JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com- Misteri blackout massal yang melumpuhkan sebagian besar wilayah Sumatera sejak Jumat (22/5) akhirnya mulai terkuak. Setelah memicu beragam spekulasi dan teori konspirasi di tengah masyarakat, tim gabungan Bareskrim Polri dan PT PLN (Persero) memastikan pemadaman besar tersebut bukan akibat sabotase, melainkan dipicu gangguan teknis pada jaringan transmisi saat cuaca ekstrem melanda Jambi.
Gangguan bermula dari putusnya kabel transmisi pada jalur Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai di Kabupaten Muaro Jambi. Kerusakan itu memicu ketidakstabilan sistem kelistrikan hingga menyebabkan pembangkit di sejumlah wilayah Sumatera mati berantai.
“Bukan karena sabotase,” tegas Wakil Kepala Bareskrim Polri Irjen Pol Nunung Syaifuddin dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Senin (25/5).
Kepastian tersebut diperoleh setelah tim gabungan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi Tower 175 dan Tower 176 SUTET di Desa Temino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi.
Baca Juga: Pemkab Langkat Dorong Restorative Justice, Kedepankan Penyelesaian Hukum yang Humanis
Dari hasil pemeriksaan lapangan, struktur tower dinyatakan masih dalam kondisi baik. Namun, penyidik menemukan kabel transmisi dalam keadaan putus dengan pola kerusakan alami.
“Potongan kabel tidak rapi dan berbentuk serabut. Kalau dipotong manusia tentu hasilnya lebih rapi. Ini menjadi indikator kuat bahwa kerusakan terjadi secara alami,” ujar Nunung.
Temuan itu diperkuat kesaksian warga sekitar. Tiga warga setempat mengaku mendengar suara ledakan keras dari arah jaringan SUTET sesaat sebelum listrik padam.
“Setelah suara ledakan itu, listrik langsung mati,” kata Nunung menirukan keterangan saksi.
Meski demikian, penyidik masih mendalami penyebab pasti putusnya kabel transmisi tersebut. Sejumlah faktor tengah dianalisis, mulai dari gesekan akibat angin kencang, panas berlebih pada sambungan kabel, hingga tarikan ekstrem akibat cuaca buruk.
Baca Juga: Celyna Grace Juara Indonesian Idol XIV, Dari Dua Kali Gagal Kini Jadi Bintang Baru Musik Indonesia
Barang bukti kabel yang putus kini telah diamankan dan akan diuji lebih lanjut secara ilmiah oleh Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri.
Sementara itu, Direktur Transmisi PLN Edwin Nugraha Putra menjelaskan, gangguan besar tersebut bermula ketika cuaca ekstrem melanda wilayah Muaro Jambi pada Jumat malam. Hujan lebat, petir, dan angin kencang yang sebelumnya telah diperingatkan BMKG menyebabkan gangguan pada jalur transmisi utama Sumatera.
Menurut Edwin, sistem kelistrikan Sumatera selama ini ditopang dua koridor transmisi utama, yakni jalur timur berkapasitas 500 kV dan jalur barat berkapasitas 275 kV.
Gangguan pertama terjadi pada jalur transmisi 275 kV New Aur Duri arah Sumsel 5 pada pukul 18.44 WIB. Saat jalur timur terganggu, beban listrik secara mendadak berpindah ke jalur barat.
Perpindahan beban besar secara tiba-tiba itu memicu fenomena teknis yang dikenal sebagai power swing atau osilasi listrik. Tegangan dan frekuensi sistem melonjak drastis hingga sistem proteksi otomatis memutus jaringan untuk mencegah kerusakan lebih luas.
Baca Juga: 38 Peserta SNBT 2026 Kena Blacklist karena Pakai Joki, Mayoritas Incar Fakultas Kedokteran
“Akibatnya, sistem kelistrikan Sumatera terbelah menjadi dua,” jelas Edwin.
Sistem Sumatera bagian selatan masih mampu bertahan karena mengalami surplus daya. Namun di wilayah utara, penurunan frekuensi yang tajam membuat pembangkit listrik gagal mempertahankan sistem dan akhirnya trip secara bergiliran.
Efek domino tersebut menyebabkan blackout besar di Jambi, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh.
PLN kemudian melakukan pemulihan sistem secara bertahap setelah memastikan tidak ada kerusakan fisik pada gardu induk utama. Seluruh pasokan listrik di wilayah terdampak akhirnya berhasil dipulihkan 100 persen pada Minggu (24/5) pagi pukul 06.17 WIB.
Meski demikian, PLN sempat menerapkan pemadaman bergilir pada Minggu malam akibat lonjakan beban puncak saat waktu Magrib, sementara sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) masih dalam proses start-up. (jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan