Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Belanja Negara Digeber, APBN Defisit Rp135,7 Triliun hingga Februari

Johan Panjaitan • Kamis, 12 Maret 2026 | 08:30 WIB

: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) memberikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa di Jakarta kemarin (11/3). Pendapatan negara mencapai Rp358 triiliun. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) memberikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa di Jakarta kemarin (11/3). Pendapatan negara mencapai Rp358 triiliun. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com– Pemerintah mempercepat belanja negara sejak awal tahun sebagai strategi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Hingga akhir Februari 2026, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatat defisit Rp135,7 triliun atau sekitar 0,53 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa posisi defisit tersebut masih berada dalam koridor yang telah dirancang dalam APBN 2026. Menurutnya, percepatan belanja pemerintah dilakukan agar dorongan fiskal terhadap perekonomian terasa sejak awal tahun.

“Belanja tahun ini memang kita percepat supaya ekonomi bisa terdorong dari sisi fiskal sejak awal tahun hingga akhir tahun secara lebih merata dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya di Jakarta, Rabu (11/3).

Pendapatan Negara Tumbuh Positif

Di tengah percepatan belanja, kinerja pendapatan negara juga menunjukkan tren positif. Hingga 28 Februari 2026, pendapatan negara tercatat Rp358 triliun atau sekitar 11,4 persen dari target APBN. Secara tahunan, angka tersebut tumbuh 12,8 persen.

Baca Juga: Dugaan Korupsi Dana BOS SMKN 1 Lubuk Pakam Masuk Tahap Penyidikan

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh penerimaan perpajakan. Total penerimaan perpajakan mencapai Rp290 triliun atau meningkat 20,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dari jumlah tersebut, penerimaan pajak menyumbang Rp245,1 triliun dengan pertumbuhan signifikan sebesar 30,4 persen secara tahunan. Sementara itu, penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai tercatat Rp44,9 triliun.

Namun, sektor kepabeanan dan cukai masih mengalami kontraksi 14,7 persen. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh dinamika harga komoditas global serta aktivitas produksi industri yang belum sepenuhnya stabil.

Meski demikian, pemerintah melihat adanya tanda pemulihan dalam beberapa waktu terakhir. “Informasi terakhir menunjukkan penerimaan cukai sudah kembali tumbuh sekitar 7 persen secara year-on-year. Ke depan kita berharap target penerimaan dari bea dan cukai bisa tercapai bahkan mungkin melebihi,” kata Purbaya.

Belanja Negara Melonjak

Di sisi lain, realisasi belanja negara hingga Februari 2026 mencapai Rp493,8 triliun atau sekitar 12,8 persen dari pagu APBN. Angka tersebut melonjak 41,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pemerintah mengarahkan belanja negara untuk mendukung berbagai program prioritas, menjaga daya beli masyarakat, sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi sejak awal tahun.

“Memang desain APBN kita defisit. Tahun ini belanja kita upayakan lebih merata sepanjang tahun sehingga dampak belanja pemerintah terhadap perekonomian lebih terasa,” jelasnya.

Menurut Purbaya, kombinasi antara pertumbuhan pendapatan negara, percepatan belanja pemerintah, serta defisit yang tetap terkendali menunjukkan APBN tetap berfungsi sebagai instrumen stabilisasi ekonomi sekaligus penggerak pertumbuhan nasional.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#Defisit 3 Persen #apbn #belanja negara