RPN-BPDP-Ditjenbun: Salah Pilih Bibit, Pekebun Bisa Menanggung Kerugian Bertahun-tahun

Asih Astuti • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 12:19 WIB
Pelatihan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit bagi pekebun Kabupaten Simalungun di Medan. (Istimewa)
Pelatihan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit bagi pekebun Kabupaten Simalungun di Medan. (Istimewa)

 

MEDAN — Memilih bibit bukan sekadar tahap awal menanam kelapa sawit. Bagi pekebun, keputusan memilih bahan tanam merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan produktivitas kebun selama bertahun-tahun.

Kesalahan memilih bahan tanam dapat baru terlihat setelah tanaman memasuki masa menghasilkan. Ketika itu, waktu, biaya dan tenaga yang telah dikeluarkan pekebun sudah tidak sedikit.

Pesan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit bagi pekebun Kabupaten Simalungun di Medan. Pelatihan ini dilaksanakan Riset Perkebunan Nusantara (RPN) dengan dukungan Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPDP) dan Ditjenbun sebagai bagian dari upaya memperkuat kompetensi pekebun.

M. Yusuf Lubis, SP, SE, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara, saat pembukaan pelatihan meminta 126 pekebun Simalungun memanfaatkan kegiatan tersebut untuk memperkuat pengetahuan teknis, termasuk dalam memilih kecambah, bahan tanam dan bibit unggul.

Baca Juga: Antusiasme Tinggi, Anak-Anak Desa Huta III Dolok Ikuti Les dan Maghrib Mengaji Bareng KKN UINSU

Menurutnya, pengalaman mengelola kebun perlu dilengkapi dengan perkembangan teknologi budidaya. Sebab, keputusan yang dibuat sejak awal penanaman akan berpengaruh terhadap hasil kebun dalam jangka panjang.

 

Bibit Adalah Investasi Jangka Panjang

Yusuf menekankan, pemilihan kecambah dan bahan tanam merupakan salah satu keputusan paling penting dalam membangun perkebunan kelapa sawit.

Pekebun membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum tanaman menghasilkan. Karena itu, menggunakan bahan tanam yang tidak jelas kualitasnya berisiko membuat investasi kebun tidak memberikan hasil sesuai harapan.

“Jangan tanam sekarang, lima tahun kemudian gagal. Sudah capek menunggu, sudah lama menunggu, ternyata hasilnya tidak memuaskan,” tegasnya.

Baca Juga: Buntut Kebakaran Dapur Penyulingan Minyak Ilegal, Polres Langkat Panggil Kades Air Hitam

Karena itu, pekebun perlu memahami asal-usul bahan tanam dan memastikan bibit yang digunakan memiliki kualitas yang baik. Hal tersebut semakin penting bagi pekebun yang akan melakukan penanaman baru maupun peremajaan kebun.

Dengan kata lain, penghematan pada tahap pembelian bibit tidak seharusnya mengorbankan kualitas bahan tanam. Sebab, keputusan tersebut akan dibawa tanaman selama bertahun-tahun.

Produktivitas Dimulai dari Bahan Tanam

Pemilihan bibit menjadi bagian dari rangkaian upaya meningkatkan produktivitas sawit rakyat. Setelah bahan tanam dipilih dengan baik, produktivitas tetap membutuhkan pemeliharaan dan penerapan teknologi budidaya yang tepat.

Baca Juga: Tak Ada Lampu Penerangan, Mobil Wisatawan Nyemplung ke Sungai Batangserangan: 3 Tewas

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Simalungun, Jenri Saragih, sebelumnya menekankan bahwa peningkatan produktivitas kebun rakyat harus dilakukan melalui penerapan good agricultural practices (GAP), mulai dari penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pengendalian hama dan penyakit, pemeliharaan tanaman hingga pemanenan sesuai standar.

Artinya, bibit unggul merupakan titik awal, bukan satu-satunya faktor penentu. Bahan tanam yang baik perlu diikuti dengan pengelolaan kebun yang konsisten agar potensi produksinya dapat dimanfaatkan secara optimal.

Di Simalungun, tantangan tersebut menjadi penting karena produktivitas perkebunan rakyat masih tertinggal dibandingkan perkebunan perusahaan. Data yang disampaikan Jenri menunjukkan perkebunan perusahaan dapat mencapai sekitar 24 ton TBS per hektare per tahun, sementara sebagian besar perkebunan rakyat masih berada pada kisaran 12–15 ton TBS per hektare per tahun.

Jangan Asal Pilih

 

Yusuf juga mendorong pekebun untuk aktif bertanya dan mendiskusikan persoalan teknis selama mengikuti pelatihan. Pengetahuan tersebut penting agar pekebun tidak mengambil keputusan berdasarkan pengalaman semata, terutama ketika menentukan bahan tanam untuk kebun baru maupun peremajaan.

“Mumpung kita sedang mendapatkan narasumber yang andal, silakan dipertanyakan. Kalau tidak tahu, boleh ditanyakan,” katanya.

Menurut Yusuf, bantuan pemerintah seperti bibit, pupuk dan sarana produksi juga tidak akan memberikan hasil maksimal apabila tidak diikuti kemampuan pekebun dalam menggunakannya secara tepat. Karena itu, peningkatan kompetensi menjadi bagian penting dari investasi perkebunan.

Pelatihan SDMP 2026 yang dilaksanakan RPN dengan dukungan BPDP dan Ditjenbun diharapkan membantu pekebun mengambil keputusan yang lebih tepat sejak awal, termasuk dalam memilih bahan tanam, sekaligus menerapkan teknologi budidaya sesuai kondisi kebun.

Pada akhirnya, investasi dalam perkebunan sawit bukan hanya soal menanam dan menunggu panen. Keputusan yang tepat sejak memilih bibit menjadi fondasi untuk menghasilkan tanaman yang produktif, kebun yang efisien dan pendapatan pekebun yang lebih baik dalam jangka panjang. (sih) 

Editor : Redaksi
kelapa sawit bibit sawit rpn ekonomi BPDP