Sumutpos.jawapos.com-Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera memukul keras sektor pertanian dan layanan publik. Lebih dari 30 ribu hektare sawah dipastikan gagal panen (puso), ribuan siswa madrasah terpaksa menghentikan ujian semester, dan ratusan fasilitas kesehatan ikut terdampak. Pemerintah pusat bergerak cepat, namun tantangan pemulihan masih panjang.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa banjir yang datang saat masa tanam menjelang panen menyebabkan ribuan hektare sawah rusak berat.
“Seharusnya dalam waktu dekat ini panen,” ujar Amran, Senin (2/12). Untuk meringankan beban petani, Kementan langsung menyiapkan benih padi gratis agar penanaman bisa dimulai begitu banjir surut.
Meski terjadi gagal panen, Amran memastikan pasokan beras Sumatera tetap aman karena Aceh, Sumut, dan Sumbar masih dalam kondisi surplus. Namun, untuk kebutuhan warga terdampak, ia memberi kewenangan kepada daerah untuk mengeluarkan cadangan beras pemerintah tanpa menunggu keputusan pusat, cukup berdasarkan rekomendasi BNPB.
Kementan juga mengerahkan tim gabungan dari Bulog, Bapanas, dan lembaga terkait untuk mengawal distribusi bantuan pangan. Selain itu, Kementan menggalang dana solidaritas internal. Pada hari pertama, terkumpul Rp 75 miliar yang akan disalurkan dalam bentuk makanan pokok.
Kemenag Tangguhkan Ujian Madrasah, Fokus pada Dampak Bencana
Kerusakan infrastruktur pendidikan membuat Kementerian Agama mengambil kebijakan khusus. Ujian akhir semester (ASAS) bagi siswa madrasah di wilayah terdampak ditangguhkan sementara.
“Sudah terjadi musibah, jangan ditambah beban baru,” tegas Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Kemenag kini memetakan kondisi madrasah dan rumah ibadah yang rusak dengan melibatkan Kanwil hingga KUA di tingkat kecamatan.
Madrasah rusak berat: operasional dihentikan sementara.
Madrasah yang masih memungkinkan: tetap berjalan dengan penyesuaian kondisi siswa dan keluarga.
Nasaruddin menekankan bahwa setiap wilayah harus mendapatkan perlakuan sesuai tingkat kerusakannya. “Tidak semua kita seragamkan. Yang parah kita tempatkan sesuai kondisinya.”
Kemenkes Pantau Kesehatan Pengungsi: Ribuan Rentan Penyakit
Kementerian Kesehatan juga mengerahkan Pusat Krisis Kesehatan ke tiga provinsi terdampak. Data hingga 1 Desember mencatat kerusakan ratusan fasilitas kesehatan:
Aceh: 5 RS, 126 puskesmas
Sumut: 3 RS, 27 puskesmas, 56 pustu, 75 polindes
Sumbar: 37 puskesmas, 26 pustu
Buruknya sanitasi memicu peningkatan penyakit. Dalam beberapa hari tercatat:
ISPA, diare, dan luka-luka di Aceh
Demam (277 kasus), myalgia (151), gatal (150), ISPA (96) di Sumut
Jumlah pengungsi juga sangat besar:
Aceh: 478.847 orang
Sumut: 77.009 orang
Sumbar: 31.346 orang
Kebutuhan mendesak meliputi obat-obatan, masker, sarung tangan, PMT balita & bumil, hingga tenaga kesehatan.
Ketua IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, mengungkapkan sejumlah dokter anak bahkan tetap bertugas meski rumah mereka sendiri terdampak. IDAI mencatat empat anak meninggal di Sumatera Barat akibat bencana.
Selain layanan kesehatan, IDAI menggelar trauma healing, bantuan psikososial, dan pengobatan gratis untuk anak-anak pengungsi.
Pemulihan Panjang, Pemerintah Diminta Koordinasi Ketat
Kerusakan sektor pertanian, pendidikan, dan kesehatan menunjukkan skala bencana yang luas di Sumatera. Bantuan lintas kementerian bergerak, tetapi pemulihan diperkirakan memakan waktu lama.
Mulai dari benih padi, logistik pangan, layanan kesehatan, hingga dukungan untuk siswa, seluruh upaya kini difokuskan pada penyelamatan warga serta percepatan pemulihan pascabanjir dan longsor.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan