupakan wilayah yang rawan bencana.

“Kita bukan mau bersedih dengan pameran foto ini. Tetapi kita ingin mengingatkan kepada masyarakat bahwa kita hidup di daerah bencana. Kapan saja bencana itu bisa terjadi. Jadi kita harus bisa memitigasi, kita harus bisa berempati,” ujar Irsan.

Menurutnya, pesan utama yang ingin disampaikan melalui rangkaian foto tersebut adalah harapan dan semangat untuk bangkit setelah bencana.

“Bukan kita mau memamerkan tentang kesedihan. Tetapi ada satu harapan yang ingin kita sampaikan kepada publik. Bahwa ini kita harus bangkit,” tegasnya.

Pengurus PFI Medan bersama Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas
dalam pameran foto “Prahara Pulau Emas” di Atrium Plaza Medan Fair, Rabu (19/8/2026). (Dok. Kominfo Medan)
Pengurus PFI Medan bersama Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas dalam pameran foto “Prahara Pulau Emas” di Atrium Plaza Medan Fair, Rabu (19/8/2026). (Dok. Kominfo Medan)

 

Irsan menambahkan, PFI juga aktif memberikan edukasi fotografi dan jurnalistik di sekolah maupun berbagai lembaga. Ia menyebut PFI menjadi satu-satunya organisasi pewarta foto di Indonesia yang memiliki empat anggota bergelar doktor dan sedikitnya delapan anggota bergelar master.

Sementara itu, Wali Kota Medan Rico Waas mengapresiasi karya para pewarta foto yang dinilainya memiliki kekuatan dalam merekam sekaligus menyampaikan cerita dari sebuah peristiwa.

“Sebuah foto itu menceritakan ribuan kata. Karena dia di salah satu frame yang tidak bergerak, tapi kita yang bisa memaknainya, bisa menceritakan mungkin panjang lebar dari A sampai Z,” ujar Rico.

Rico mencontohkan salah satu foto yang menampilkan seorang laki-laki mengenakan duster saat banjir. Menurutnya, foto tersebut tidak hanya menggambarkan kondisi banjir, tetapi juga menyiratkan situasi masyarakat yang ketika itu belum mendapatkan bantuan pakaian.

Baca Juga: 19 Tahun Alfamidi: Perjalanan untuk Terus Berdampak

Rico juga mengenang kondisi saat bencana banjir melanda Medan pada 26 November 2025. Ia mengatakan malam itu dirinya bersama jajaran OPD dan Forkopimda tidak tidur karena debit Sungai Deli meningkat sangat cepat.

Bahkan, sejumlah camat sempat sulit dihubungi karena rumah mereka ikut terendam. Rico mengaku masih mengingat cerita seorang camat yang bertahan selama dua hari bersama keluarganya.

“Saya hanya mikirkan anak saya. Anak saya kasih makan pakai Indomie sama air dingin,” kenangnya.

Rico menegaskan Pemerintah Kota Medan terbuka untuk berkolaborasi dengan PFI dan menyediakan ruang untuk kegiatan pameran foto serupa di masa mendatang.

Sementara itu, Korwil PFI Sumatera Utara Hendra Syamhari mengatakan “Prahara Pulau Emas” sebelumnya telah diluncurkan dalam bentuk buku foto di Yogyakarta pada 25 Juli 2026. Pameran kemudian berlanjut di Istana Pagaruyung, Tanah Datar, Sumatera Barat, serta Banda Aceh pada 3–8 Agustus 2026.

Baca Juga: Trump Klaim Korut Punya 57 Senjata Nuklir, Tegaskan Tak Akan Membiarkannya

Menurut Hendra, karya-karya tersebut menjadi bukti perjuangan para pewarta foto yang rela meninggalkan keluarga untuk merekam kondisi masyarakat di tengah bencana.

“Ada adik kita, Yudi. Anaknya masih bayi, dia tinggalkan anak dan istrinya naik sepeda motor untuk meliput,” katanya.

Ia menegaskan, dokumentasi tersebut penting sebagai catatan sejarah bagi generasi mendatang.

“Besok anak cucu kita akan melihat Sumatra pernah hancur akibat tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Ini sebuah sejarah yang sudah kita torehkan,” ujarnya.

Pameran “Prahara Pulau Emas” juga mendapat dukungan dari Pelindo Multi Terminal, PT Agincourt Resources dan Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1. (rel/tri)

Editor : Redaksi
Prahara Pulau Emas Foto Bencana Sumatra pfi medan