SOLO, Sumutpos.jawapos.com–Kabar duka menyelimuti Keraton Kasunanan Hadiningrat Surakarta. Sinuhun Pakubuwono (PB) XIII wafat pada Minggu (2/11/2025) pagi di Rumah Sakit Indriati, Solo, pada usia 77 tahun. Raja Keraton Surakarta itu berpulang setelah berjuang melawan komplikasi penyakit yang diperparah oleh faktor usia.
Kabar kepergian PB XIII pertama kali beredar melalui pesan singkat tokoh masyarakat Solo, Sumartono Hadinoto, kepada sejumlah awak media sekitar pukul 07.29 WIB. Kabar tersebut kemudian dikonfirmasi oleh R.Ay. Febri Hapsari Dipokusumo, istri dari adik PB XIII, KGPH Dipokusumo.
“Njih, nyuwun doanya,” ucap Febri singkat melalui pesan WhatsApp.
Kerabat dekat keraton, KPH Eddy S. Wirabhumi, menjelaskan bahwa almarhum sempat menjalani perawatan intensif selama sekitar seratus hari terakhir akibat komplikasi penyakit, termasuk diabetes.
“Beliau sempat membaik dan bahkan hadir dalam acara adang dal pada September lalu. Namun setelah itu kembali sakit hingga akhirnya berpulang,” ujarnya.
Prosesi Pemakaman di Imogiri
Rencana pemakaman PB XIII kini tengah dimatangkan oleh keluarga besar dan pihak keraton. Menurut rencana, jenazah akan dimakamkan di Kompleks Makam Raja-Raja Imogiri, Yogyakarta, pada Selasa Kliwon (4/11) sekitar pukul 13.00–14.00 WIB, setelah seluruh prosesi adat diselesaikan di Keraton Surakarta.
Sebelum diberangkatkan, jenazah akan dimandikan di Masjid Pujasumo (Pujosono) dan disemayamkan di Pendapa Sasana Sewaka.
“Selama penyemayaman, masyarakat diperbolehkan hadir memberikan doa dan penghormatan terakhir,” tutur adik almarhum, KGPH Suryo Wicaksono (Gusti Nino), melalui kanal YouTube Pesanggragan Langenharjo.
Perjalanan Takhta dan Rekonsiliasi
PB XIII naik takhta pada 10 September 2004 setelah wafatnya PB XII. Proses penobatan sempat diwarnai perbedaan pendapat di antara keluarga besar keraton, yang akhirnya diselesaikan melalui rekonsiliasi pada 2012 dengan mediasi Pemerintah Kota Surakarta dan DPR RI.
Dalam kesepakatan itu, KGPH Tejowulan mengakui PB XIII sebagai raja sah dan kemudian diangkat sebagai Mahapatih (Mahamenteri) dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya Panembahan Agung.
Pelestari Budaya dan Sosok yang Dihormati
Selama kepemimpinannya, PB XIII dikenal sebagai penjaga tradisi dan pelestari budaya Jawa. Ia aktif memimpin berbagai upacara adat seperti Labuhan, Garebeg, Sekaten, hingga Kirab Malam 1 Sura.
Sebagai Pangageng Museum Keraton Surakarta, beliau menerima Bintang Sri Kabadya I atas jasanya dalam penanganan kebakaran keraton tahun 1985. Ia juga dikenal mendukung kegiatan pelestarian warisan budaya, mulai dari pameran keris dan tosan aji hingga pagelaran wayang kulit.
Pada tahun 2018, PB XIII menerima penghargaan sebagai penggagas wayang kulit dengan kelir terpanjang di dunia, simbol komitmennya terhadap kelestarian seni tradisional.
Kini, sang pelindung budaya itu berpulang, meninggalkan jejak panjang dalam upaya menjaga nilai-nilai luhur Jawa dan warisan keraton Surakarta yang menjadi kebanggaan bangsa.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan