Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Keluarga Ketaren Tertimpa Kontainer, Lima Tewas

Redaksi • Sabtu, 7 Juli 2012 | 10:41 WIB
Pulang Berlibur dari Bali

KEDIRI-Kecelakaan tragis terjadi di Kediri, Jawa Timur. Sebuah truk kontainer bermuatan terigu menimpa satu unit Toyota Innova. Mobil yang membawa keluarga Jenda Ingan Mahuli Ketaren pulang berlibur dari Bali itu langsung remuk. Lima dari enam orang penumpang mobil berplat yang berasal dari Medan itu pun tewas di tempat. Korban merupakan warga Tapaktuan Aceh Selatan. Kecelakaan tragis terjadi di simpang empat Semampir pukul 01.30 dini hari kemarin.

Sebuah truk kontainer bermuatan terigu seberat 22 ton yang melaju dari arah utara menimpa satu unit Kijang Innova yang melaju dari arah timur Jalan Mataram. Akibatnya, lima dari enam penumpang yang ada di dalam mobil tersebut meninggal dunia di tempat kejadian perkara (TKP) karena tergencet kontainer.

Data yang dihimpun Radar Kediri (grup Sumut Pos) menyebutkan, sekitar pukul 01.30 dini hari kemarin mobil Toyota Kijang Innova bernopol BK 1192 KI yang dikemudikan oleh Khairul Fadli (28) melaju dari arah timur perempatan Semampir atau Jalan Mataram. Dalam kondisi lampu merah yang berwarna kuning, mobil berisi total enam penumpang itu diduga melaju cukup kencang.

Pada saat bersamaan, dari arah utara atau melaju truk kontainer bermuatan terigu yang dikemudikan oleh Imam Syafii (40) asal Bungurasih, Sidoarjo. Karena jarak yang terlalu dekat, truk kontainer berusaha menghindari mobil Innova yang hendak melaju ke arah barat dengan membuang setir ke kanan hingga truk tersebut oleng dan bagian seperempat badan kontainer bagian belakang menimpa mobil Innova. Adapun mobil Panther yang melaju dari arah selatan yang dikemudikan oleh Hadi Biantoro (39) asal Kelurahan Banaran, Pesantren, Kota Kediri selamat karena langsung berhenti setelah melihat kontainer oleng.

Akibat mobil Innova yang tergencet tersebut, satu keluarga dari Aceh Selatan beserta dua sopirnya tewas. Mereka adalah Yulia Sari (38) dan dua anaknya yakni Bella Tamia Graci Ketaren (17) dan Tasya Amalia (12). Selain itu, dua sopir yang dimaksud adalah Khairul Fadli (28) dan Andi (25). Adapun Jenda Ingan Mahuli Ketaren, suami Yulia, yang duduk di bangku depan sebelah kiri atau di samping Khairul selamat. Sebab, bodi kontainer tak sampai menimpanya. Bahkan, Jenda bisa keluar sendiri dari mobil berwarna coklat kehitaman.

Begitu keluar dari kendaraan, Jenda yang merupakan dosen Universitas Muhammadiyah Aceh terlihat shock. Dia terus menangis melihat keluarga dan sopirnya tertimpa kontainer. Beberapa kali didekati anggota Satlantas Polresta Kediri, dia tak bisa mengeluarkan kata-kata. Dia hanya menjawab pertanyaan dengan suara tangis keras.

Sementara itu, proses evakuasi mobil nahas itu memakan waktu lebih dari empat jam. Polresta Kediri yang sudah memanggil tiga unit mobil derek untuk mengangkat kontainer yang menindas mobil Innova itu baru bisa mengangkatnya sekitar pukul 06.00 WIB. Itu pun tak langsung sukses, pada saat awal pengangkatan, kontainer yang sudah terangkat sekitar satu meter kembali terjatuh menimpa mobil Innova karena tiga derek tak kuat. Baru pada proses pengangkatan kedua, mobil derek itu berhasil dipindahkan.

Proses selanjutnya, mobil derek harus mengembalikan posisi mobil Innova yang dalam posisi tergencet ke bentuk semula sebelum mengeluarkan lima korban yang tergencet di dalam mobil. Setidaknya butuh waktu 30 menit untuk proses tersebut sebelum lima mayat itu dibawa ke RS Bhayangkara.
Kecelakaan yang terjadi di perempatan Semampir dini hari kemarin membuat jalan Mayor Bismo macet. Arus ke arah selatan ditutup dan dialihkan ke Jl Mataram serta ke Jembatan Semampir. Pasalnya, ratusan warga menyaksikan proses evakuasi yang berlangsung hingga pagi hari itu.

Langsung Diterbangkan ke Medan


Jeritan warga terdengar cukup keras begitu tiga unit derek yang mengangkat kontainer tak mampu memindahkan dan justru membuat kontainer menimpa Innova lagi. Beberapa warga terlihat menutup mulutnya menahan kengerian tragedi kecelakaan tersebut.

Kerumunan warga baru terurai setelah mobil Innova nahas itu dievakuasi dan dibawa ke Mapolresta Kediri. Adapun truk kontainer dibawa ke balai uji KIR Dinas Perhubungan.

Ratno mengatakan, lima mayat yang meninggal akibat kecelakaan kemarin langsung diterbangkan ke Medan, tempat asal mereka sekitar pukul 12.00 kemarin via bandara Juanda. “Biaya pemulangan ditanggung keluarga, tapi untuk sementara ditalangi oleh pihak RS Bhayangkara,” lanjut Ratno.

Terpisah, Jenda yang ditemui kemarin siang meminta polisi mengusut tuntas kasus kecelakaan tersebut. Jenda mengatakan, seandainya bodi truk tak menimpa mobil yang dikendarainya, keluarga dan sopirnya pasti selamat. “Saya siap mengikuti proses hukumnya. Saya kooperatif,” katanya.

Lebih lanjut Jenda mengatakan, dia dan keluarganya baru saja pulang berlibur ke Bali. Sedianya dia akan langsung ke Jakarta sebelum pulang ke Medan. Tetapi, karena ada janjian dengan temannya di Malang, dia mampir ke beberapa temannya sebelum kecelakaan tersebut.

Ditanya tentang firasat yang dialami, Jenda menyebut tak ada. Sebelum kejadian, dia sempat makan ikan bakar di pasir putih. Tentang kecelakaan yang dialami, sebenarnya istri Jenda sempat mengingatkan Khairul agar tak mengebut dalam mengendarai mobil. “Tapi katanya nggak apa-apa,” lanjut pria yang meminta polisi memproses pengemudi kontainer berikut perusahaan yang menyewa truk untuk mengirim terigu tersebut. (ut/jpnn)

Warga Kediri Tidak seperti Medan


Kecelakaan yang menimpa Jenda Ingan Mahuli Kataren dengan keluarga mengundang cerita haru. Korban selamat dari timpaan kontainer itu akhirnya berbagi kisah. Termasuk, soal warga Kediri yang dianggapnya tak peka.

“Kalau bisa ditolong dengan cepat, saya yakin anak dan istri saya masih bisa selamat. Tetapi masyarakat (Kediri) tidak ada yang mau membantu. Tidak seperti di Medan. Kalau ada kecelakaan seperti itu, warga bahu membahu membantu. Lihat saja luka di tubuh istri dan anak saya, hanya memar-memar di pipi saja. Artinya, karena terlalu lama itu sehingga mereka tidak bisa bertahan,” sesal Jenda, kemarin.

Dia pun bercerita, sebelum kejadian tidak ada tanda-tanda kalau akan mengalami kejadian tragis itu. “Tidak ada firasat apapun. Kami sangat bahagia. Bahkan, ketika magrib kami singgah di sebuah pantai pasir putih lewat daerah Situbondo. Usai salat, kami makan ikan bakar bersama. Anak-anak terlihat sangat lahap makannya. Itu adalah kenangan terakhir kami,” kenang Jenda.

“Anak-anak yang mengajak supaya cepat pulang. Mereka harus masuk sekolah pada Senin yang akan datang. Sementara kami tidak mungkin berangkat di waktu yang mepet. Karena biasanya, kami mampir dulu di Jakarta. Di sana kami menginap selama dua hari, lantas kembali ke Aceh,” imbuh Jenda.

Jenda masih ingat ketika Yulia Sari, istrinya meminta Khairul Fadli sang sopir untuk mengurangi kecepatan mobilnya. Tetapi, Khairul justru mengabaikan. Istrinya sempat gelisah tidak bisa tidur karena mobil tersebut melaju dengan kecepatan tinggi. “Brak! Sebenarnya kami bisa selamat. Tetapi kemudian peti kemas itu menimpa mobil kami. Kebetulan saya berada di sebelah kiri, tidak tertimpa. Saya bisa keluar. Saya sentuh istri saya, yang berada tepat dibelakang saya, ternyata masih bernapas. Saya berusaha mengeluarkannya. Saya meminta tolong, tetapi warga di sekitar hanya menonton, seperti tontonan gratis. Padahal, saya sudah panik sekali,” terang Jenda.

Jenda meminta pertolongan warga supaya mengambil parang atau senjata tajam lainnya yang berukuran besar untuk memecahkan kaca mobil dan mengambil tubuh istrinya. Tetapi, katanya, warga hanya bisa melihatnya tanpa bisa berbuat banyak. Jenda tidak berputus asa, dia terus mencari cara untuk mengeluarkan istrinya. Sampai akhirnya datang mobil derek dari Kabupaten Nganjuk.

Jenda berharap sopir truk kontainer dan pemilik perusahaan tepung terigu bertanggung jawab atas kejadian ini. Dia berjanji akan membantu Polres Kediri Kota dengan memberikan keterangan yang benar dalam kasus itu. (jpnn) Editor : Redaksi
#Headline