SUMUT POS- Kapolda Jawa Timur Irjen Nanang Avianto mengambil langkah strategis, dengan membagi data korban reruntuhan bangunan di Pondok Pesantren Khoziny Sidoarjo ke dalam tiga klaster utama.
Tujuannya untuk mempermudah proses identifikasi dan akurasi jumlah korban.
Sehingga data akurat korban dapat lebih realitis.
"Tiga klaster yang kami bagi nanti, klaster dari santrinya sendiri, klaster pengurus pesantren, dan klaster pegawai yang melakukan kegiatan renovasi pembangunan gedung," tutur Nanang di lokasi, Jumat (3/10).
Langkah tersebut dinilai penting untuk melacak siapa saja korban yang berada di lokasi saat bangunan empat lantai Pondok Pesantren Al Khoziny tiba-tiba ambruk pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.35 WIB.
"Jadi fokus kita saat ini adalah menemukan jenazah-jenazah yang dimungkinkan masih ada di reruntuhan. Dan ini sedang berproses, rekan-rekan sudah melihat bagaimana puing-puing seperti ini," jelasnya.
Disinggung mengenai penyelidikan penyebab bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny yang diduga karena kegagalan konstruksi, Nanang menegaskan bahwa pihaknya belum memulai penyelidikan.
"Inilah yang harus kita lihat nanti. Yang jelas tetap nanti akan melakukan kegiatan proses (penyelidikan), tetapi yang utama sekarang ini adalah masalah kemanusiaannya dulu," tegas Nanang. (jpc/ram)
Editor : Juli Rambe