SUMUT POS- Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir di Bali bertambah menjadi 18 orang. Sampai saat ini, 2 korban hilang masih belum ditemukan.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan bahwa banjir di Bali melanda 7 kabupaten dan kota.
Penyebabnya adalah hujan deras yang terjadi sejak Selasa malam (9/9). Banjir tersebut sempat melumpuhkan geliat Bali sebagai salah satu destinasi wisata kelas dunia.
”Setelah diguyur hujan deras dengan intensitas tinggi sejak Selasa malam, Bali sempat lumpuh akibat banjir besar yang melanda Kota Denpasar dan 6 kabupaten lainnya,” ungkap Abdul Muhari kepada awak media di Jakarta pada Jumat (12/9).
Atas musibah tersebut, Pemerintah Provinsi Bali telah menetapkan status tanggap darurat yang berlaku sampai 17 September 2025.
Bersama seluruh instansi terkait lainnya, BNPB kini fokus melakukan pemulihan awal, termasuk perbaikan jembatan, jalan rusak, dan tembok penyengker yang jebol. Penanganan darurat dan pemulihan di wilayah terdampak masih terus berjalan.
”Dengan prioritas utama menyelamatkan korban, memberikan bantuan logistik, serta memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat banjir besar ini,” jelasnya.
Data terakhir mencatat ada sebanyak 18 korban meninggal dunia, 2 orang hilang yang masih dalam pencarian, serta 214 kepala keluarga atau setara 659 jiwa terdampak banjir.
BNPB juga mencatat sebanyak 185 korban terdampak terpaksa tinggal di lokasi pengungsian untuk sementara waktu. Sementara korban hilang masih terus dicari oleh Tim SAR Gabungan.
”Situasi terkini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Genangan air di sejumlah titik di Kota Denpasar dan wilayah sekitarnya mulai surut, sehingga akses jalan utama perlahan kembali terbuka. Tim gabungan BPBD, TNI, Polri, dan relawan terus bergerak cepat membersihkan puing, memperbaiki fasilitas rusak, serta mengevakuasi warga yang masih terjebak,” jelasnya.
Tidak hanya itu, bantuan logistik dari BNPB telah tersalurkan ke posko-posko pengungsian.
Mulai bantuan kebutuhan pokok, selimut, pakaian, hingga perlengkapan sekolah darurat.
Warga yang sebelumnya terisolasi kini sudah mendapatkan pasokan bantuan lebih lancar. Di beberapa wilayah, perahu karet yang semula digunakan untuk evakuasi, kini difokuskan untuk distribusi bantuan. (bbs/ram)
Editor : Juli Rambe