Pertumbuhan Ekonomi Medan Melesat 6,54%, Pakar Sebut Kritik Dewan Tak Berdasar Data

Juli Rambe • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 12:17 WIB
Pengamat Ekonomi dari Unpab, DR Bakhtiar Effendi SE, M.Si. (Dok: Bakhtiar Effendi)
Pengamat Ekonomi dari Unpab, DR Bakhtiar Effendi SE, M.Si. (Dok: Bakhtiar Effendi)

 

MEDAN, SUMUT POS- Pengamat ekonomi dari Universitas Pembangunan Panca Budi (UNPAB) Medan, DR Bakhtiar Effendi SE, M.Si, meluruskan polemik terkait rapor perekonomian Kota Medan.

Bakhtiar membantah keras tudingan Anggota DPRD Medan Godfried Effendi Lubis, yang menyebut pertumbuhan ekonomi dan inflasi tinggi di ibu kota Sumatera Utara ini terjadi akibat kegagalan kepemimpinan.

Bakhtiar menegaskan, kritik yang dilayangkan legislatif dari PSI tersebut tidak berbasis data riil di lapangan.

Baca Juga: Operasional 13 SPPG di Kota Medan Diberhentikan Sementara, Rico Waas : Sifatnya Evaluasi agar Lebih

Berdasarkan data yang dipaparkan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian pada medio April 2026 lalu, pertumbuhan ekonomi Kota Medan sukses menyentuh angka 6,54 persen.

"Kritikan dari Anggota DPRD Medan itu sepertinya tidak membaca data. Saya menyampaikan ini supaya tidak terjadi konsumsi informasi yang liar dan tak berdasar di tengah masyarakat," ujar Bakhtiar kepada awak media, Rabu (26/8).

Menurut Bakhtiar, lonjakan pertumbuhan ekonomi hingga 6,54 persen ini menjadi rekor tertinggi pasca-pandemi Covid-19. Pencapaian tersebut tidak lepas dari keberhasilan kepemimpinan komando Wali Kota Rico Waas yang gencar melakukan transformasi program dan akselerasi digitalisasi.

Berdasarkan indikator teknologi keuangan, transaksi digital di Kota Medan melesat tajam. Dari total 3,2 juta pengguna aplikasi digital di Sumatera Utara yang menghasilkan 144 juta transaksi, sebesar 90,5 persen perputarannya berada di Kota Medan.

"Kehadiran pemimpin kota itu sangat menentukan. Pemerintah hadir menghidupkan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai penopang kekuatan ekonomi kerakyatan di tengah jepitan ekonomi makro," paparnya.

Langkah taktis yang dilakukan Pemko Medan antara lain mengintegrasikan UMKM dalam setiap agenda publik. Mulai dari Car Free Day, Car Free Night, bazar kuliner, hingga event nasional seperti MTQ dan APEKSI. 

Selain itu, optimalisasi wilayah gelap menjadi sentra kuliner terang—seperti di kawasan Pasar Petisah—terbukti ampuh mendongkrak lapangan kerja baru melalui pertumbuhan kafe, coffee shop, dan masuknya franchise nasional.

Sektor perdagangan dan jasa di Medan juga mencatat eskalasi masif sejak Maret hingga Juli 2026. Momentum belanja beruntun, mulai dari persiapan Idul Adha hingga tahun ajaran baru sekolah, berhasil mengerek nilai transaksi ekonomi di Kota Medan hingga menembus angka Rp 200 triliun lebih.

Warning Kendali Inflasi

Kendati mencatatkan pertumbuhan impresif di atas 5 persen, Bakhtiar tetap memberikan catatan merah bagi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Medan. 

Medan dinilai sangat dependen terhadap daerah produsen untuk menyuplai komoditas pokok seperti beras, ayam, ikan, dan cabai.

Saat ini, harga bahan pokok terus merangkak naik imbas rusaknya lahan persawahan akibat banjir di wilayah Aceh, Sumut, dan Sumbar. Masalah ini diperparah oleh kelangkaan solar yang memicu lonjakan biaya distribusi, serta naiknya harga pakan ternak dan faktor perubahan iklim.

"Pasar Kota Medan masih sangat optimistis. Namun, karena ketergantungan pasokan dari luar daerah, TPID Kota Medan harus bersinergi ketat dengan tim inflasi provinsi untuk mengendalikan harga," cetusnya.

Di akhir penjelasannya, Bakhtiar mengedukasi bahwa inflasi tinggi tidak bisa langsung dicap sebagai kegagalan pemimpin. Jika inflasi dipicu oleh sisi permintaan (Demand-Pull Inflation), hal tersebut justru berdampak positif bagi ekonomi jangka panjang karena akan merangsang peningkatan produksi dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan baru. (adz/ram)

 

Editor : Juli Rambe
pertumbuhan ekonomi medan bakhtiar effendi inflasi medan