“Gelombang besar datang tiba-tiba. Karena takut, kami langsung kembali ke darat,” kata nelayan Pantai Talo, Parmin (45).Gelombang laut yang sangat besar itu membuat jaring para nelayan bergulung dihantam ombak. “Gelombang air laut masih besar, membuat nelayan takut melaut dan terpaksa absen mencari ikan,” ujarnya.
Berbeda dengan nelayan di Pantai Talo yang takut melaut, masyarakat di Pulau Enggano justru menjalani aktivitas seperti biasa. Padahal sebelumnya ada imbauan dari dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofosika ihwal gelombang tsunami yang diprediksi bakal sampai di kawasan pesisir Sumatera, termasuk Pulau Enggano.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat Haryadi Wargahadibrata pun mengatakan tsunami Chile terpantau di pesisir selatan Jawa Barat. “Kalau di Pantai Utara tidak ada,” katanya, kemarin.
Haryadi mengatakan, dari pemetaan awal, tsunami yang tiba di pesisir pantai di wilayah Jawa Barat diperkirakan setinggi setengah meter. Sejumlah daerah di pesisir selatan Jawa Barat sudah diminta waspada, yakni Sukabumi, Garut, Cianjur, Ciamis, serta Tasikmalaya.
Menurut Haryadi, gelombang tsunami Chile terpantau tiba di wilayah pesisir selatan Jawa Barat, minus Pangandaran, karena lokasinya terlindung teluk. “Yang paling cepat itu di Sukabumi, subuh tadi (kemarin, Red),” kata dia.
Di sisi lain, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mencabut peringatan dini tsunami untuk seluruh wilayah Indonesia. Berdasarkan analisis data monitoring alat observasi tinggi muka air laut di Papua, BMKG menyatakan peringatan dini tsunami telah berakhir terhitung mulai Kamis, 3 April 2014, pukul 08.30 WIB.
“Dengan dicabutnya peringatan dini tsunami tersebut, masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti sedia kala,” kata Sutopo dalam rilis yang diterima Tempo, Kamis siang ini.
Informasi dari beberapa BPBD melaporkan tidak terlihat adanya tsunami. Masyarakat telah kembali beraktivitas seperti biasa. Adanya peringatan dini tsunami dari BMKG kemarin menunjukkan ancaman tsunami bagi pesisir Indonesia berasal dari gempa di sekitar perairan Indonesia maupun dari luar Indonesia.
“Jika sumber gempa berasal dari lokal atau wilayah di sekitar Indonesia, tsunami datang hanya memerlukan waktu lebih kurang 30 menit dari terjadinya gempa,” katanya.
Namun, kata Sutopo, jika berasal dari daerah yang jauh, bisa membutuhkan waktu beberapa jam. Ada lima juta penduduk Indonesia yang tinggal di daerah rawan tsunami tinggi hingga sedang. Dengan kondisi tersebut, kesiapsiagaan masyarakat menghadapi tsunami perlu terus ditingkatkan.
Sebelumnya, ribuan warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, meninggalkan kampung mereka setelah mendengar peringatan dini tsunami pada Rabu, 2 April 2014, pukul 18.00 WIB. Warga yang panik mengungsi ke balai desa dan perbukitan akibat pengalaman buruk bencana tsunami yang menimpa kampungnya pada 1994.[mel] Editor : Redaksi