Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Gugur Saat Bertugas untuk Dunia: Prajurit TNI Jadi Korban Konflik Israel-Hizbullah

Johan Panjaitan • Senin, 30 Maret 2026 | 15:33 WIB

Praka Farizal Rhomadhon (semasa hidup) foto bersama istri dan anaknya. (instagram Gaza Update)
Praka Farizal Rhomadhon (semasa hidup) foto bersama istri dan anaknya. (instagram Gaza Update)


JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com-Duka menyelimuti Indonesia. Seorang prajurit terbaik TNI, Praka Farizal Rhomadhon, gugur saat menjalankan misi perdamaian dunia di Lebanon Selatan. Ia menjadi korban di tengah panasnya eskalasi konflik yang kian membahayakan pasukan penjaga perdamaian internasional.

Praka Farizal, anggota Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), dilaporkan tewas akibat serangan artileri yang diduga dilancarkan Israel Defence Forces (IDF). Insiden itu terjadi pada Minggu malam, 29 Maret 2026, sekitar pukul 20.44 waktu setempat, di wilayah Desa Adchit Al Qusayr—salah satu titik rawan di Lebanon Selatan.

Prajurit kelahiran Kulon Progo, 3 Januari 1998 itu dikenal sebagai sosok berdedikasi tinggi. Ia meninggalkan seorang istri dan putri kecil berusia dua tahun yang kini menetap di rumah dinas di Bireuen, Aceh. Kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi bangsa yang ia wakili di panggung perdamaian dunia.

Riwayat pengabdiannya mencerminkan kualitas prajurit pilihan. Praka Farizal tercatat pernah menerima dua tanda kehormatan: Satyalancana Dharma Nusa dan Satyalancana Kesetiaan VIII Tahun—pengakuan atas loyalitas dan dedikasi dalam tugas.

Kementerian Luar Negeri RI membenarkan insiden tersebut. Juru Bicara Kemlu, Yvonne Mewengkang, menyampaikan bahwa serangan artileri tidak langsung menghantam posisi kontingen Indonesia, menyebabkan satu personel gugur dan tiga lainnya terluka.

“Pemerintah Republik Indonesia menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya personel pemelihara perdamaian Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Indonesia tidak tinggal diam. Pemerintah secara tegas mengecam serangan tersebut dan mendesak penyelidikan menyeluruh serta transparan. Seruan itu sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran global atas keselamatan pasukan penjaga perdamaian di wilayah konflik aktif.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, turut menyampaikan kecaman keras. Ia menilai insiden ini sebagai bagian dari tren memburuknya situasi keamanan di Lebanon Selatan.

“Saya mengecam keras terbunuhnya penjaga perdamaian asal Indonesia di tengah permusuhan antara Israel dan Hizbullah,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan semua pihak agar mematuhi hukum internasional dan menjamin keselamatan personel PBB.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah memang tengah mencapai titik rawan. Rangkaian serangan antara Israel, Hizbullah, dan keterlibatan kekuatan lain seperti Iran dan Amerika Serikat telah memperluas konflik. Lebanon Selatan menjadi salah satu episentrum, dengan korban sipil yang terus berjatuhan dan infrastruktur yang hancur.

Di tengah pusaran konflik itu, Kontingen Garuda Indonesia tetap menjalankan mandatnya: menjaga perdamaian. Namun, risiko yang dihadapi semakin nyata.

Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa keselamatan seluruh personel menjadi prioritas utama. Pemantauan situasi terus dilakukan secara intensif guna memastikan perlindungan maksimal bagi pasukan di lapangan.(jpc/han)

Editor : Johan Panjaitan
#UNIFIL Lebanon #prajurit tni #internasional