Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Aksi Mario Ingatkan Aksi Dua Remaja Medan 17 Tahun Lalu

Admin-1 Sumut Pos • Rabu, 8 April 2015 | 13:26 WIB
Photo
Photo


MEDAN, SUMUTPOS.CO - Tujuh belas tahun sebelum aksi Mario Steven Ambarita, aksi nekat serupa dilakukan oleh dua remaja asal Medan. Seperti kisah Mario, Manto Manurung dan Siswandi Nurdin Simatupang, sontak mengejutkan khayalak ramai. Keduanya ditemukan pertama kali oleh petugas yang hendak memasang chock pada roda depan pesawat.


Ada sebagian baju yang menyembul dari ruang roda depan itu. Setelah diperiksa, ternyata ada dua remaja tanggung melipat tubuh di sana. Mereka ditemukan mengigil di ruang roda Garuda Airbus A300-B4. Terbang dari Medan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Pada Selasa 23 September 1997, pesawat dengan 149 penumpang ini lepas landas pukul 07.30 WIB. Mendarat di Jakarta pukul 09.47 WIB. Dua jam lebih di langit.


Manto ditemukan dalam kondisi lemah. Kaki kanan remaja setinggi 1,5 meter itu cedera. Pergelangan tangan kiri terluka. Sedang Siswandi, yang tingginya 1,65 meter seperti Tarsono, lebih bugar. Hanya tangan kanan sedikit lecet.


Salah satu dari mereka baru berhasil dikeluarkan pukul 10 lebih 30 menit. Ruang roda yang begitu sempit menyulitkan para petugas.


Banyak orang tercengang. Bagaimana dua remaja itu bisa selamat. Mereka bisa saja tergencet roda, yang saat masuk ke ruang penyimpanan berputar dan amat panas. Mereka juga harus bertahan dengan suhu minus 50 derajat selsius selama pesawat melayang di ketinggian 30 ribu kaki.


Apalagi, ruang persembunyian itu tidak bertekanan seperti kabin penumpang. Dibanding kasus Tarsono, ruang roda tempat Manto dan Siswandi melipat tubuh memang sedikit lebih luas. Ruang itu juga jauh lebih dingin. Itu sebabnya mereka mengigil. Salah satunya bahkan pingsan.


Manto dan Siswandi memang sudah merencanakan aksi ini. Rencana itu tercetus pukul 10 malam, pada Senin 22 September 1997. Mereka mematangkan rencana “gila” ini di kamar kos Siswandi.


Setelah dirasa cukup matang, mereka bergegas ke bandara Polonia. Hari masih gelap. Pukul 3 pagi. Menyelinap lewat parit. Lokasinya tak jauh dari landasan pacu. Dari parit itulah mereka mengendap ke ruang roda pesawat.


Semula mereka berempat. Namun, dua temannya lebih rasional. Memutuskan tinggal. Hanya Manto dan Siswandi yang main 'seruduk'.


Menurut petugas bandara, keduanya bertahan di 'tempat persembunyian' selama kurang lebih 4,5 jam. Pukul 4 lebih 30 menit, teknisi memeriksa pesawat dan menyatakannya dalam kondisi baik. Tiga jam kemudian pesawat lepas landas.


Siswandi berkisah bahwa dia sempat sesak napas saat pesawat melayang di langit. Mungkin karena kekurangan oksigen. Lalu dia tertidur. “Tidurnya ya jongkok,” katanya, sebagaimana ditulis media massa saat itu. Sementara Manto, masih terus membuka mata.


Saat ditemukan, mereka sama sekali tak membawa kartu identitas. Beruntung Siswandi tak selemah Manto. Sehingga masih bisa menyebutkan nama sekolah dan alamat orang tuanya di Batangkuis, Deliserdang. Siswandi mengaku, nekat terbang dengan cara berbahaya ini karena sering bolos sekolah dan takut dikeluarkan.




Kasus-kasus di atas adalah sebagian kecil dari insiden penumpang gelap di roda pesawat. Menurut Dr Stephen Veronneau dari FAA, ada 96 orang yang menumpang 85 penerbangan untuk keluar negaranya sejak 1947. Hanya 23 orang yang selamat, atau sekitar 20,3 persen, 73 lainnya menemui ajal .


Amerika Serikat atau negara-negara Eropa menerapkan pengamanan lebih ketat di bandara mereka pasca serangan teror 9/11. Namun di sejumlah negara, bandara-bandara tidak memiliki pengamanan memadai, memungkinkan seseorang menyelinap masuk, dan memanjat roda pesawat.


Tentu, cara itu penuh risiko. Beberapa di antara mereka tewas karena tergencet roda pesawat, atau jatuh saat kompartemen roda terbuka. Sisanya tewas karena hypothermia atau radang dingin, hipoksia, dan acidosis -terbentuknya asam di cairan tubuh yang bisa menyebabkan koma atau kematian.


Kondisi yang ekstrem terjadi karena di kompartemen roda pendaratan yang sempit tempat mereka sembunyi tidak ada pemanas, pengatur tekanan udara atau oksigen.


Menurut para ahli, di ketinggian 18.000 kaki, hipoksia akan menyebabkan kelemahan, kejang, sakit kepala ringan dan gangguan penglihatan. Di ketinggian 22.000 kaki, penumpang gelap akan berjuang untuk tetap sadarkan diri, saat itu tingkat oksigen di darah mereka turun drastis. Di atas ketinggian 33.000 kaki, paru-paru membutuhkan tekanan buatan untuk berfungsi normal, jika tidak akan fatal.


Di ketinggian ekstrem, suhu bisa mencapai di bawah titik beku, sekitar -63 C. Kebanyakan yang bertahan dari situasi ini akan tidak sadarkan diri. Saat pintu kompartemen roda terbuka, mereka yang tertidur akan jatuh ke tanah dari ketinggian ribuan kaki di udara. Remuk menghantam tanah.


"Mereka mati akibat jatuh atau membeku. Ada ketidaktahuan yang fatal. Jika mereka tahu situasi apa yang akan mereka hadapi, mereka tidak akan melakukannya," kata ahli penerbangan, David Learmount, dari majalah Flight International. (bbs/val) Editor : Admin-1 Sumut Pos
#Mario Steven Ambarita #Sembunyi di Roda Pesawat