Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Siswi SMA Dibunuh Pacar yang Kenal di Medsos

Redaksi Sumutpos.co • Kamis, 13 Februari 2025 | 21:25 WIB
Ilustrasi pembunuhan.
Ilustrasi pembunuhan.

SUMUTPOS.CO - Satu di antara dua pembunuhan yang mengguncang Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dalam dua hari beruntun berhasil diungkap. Sementara jenazah tanpa kepala yang kepalanya sudah berhasil ditemukan masih dalam proses identifikasi.

Mengutip Jawa Pos Radar Jombang kemarin (13/2), jenazah PRA, 19, siswi SMA asal Kecamatan Sumobito, Jombang, mengapung di Saluran Induk Mrican Kanah, Desa Pacarpeluk, Kecamatan Megaluh, pada Selasa (11/2) pagi.

Sehari kemudian (12/2), jenazah pria tanpa kepala ditemukan di saluran irigasi Dusun Mireng, Desa Dukuharum, Kecamatan Megaluh. Di hari yang sama saat sore, penemuan potongan kepala manusia didapati di Sungai Ngotok Ring Kanal, Dusun Kedunglempuk, Desa Pesantren, Kecamatan Tembelang, Jombang. Polisi memastikan dua potongan tubuh itu satu kesatuan.

AP, 18, pacar korban yang berdomisili di Kecamatan Perak, Jombang, adalah otak kekejian terhadap PRA. Dua pelaku lain yang ditangkap adalah AT, 18, dan Lutfi Innahu, 32, keduanya warga Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri.

”Ada tiga pelaku yang kita tangkap dan memang ada unsur penganiayaan, persetubuhan, hingga pembunuhan,” terang Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan dalam rilis kasus di Mapolres Jombang.

Yang pertama ditangkap AP di Gudo, Jombang. Polisi menembak salah satu kakinya dengan alasan hendak melarikan diri saat ditangkap. Keterangan yang didapat darinya digunakan petugas untuk menangkap dua pelaku lain, AT dan Lutfi, di Kunjang.

Kenalan Melalui Media Sosial

Kepada petugas, AP mengaku awalnya mengenal korban lewat media sosial (medsos). Dari perkenalan itu, hubungan keduanya semakin dekat.
Pada Senin (10/2) sore, pelaku berhasil memperdaya korban untuk bertemu di wilayah Mojowarno. Agar dibolehkan keluar membawa motor, korban berpamitan kepada keluarga untuk COD (cash on delivery).

Keduanya akhirnya bertemu di daerah Mojowangi, Kecamatan Mojowarno. Setelah dari Mojowarno, AP berhasil membujuk korban agar mau diajak ngopi ke wilayah Kecamatan Perak.

Setelah nongkrong, AP kemudian mengajak korban untuk pergi ke rumah AT, teman pelaku, di wilayah Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri. Sesampai di rumah AT, korban sempat ditinggal sendirian, sedangkan kedua pelaku keluar membeli minuman keras.

Saat kembali, keduanya mengajak serta pelaku Lutfi untuk datang hingga mereka bertiga terlibat pesta miras. Setelah puas menenggak miras, ketiga pelaku kemudian mengajak korban ke area persawahan di Desa Godong, Kecamatan Gudo. ”Di situlah korban diperkosa oleh para pelaku ini,” terangnya.

Korban sempat melawan, namun para pelaku dengan sadis menganiaya di bagian perutnya hingga korban mengalami pendarahan. Hal ini sesuai hasil otopsi yang dilakukan RS Bhayangkara Kediri.

Korban yang sudah lemas tak berdaya kemudian kembali diboncengkan ketiga pelaku dan dibawa kembali ke Desa Tugu, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri.
”Jadi, AP dan AT ini bonceng tiga dengan korban di tengah. Sementara LI, dia melihat di belakang,” tambah Kasatreskrim Polres Jombang AKP Margono Suhendra.

Untuk menghilangkan jejak kejahatan, ketiga pelaku membuang tubuh korban ke Saluran Induk Mrican Kanan di Purwoasri hingga ditemukan warga mengapung di Saluran Induk Mrican Kanan, Desa Pacarpeluk, Kecamatan Megaluh, pada Selasa (11/2) pagi.

Hasil otopsi menunjukkan korban meninggal akibat tenggelam.
Pelaku juga menjual motor Honda Vario milik korban seharga Rp 2,2 juta dan membawa kabur ponsel korban.

”Jadi, untuk motifnya pertama karena para pelaku ini ingin menguasai harta benda korban. Kedua, karena dalam pengaruh alkohol,” katanya.

Akibat perbuatan mereka, polisi menjerat ketiga pelaku dengan pasal berlapis. Masing-masing Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana disertai Pasal 339 dan 338 KUHP. ”Ancaman hukumannya seumur hidup, mati, atau 20 tahun penjara,” ujarnya.

Pendarahan di Kepala
Untuk pria korban mutilasi, polisi menyebut di antaranya struktur gigi tidak rata, kulit sawo matang, tinggi 160 cm, dan ada tahi lalat pada bagian dada kanan. Usianya diperkirakan 15–25 tahun.

”Jadi, kalau ada keluarga yang merasa kehilangan sekitar 3–4 hari yang lalu, silakan melapor,” kata Margono.

Dari hasil otopsi, lanjut Margono, diketahui ada bekas luka sayatan senjata tajam pada bagian leher korban. Bentuk luka itu tidak beraturan.
Selain itu, polisi menemukan pendarahan pada bagian kepala korban sebelum kematiannya. Menurut Margono, itu mengindikasikan ada upaya penganiayaan kepada korban sebelum meninggal.

”Sebelum kematian, ada pendarahan di kepala yang mengakibatkan korban lemas tidak berdaya sebelum dipotong kepalanya,” ungkapnya.

Kendati telah memastikan bahwa mayat itu korban pembunuhan, pihaknya menyebut proses identifikasi belum berhasil dilakukan. ”Sidik jari korban sudah mulai rusak,” ujarnya. (jpg/han)

Editor : Redaksi
#siswi sma dibunuh