JAKARTA — Kendaraan bekas berbahan bakar minyak (BBM) masih menjadi tulang punggung pasar lelang di Indonesia. Hingga kuartal I (Q1) tahun 2026, kendaraan konvensional tercatat masih mendominasi sekitar 80 persen transaksi di lelang JBA, meskipun tren elektrifikasi kendaraan mulai perlahan tumbuh di pasar nasional.
Data JBA Indonesia menunjukkan, sepanjang Januari hingga Maret 2026, lebih dari 40.000 unit mobil bekas dan 30.000 unit sepeda motor bekas telah dilelang melalui jaringan nasional. Angka ini memperlihatkan bahwa permintaan terhadap kendaraan bekas masih sangat kuat, seiring kebutuhan mobilitas masyarakat dan sektor usaha yang tetap tinggi.
Marketing & Sales Division Head JBA Indonesia Johan Wijaya, menjelaskan bahwa faktor utama yang membuat kendaraan konvensional tetap diminati adalah efisiensi bahan bakar, biaya perawatan yang relatif rendah, serta ketersediaan suku cadang yang mudah dijangkau di seluruh daerah.
Baca Juga: Praka Rico Pramudia Dimakamkan Secara Militer di TMP Lubuk Pakam
“Kendaraan kategori LCGC dan MPV seperti Toyota Avanza, Calya, dan Agya masih sangat diminati karena efisien dalam konsumsi BBM serta mudah dalam perawatan. Sementara untuk kebutuhan usaha, kendaraan niaga seperti Daihatsu Gran Max, Mitsubishi Triton, hingga truk juga banyak dicari,” ujarnya.
Untuk segmen roda dua, motor matic seperti Honda Beat, Scoopy, dan Vario masih menjadi favorit masyarakat karena dianggap praktis, hemat bahan bakar, dan cocok untuk mobilitas harian di perkotaan maupun daerah.
JBA juga mencatat adanya perbedaan karakteristik permintaan kendaraan di sejumlah wilayah Indonesia. Perbedaan ini dipengaruhi oleh kondisi geografis, aktivitas ekonomi, serta kebutuhan transportasi masyarakat di masing-masing daerah.
Baca Juga: Hujan Disertai Angin Kencang Terjang Labusel, 11 Rumah Rusak dan Teras Masjid Roboh
Di wilayah Jawa, kendaraan penumpang seperti Toyota Avanza tipe G (1.3–1.5), Toyota Calya tipe G 1.2, serta Daihatsu Sigra mendominasi permintaan. Hal ini sejalan dengan tingginya mobilitas masyarakat perkotaan yang membutuhkan kendaraan efisien dan ekonomis.
Sementara itu, di wilayah Sumatera, permintaan cenderung lebih seimbang antara kendaraan penumpang dan kendaraan niaga. Untuk kendaraan penumpang, MPV seperti Toyota Avanza tipe G 1.3 dan Toyota Calya tetap menjadi pilihan utama. Sedangkan untuk sektor usaha, kendaraan seperti Mitsubishi Triton double cabin, Suzuki Carry pikup, dan Mitsubishi Colt L300 banyak digunakan untuk mendukung aktivitas distribusi barang, logistik, hingga perkebunan.
Di wilayah Kalimantan, kendaraan operasional menjadi primadona. Daihatsu Gran Max pick up, truk Mitsubishi Canter, serta Mitsubishi Triton double cabin banyak digunakan untuk mendukung aktivitas industri, pertambangan, dan distribusi barang di wilayah yang memiliki tantangan geografis lebih berat.
Baca Juga: Massa Robohkan Gerbang Balai Kota Binjai, Wali Kota tak Laporkan ke Polisi
Adapun di wilayah Sulawesi, pola permintaan juga menunjukkan keseimbangan antara kendaraan penumpang dan niaga. Toyota Avanza dan Toyota Calya masih banyak digunakan untuk kebutuhan mobilitas keluarga, sementara kendaraan niaga seperti Daihatsu Gran Max pick up menjadi andalan pelaku usaha kecil dan menengah.
Di tengah dominasi kendaraan konvensional, JBA juga mencatat mulai adanya minat terhadap kendaraan listrik (EV) di pasar lelang. Meski jumlahnya masih terbatas, tren ini menunjukkan adanya pergeseran awal ke arah kendaraan ramah lingkungan.
Beberapa unit kendaraan listrik yang telah masuk dalam lelang Q1 2026 antara lain Wuling Air EV, Wuling Cloud EV, Hyundai IONIQ 5, Neta V-II, serta BYD Sealion 7. Kehadiran kendaraan listrik ini dinilai sebagai indikator awal perubahan preferensi pasar, meskipun masih belum signifikan dibanding kendaraan berbahan bakar fosil.
Selain melayani penjualan kendaraan bekas, JBA Indonesia juga menyediakan layanan penitipan kendaraan dan aset dari perusahaan maupun individu untuk dilelang melalui jaringan pembeli nasional. Layanan ini bertujuan membantu pemilik aset mendapatkan nilai jual optimal dengan jangkauan pasar yang lebih luas.
Menurut pihak JBA, sistem lelang terbuka ini memberikan transparansi harga serta mempertemukan penjual dan pembeli secara lebih efisien di berbagai wilayah Indonesia.
Johan Wijaya menegaskan bahwa secara umum pasar kendaraan bekas di Indonesia masih menunjukkan tren yang stabil. Kebutuhan mobilitas masyarakat serta aktivitas usaha yang terus berjalan menjadi faktor utama yang menjaga tingginya permintaan.
“Kondisi pasar masih cukup stabil. Kebutuhan kendaraan untuk mobilitas dan usaha tetap tinggi, sehingga kendaraan bekas masih menjadi pilihan utama masyarakat,” pungkasnya. (sih/ila)
Editor : Redaksi