Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

30 Ribu Hektare Sawah Gagal Panen Akibat Bencana

Johan Panjaitan • Rabu, 3 Desember 2025 | 08:00 WIB
BANGUN JEMBATAN: Polda Sumut saat membangun jembatan di Tapteng. (Sumut Pos/Dokumen Pribadi)
BANGUN JEMBATAN: Polda Sumut saat membangun jembatan di Tapteng. (Sumut Pos/Dokumen Pribadi)

Sumutpos.jawapos.com-Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera memukul keras sektor pertanian dan layanan publik. Lebih dari 30 ribu hektare sawah dipastikan gagal panen (puso), ribuan siswa madrasah terpaksa menghentikan ujian semester, dan ratusan fasilitas kesehatan ikut terdampak. Pemerintah pusat bergerak cepat, namun tantangan pemulihan masih panjang.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa banjir yang datang saat masa tanam menjelang panen menyebabkan ribuan hektare sawah rusak berat.

“Seharusnya dalam waktu dekat ini panen,” ujar Amran, Senin (2/12). Untuk meringankan beban petani, Kementan langsung menyiapkan benih padi gratis agar penanaman bisa dimulai begitu banjir surut.

Meski terjadi gagal panen, Amran memastikan pasokan beras Sumatera tetap aman karena Aceh, Sumut, dan Sumbar masih dalam kondisi surplus. Namun, untuk kebutuhan warga terdampak, ia memberi kewenangan kepada daerah untuk mengeluarkan cadangan beras pemerintah tanpa menunggu keputusan pusat, cukup berdasarkan rekomendasi BNPB.

Kementan juga mengerahkan tim gabungan dari Bulog, Bapanas, dan lembaga terkait untuk mengawal distribusi bantuan pangan. Selain itu, Kementan menggalang dana solidaritas internal. Pada hari pertama, terkumpul Rp 75 miliar yang akan disalurkan dalam bentuk makanan pokok.

Kemenag Tangguhkan Ujian Madrasah, Fokus pada Dampak Bencana

Kerusakan infrastruktur pendidikan membuat Kementerian Agama mengambil kebijakan khusus. Ujian akhir semester (ASAS) bagi siswa madrasah di wilayah terdampak ditangguhkan sementara.

“Sudah terjadi musibah, jangan ditambah beban baru,” tegas Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Kemenag kini memetakan kondisi madrasah dan rumah ibadah yang rusak dengan melibatkan Kanwil hingga KUA di tingkat kecamatan.

Madrasah rusak berat: operasional dihentikan sementara.

Madrasah yang masih memungkinkan: tetap berjalan dengan penyesuaian kondisi siswa dan keluarga.

Nasaruddin menekankan bahwa setiap wilayah harus mendapatkan perlakuan sesuai tingkat kerusakannya. “Tidak semua kita seragamkan. Yang parah kita tempatkan sesuai kondisinya.”

Kemenkes Pantau Kesehatan Pengungsi: Ribuan Rentan Penyakit

Kementerian Kesehatan juga mengerahkan Pusat Krisis Kesehatan ke tiga provinsi terdampak. Data hingga 1 Desember mencatat kerusakan ratusan fasilitas kesehatan:

Aceh: 5 RS, 126 puskesmas

Sumut: 3 RS, 27 puskesmas, 56 pustu, 75 polindes

Sumbar: 37 puskesmas, 26 pustu

Buruknya sanitasi memicu peningkatan penyakit. Dalam beberapa hari tercatat:

ISPA, diare, dan luka-luka di Aceh

Demam (277 kasus), myalgia (151), gatal (150), ISPA (96) di Sumut

Jumlah pengungsi juga sangat besar:

Aceh: 478.847 orang

Sumut: 77.009 orang

Sumbar: 31.346 orang

Kebutuhan mendesak meliputi obat-obatan, masker, sarung tangan, PMT balita & bumil, hingga tenaga kesehatan.

Ketua IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, mengungkapkan sejumlah dokter anak bahkan tetap bertugas meski rumah mereka sendiri terdampak. IDAI mencatat empat anak meninggal di Sumatera Barat akibat bencana.

Selain layanan kesehatan, IDAI menggelar trauma healing, bantuan psikososial, dan pengobatan gratis untuk anak-anak pengungsi.

Pemulihan Panjang, Pemerintah Diminta Koordinasi Ketat

Kerusakan sektor pertanian, pendidikan, dan kesehatan menunjukkan skala bencana yang luas di Sumatera. Bantuan lintas kementerian bergerak, tetapi pemulihan diperkirakan memakan waktu lama.

Mulai dari benih padi, logistik pangan, layanan kesehatan, hingga dukungan untuk siswa, seluruh upaya kini difokuskan pada penyelamatan warga serta percepatan pemulihan pascabanjir dan longsor.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#madrasah #longsor #banjir #sumatera #gagal panen