Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Ketidakpastian Pasar Mereda, Purbaya Sebut Harga Pertamax Berpotensi Turun

Johan Panjaitan • Selasa, 23 Juni 2026 | 11:15 WIB
Pertamax Turbo The Ultimate Box MotoGP hadir di Kota Medan.(BAGUS SYAHPUTRA/SUMUT POS)
Pertamax Turbo The Ultimate Box MotoGP hadir di Kota Medan.(BAGUS SYAHPUTRA/SUMUT POS)

 

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com – Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai membawa angin segar bagi pasar global, termasuk sektor energi. Penurunan tingkat volatilitas dan ketidakpastian dinilai membuka ruang koreksi harga minyak dunia yang pada akhirnya berpotensi berdampak pada harga BBM di dalam negeri.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut kondisi tersebut sebagai sinyal positif bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, yang masih sangat bergantung pada dinamika harga energi global.

“Saya yakin, dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun, sehingga fondasi pertumbuhan ekonomi kita akan semakin kuat,” ujar Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPD di Jakarta, Senin (22/6/2026).

Baca Juga: Marquez Kembali Hidupkan Persaingan Gelar, Raih Kemenangan Beruntun di Hungaria dan Ceko

Pernyataan tersebut merespons dinamika harga energi yang sempat mengalami tekanan akibat lonjakan harga minyak dunia. Sebelumnya, harga Pertamax tercatat naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter per 10 Juni 2026, sebagai dampak langsung dari kondisi pasar global yang bergejolak.

Purbaya menjelaskan, pemerintah tetap menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi nasional dan dinamika harga energi internasional. BBM bersubsidi, kata dia, tetap dipertahankan, sementara penyesuaian hanya terjadi pada BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar.

Di sisi lain, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi nasional akan tetap terjaga pada paruh kedua tahun ini. Stabilitas harga energi yang mulai membaik diharapkan menjadi salah satu faktor penopang daya beli dan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Kalau dari data yang kita lihat sekarang, sepertinya kita sudah melewati masa ujian itu. Ke depan tinggal memperbaiki fondasi yang sudah ada supaya pertumbuhan bisa lebih optimal,” tambahnya.

Penyesuaian Harga Tidak Instan di SPBU

Dari perspektif akademisi, penyesuaian harga BBM di lapangan tidak serta-merta mengikuti fluktuasi harga minyak dunia secara langsung.

Guru Besar Ekonomi Moneter Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, menjelaskan bahwa sistem penetapan harga BBM di Indonesia tidak berbasis harian, melainkan dilakukan secara periodik.

“Di SPBU tidak langsung berubah karena Pertamina tidak menggunakan sistem harga harian seperti di pasar komoditas internasional,” jelas Rahma.

Baca Juga: Inggris Vs Ghana: Ujian Konsistensi The Three Lions

Menurutnya, evaluasi harga Jenis BBM Umum (JBU) dilakukan secara berkala setiap awal bulan dengan mengacu pada rata-rata harga minyak dunia, khususnya Mean of Platts Singapore (MOPS), serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada periode sebelumnya.

Dengan mekanisme tersebut, dampak penurunan harga minyak pada pertengahan hingga akhir Juni baru akan terlihat pada penyesuaian harga awal bulan berikutnya.

Peran Nilai Tukar Rupiah

Selain harga minyak, faktor nilai tukar rupiah juga menjadi komponen krusial dalam penentuan harga BBM di dalam negeri. Karena transaksi minyak mentah dan produk turunannya menggunakan dolar AS, fluktuasi kurs sangat memengaruhi biaya impor.

Rahma mencontohkan, penurunan harga minyak dunia belum tentu langsung diikuti penurunan harga BBM apabila pada saat yang sama rupiah melemah terhadap dolar. Kondisi ini dapat menahan ruang penurunan harga karena biaya impor dalam rupiah tetap tinggi.

Ia juga menyoroti pertimbangan keekonomian yang dilakukan oleh badan usaha seperti Pertamina. Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan pelat merah itu disebut menahan kenaikan harga BBM nonsubsidi meskipun harga minyak sempat melonjak akibat ketegangan geopolitik.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa struktur harga Pertamax tidak hanya ditentukan oleh harga minyak mentah, tetapi juga mencakup biaya pengolahan di kilang, distribusi, transportasi, penyimpanan, pajak, margin SPBU, hingga biaya operasional lainnya.

Dengan berbagai komponen tersebut, penyesuaian harga BBM di tingkat konsumen merupakan hasil kalkulasi yang kompleks, tidak semata-mata mengikuti pergerakan harga minyak dunia secara langsung.

Di tengah potensi stabilisasi pasar global, ruang penurunan harga BBM kini terbuka. Namun, realisasinya tetap bergantung pada kombinasi faktor internasional dan domestik yang bergerak dinamis.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#harga minyak #kurs rupiah #Purbaya #pertamax #turun