Sumutpos.jawapos.com – Meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah menyusul konflik antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel memunculkan kekhawatiran terkait penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Apalagi, rangkaian awal pelaksanaan ibadah haji diperkirakan akan dimulai sekitar satu bulan lagi.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada perubahan jadwal resmi dari pemerintah Arab Saudi selaku tuan rumah penyelenggara haji.
Pelaksana Tugas Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Heni Hamidah, menyampaikan bahwa pihaknya belum menerima pemberitahuan apa pun terkait kemungkinan perubahan jadwal ataupun skema penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.
“Pelaksanaan ibadah haji sampai saat ini masih berjalan sesuai rencana dan belum ada skenario lain yang disampaikan oleh pemerintah Arab Saudi,” ujarnya.
Baca Juga: Ijeck Angkat Isu Narkoba, Judi Online hingga Lapangan Kerja di Hadapan Menko Polkam
Ia mengimbau masyarakat, khususnya calon jemaah haji, untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh spekulasi yang berkembang di tengah situasi geopolitik kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, setiap perkembangan resmi terkait penyelenggaraan haji akan diumumkan secara berkala oleh otoritas terkait, termasuk Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi.
Keselamatan Jemaah Jadi Prioritas
Di sisi lain, Ketua Komnas Haji, Mustolih Siradj, menilai situasi geopolitik saat ini menjadi ujian berat bagi pemerintah dalam penyelenggaraan ibadah haji, terlebih karena ini merupakan tahun pertama pelaksanaan haji di bawah koordinasi kementerian terkait.
Ia menegaskan bahwa faktor keselamatan jemaah harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan yang diambil pemerintah.
Namun demikian, pembatalan pengiriman jemaah secara sepihak juga bukan keputusan mudah karena berpotensi menimbulkan dampak besar, termasuk penumpukan daftar tunggu (waiting list) haji yang sudah sangat panjang.
Selain itu, berbagai kontrak penyelenggaraan haji yang telah disepakati sebelumnya—mulai dari penerbangan, hotel, konsumsi, transportasi hingga layanan di kawasan masyair—melibatkan dana hingga triliunan rupiah serta kerja sama dengan pihak swasta (syarikah).
“Karena itu pemerintah harus sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan,” ujar Mustolih.
Baca Juga: Imigrasi Sumut Salurkan 5.000 Paket Ramadan untuk Warga
Ia menegaskan bahwa kebijakan yang diambil harus tetap mengacu pada keputusan pemerintah Arab Saudi sebagai penyelenggara utama ibadah haji.
Menurutnya, masih terbuka kemungkinan skema pembatasan jumlah jemaah seperti yang pernah dilakukan pada masa pandemi COVID-19 jika situasi keamanan kawasan tidak memungkinkan pelaksanaan secara normal.
Pemerintah Diminta Koordinasi Intensif
Mustolih juga mendorong pemerintah Indonesia untuk melakukan kajian komprehensif sebelum mengambil keputusan terkait keberangkatan jemaah haji.
Kajian tersebut perlu melibatkan berbagai lembaga terkait seperti Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, unsur intelijen hingga perwakilan diplomatik Indonesia di Arab Saudi.
Selain itu, pemerintah juga diharapkan memantau langkah negara-negara mayoritas muslim pengirim jemaah haji lainnya seperti Malaysia, Pakistan, Turki, serta sejumlah negara Asia lainnya.
“Pemerintah Arab Saudi sampai hari ini menyatakan sangat siap menyelenggarakan ibadah haji. Namun pemerintah Indonesia perlu meminta jaminan keamanan bagi ratusan ribu jemaah Indonesia yang akan berangkat,” tegasnya.
Ketegangan Timur Tengah Terus Meningkat
Sementara itu, situasi keamanan kawasan Timur Tengah masih terus memanas. Konflik antara Iran dan koalisi AS–Israel dilaporkan semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Selain serangan ke wilayah Tel Aviv di Israel, Iran juga disebut menargetkan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di beberapa negara Timur Tengah, termasuk di Arab Saudi.
Baca Juga: Rutan Sidikalang Perketat Pengawasan, Razia Gabungan Sasar Barang Terlarang di Sel Warga Binaan
Laporan dari Anadolu Agency menyebutkan bahwa sistem pertahanan udara Arab Saudi pada Sabtu (14/3) berhasil mencegat sedikitnya delapan pesawat tanpa awak (drone) yang diduga diluncurkan Iran ke wilayah timur negara tersebut.
Sementara laporan The Wall Street Journal mengungkapkan bahwa beberapa pesawat pengisian bahan bakar milik Angkatan Udara Amerika Serikat di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi, mengalami kerusakan akibat dampak serangan rudal yang menargetkan kawasan tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Situasi ini membuat penyelenggaraan ibadah haji tahun ini berada dalam sorotan serius, terutama terkait aspek keamanan bagi jutaan jemaah dari seluruh dunia.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan