MEDAN, Sumutpos.jawapos.com– Perbedaan di tengah masyarakat bukan alasan untuk saling menjauh, apalagi memicu perpecahan. Sebaliknya, keberagaman harus menjadi modal untuk memperkuat persatuan, merawat kerukunan, dan membangun kehidupan bertetangga yang harmonis.
Pesan itu ditegaskan Wakil Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Medan, Fauzi, S.H., saat kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Jalan Pancasila, Kelurahan Tegal Sari Mandala III, Kecamatan Medan Denai, Minggu (25/10/2026).
Di hadapan masyarakat, anggota Komisi I DPRD Kota Medan tersebut mengingatkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga dan lingkungan sekitar. Menurutnya, perselisihan kecil dalam kehidupan sehari-hari merupakan hal yang wajar, tetapi tidak boleh berkembang menjadi konflik yang merusak kebersamaan.
“Pancasila itu mengajarkan kita tentang persatuan. Jadi, kalau selama ini ada sedikit perselisihan dengan jiran tetangga, itu hal yang biasa, tapi jangan sampai memecah belah kita. Pancasila tidak pernah mengajarkan itu,” ucap Fauzi.
Baca Juga: Kolaborasi Polres-BNN Binjai Razia Kos-kosan, Ada Pria 58 Tahun Positif Narkoba
Ia menegaskan, semangat persatuan harus tumbuh dari kesadaran bahwa setiap warga memiliki kedudukan dan hak yang sama. Perbedaan latar belakang maupun pandangan semestinya diterima sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat, bukan dijadikan alasan untuk membangun sekat antarsesama.
“Tidak ada golongan tertentu, semua warga punya hak yang sama. Ini harus kita tanamkan dalam jiwa sehingga perbedaan itu bisa kita terima dan tetap hidup berdampingan,” ujarnya.
Bagi Fauzi, nilai-nilai Pancasila tidak cukup sekadar dihafalkan atau disampaikan dalam berbagai kegiatan seremonial. Lebih dari itu, Pancasila harus hadir dalam perilaku sehari-hari, mulai dari menghormati tetangga, menjaga kerukunan, hingga membangun kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi bersama.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk memperkuat semangat gotong royong dan saling membantu, terutama ketika lingkungan maupun daerah menghadapi situasi sulit.
Fauzi turut menyinggung dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara. Kondisi tersebut, katanya, telah mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk proses belajar mengajar yang sempat dilaksanakan dari jarak jauh.
“Saat ini Sumatera Utara juga terdampak asap karhutla. Ini menjadi musibah bagi kita, aktivitas terganggu dan proses belajar mengajar sempat jarak jauh. Semoga musibah ini bisa cepat berlalu dan aktivitas normal bisa kembali,” pungkasnya.
Pancasila Harus Dihidupkan dalam Keseharian
Sementara itu, dosen Universitas Alwashliyah (UNIVA), Zuhri Arif Sihombing, S.H., M.H., yang menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut, menekankan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan pedoman kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Menurut Zuhri, Pancasila memiliki kedudukan penting sebagai dasar negara sekaligus landasan dalam membangun cara pandang masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, pemahaman terhadap Pancasila tidak boleh berhenti pada kemampuan menghafal kelima silanya.
Baca Juga: Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Lingkungan, Muslim Harahap Ajak Warga Medan Perkuat Silaturahmi
“Sebelum Indonesia merdeka dirumuskan satu rancangan, itulah Pancasila. Dan Pancasila itu menjadi dasar cara pandang bernegara, makanya sangat penting,” jelasnya.
Ia meyakini sebagian besar masyarakat telah mengenal bunyi lima sila Pancasila. Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana setiap nilai tersebut dipahami dan diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Zuhri mencontohkan, pertengkaran dengan tetangga yang dibiarkan berlarut-larut menunjukkan bahwa nilai persatuan belum sepenuhnya diwujudkan dalam perilaku.
“Ketika Bapak Ibu ribut dengan tetangga, itu sudah melenceng dari Pancasila. Mulai sekarang pahami semua yang terkandung dalam Pancasila, pasti hidup lebih tenang. Jangan jadikan perbedaan membuat kita ribut, justru harus jadi penguat untuk bersatu,” pesannya.
ila dan Wawasan Kebangsaan di Jalan Pancasila, Kelurahan Tegal Sari Mandala III, Kecamatan Medan Denai, Minggu (25/10/20206).
“Pancasila itu mengajarkan kita tentang persatuan. Jadi kalau selama ini ada sedikit perselisihan dengan jiran tetangga, itu hal yang biasa, tapi jangan sampai memecah belah kita. Pancasila tidak pernah mengajarkan itu,” ucap Fauzi.
Anggota Komisi I DPRD Kota Medan ini menegaskan, setiap perbedaan yang muncul di tengah-tengah kehidupan bertetangga harus menjadi dasar dan modal untuk tetap bersatu.
“Tidak ada golongan tertentu, semua warga punya hak yang sama. Ini harus kita tanamkan dalam jiwa sehingga perbedaan itu bisa kita terima dan tetap hidup berdampingan,” ujarnya.
Baca Juga: Ingin Berat Badan Turun Tanpa Berhenti Ngemil? Coba Camilan 80 Kalori Ini
Di situasi saat ini, Fauzi juga mengajak masyarakat untuk bisa bersama-sama menjaga lingkungan dan bahu-membahu dalam mengatasi setiap permasalahan yang ada.
“Saat ini Sumatera Utara juga terdampak asap karhutla. Ini menjadi musibah bagi kita, aktivitas terganggu dan proses belajar mengajar sempat jarak jauh. Semoga musibah ini bisa cepat berlalu dan aktivitas normal bisa kembali,” pungkasnya.
Sementara itu, Dosen Universitas Alwashliyah (UNIVA), Zuhri Arif Sihombing SH MH yang menjadi pemateri pada kegiatan itu memaparkan bahwa semua yang terkandung di dalam Pancasila adalah kebaikan.
“Sebelum Indonesia merdeka dirumuskan satu rancangan, itu lah Pancasila. Dan Pancasila itu menjadi dasar cara pandang bernegara, makanya sangat penting,” jelasnya.
Zuhri meyakini seluruh warga Indonesia mengetahui bunyi lima sila Pancasila. Namun, tidak semua memahami artinya dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Ketika Bapak Ibu ribut dengan tetangga, itu sudah melenceng dari Pancasila. Mulai sekarang pahami semua yang terkandung dalam Pancasila pasti hidup lebih tenang. Jangan jadikan perbedaan membuat kita ribut, justru harus jadi penguat untuk bersatu,” pesannya.(map/han)
Editor : Johan Panjaitan