BGN Ancam Tutup Permanen Dapur MBG dan Pecat Kepala SPPG Jika Terbukti Lalai

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:20 WIB
Kepala BGN Sudaryono saat konferensi pers di Jakarta Pusat, Jumat (31/7). (Jawa Pos/Sumut Pos)
Kepala BGN Sudaryono saat konferensi pers di Jakarta Pusat, Jumat (31/7). (Jawa Pos/Sumut Pos)

 

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com-Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil sikap tegas menyikapi rentetan kasus dugaan keracunan yang terjadi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Insiden yang menimpa ratusan siswa di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menjadi perhatian serius pemerintah pusat.

Kepala BGN Sudaryono menegaskan, tidak ada ruang bagi kelalaian dalam pelaksanaan program yang menyasar jutaan penerima manfaat tersebut. BGN memastikan setiap kasus akan ditelusuri secara menyeluruh, terutama terkait kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan.

Sanksi berat pun disiapkan. Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diduga bermasalah dapat dihentikan operasionalnya. Bahkan, kepala SPPG terancam dicopot hingga diberhentikan apabila hasil investigasi menemukan unsur kesengajaan atau kelalaian berat.

Baca Juga: Diduga Serobot Lahan Rp1 Miliar, Kades Nagasaribu Dilaporkan ke Polres Paluta

 

“Semua kasus keracunan itu kita langsung suspend dapurnya, kita copot kepala SPPG-nya, lalu kita investigasi. Kalau ada unsur kesengajaan atau kelalaian berat, kepala SPPG-nya kita pecat dan dapurnya kita tutup permanen,” tegas Sudaryono saat ditemui di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Kamis (13/8).

Menurut Sudaryono, investigasi akan menyasar seluruh tahapan pengelolaan makanan, mulai dari proses produksi hingga distribusi. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kepatuhan terhadap ketentuan pencantuman label batas waktu konsumsi pada setiap wadah makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat.

Label tersebut dinilai penting untuk memastikan makanan dikonsumsi dalam rentang waktu yang aman sekaligus mencegah risiko makanan basi atau terkontaminasi sebelum disantap.

Baca Juga: Polisi Tetapkan 4 Tersangka Kasus Hafalan Surah Ad-Dhuha

“Saya akan cek langsung, apakah wadah makanannya sudah ada labelnya atau belum. Segala hal terkait proses produksi hingga distribusi akan kita investigasi secara mendalam,” ujarnya.

Ratusan Siswa Berastagi Terdampak

Kasus di Berastagi, Kabupaten Karo, menjadi salah satu insiden yang tengah menjadi sorotan. Ratusan pelajar dari SMAN 1 Berastagi dan sejumlah sekolah lainnya dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG berupa gulai ikan dencis.

Para siswa kemudian dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan. Insiden tersebut mendorong BGN melakukan evaluasi terhadap dapur SPPG yang bertanggung jawab atas penyediaan makanan.

BGN menilai, keselamatan penerima manfaat harus menjadi prioritas utama. Program MBG yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak tidak boleh justru menimbulkan persoalan kesehatan akibat lemahnya pengawasan atau ketidakpatuhan terhadap prosedur keamanan pangan.

Ribuan Porsi MBG di Karanganyar Ditarik

Kasus berbeda terjadi di Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sebanyak 2.957 porsi MBG ditarik sebelum makanan tersebut sempat dikonsumsi penerima manfaat.

Penarikan dilakukan setelah petugas SPPG menemukan sebagian olahan daging ayam dinilai tidak layak konsumsi. Salah satu sekolah yang terdampak adalah SDN 2 Jati.

Baca Juga: Psikolog Ingatkan Hati- hati dalam Bercanda

Armada pengangkut MBG yang sempat tiba di halaman sekolah sekitar pukul 08.00 langsung kembali ke dapur SPPG sebelum makanan diturunkan.

“Pihak SPPG menginformasikan adanya sebagian kecil menu ayam yang kurang layak konsumsi. Karena itu, pengiriman MBG hari ini dibatalkan,” ujar Guru SDN 2 Jati, Roni.

Kepala SPPG Insan Berlian Sejahtera, Abra Yoda Raya, membenarkan penarikan ribuan porsi tersebut. Menu yang terdiri atas nasi putih, ayam rempah, tempe mendoan, sayur sawi dan wortel, serta buah anggur akhirnya dimusnahkan sebagai langkah pencegahan.

Menurut Abra, persoalan diketahui ketika koki dan ahli gizi mencium aroma serta merasakan adanya kejanggalan pada olahan ayam saat proses persiapan makanan. Abra bahkan sempat mencicipi menu tersebut dan kemudian mengalami mual hingga muntah.

“Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, semua porsi kami tarik dan musnahkan. Indikasi masalah hanya ada pada olahan ayam, sementara bahan lain aman,” katanya.

Keputusan menarik seluruh distribusi tersebut menjadi contoh pentingnya kontrol kualitas sebelum makanan sampai ke tangan penerima manfaat. Langkah pencegahan dilakukan untuk menghindari potensi kejadian yang lebih besar.

549 Orang di Trenggalek Mengalami Keluhan

Sementara itu, dugaan gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG juga terjadi di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Satgas MBG setempat mencatat sekitar 549 orang mengalami keluhan seperti nyeri atau mulas pada perut, mual hingga diare.

Mereka tersebar di tiga lokasi. Sebanyak 493 orang tercatat berasal dari SMPN 1 Trenggalek, kemudian 30 orang dari SDI Luqman Al Hakim dan 26 orang lainnya mendapat penanganan di sejumlah posyandu di Kelurahan Tamanan, Kecamatan Trenggalek.

Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, dr Sunarto, menyebut dari 493 orang di SMPN 1 Trenggalek, sebanyak 474 merupakan siswa dan 19 lainnya guru. Hingga Kamis (13/8), sebanyak 78 orang masih mengeluhkan sakit, sedangkan 41 siswa tercatat tidak masuk sekolah.

Baca Juga: Pihak Sarwendah Klaim Punya Bukti Tentang 'Penyakit Tiga Huruf'

Meski demikian, sebagian besar keluhan disebut masih tergolong ringan dan tidak memerlukan perawatan inap.

“Gejalanya biasanya tidak berat, hanya kadang ada yang sedikit nyeri perut, mual, ada sedikit yang diare,” jelas Sunarto.

Di SDI Luqman Al Hakim, keluhan dialami 30 orang yang terdiri atas 20 siswa dan 10 tenaga pendidik. Sementara di sejumlah posyandu, 26 orang mendapat penanganan, terdiri atas balita, ibu hamil, ibu menyusui, kader, serta warga lainnya.

Banyumas Ikut Terseret

Insiden serupa juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Pada Senin (10/8), sebanyak 165 siswa MAN 2 Banyumas mengalami keluhan sakit perut dan diare setelah menyantap menu MBG.

Menu yang dikonsumsi terdiri atas nasi putih, ayam dadu bumbu woku, tumis pokcoy jagung, orek tempe, serta buah anggur merah.

Rentetan kejadian tersebut memperlihatkan bahwa pengawasan keamanan pangan dalam program MBG tidak boleh berhenti pada tahap penyediaan bahan makanan. Setiap proses, mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, penyimpanan, pengemasan hingga distribusi, harus berada dalam pengawasan ketat.

Ketegasan BGN menjadi penting untuk memastikan program MBG tidak hanya berbicara tentang kuantitas makanan yang tersalurkan, tetapi juga kualitas dan keamanan setiap porsi yang diterima masyarakat.

Ancaman penutupan permanen dapur SPPG dan pemecatan kepala SPPG jika terbukti melakukan kelalaian berat menjadi sinyal bahwa aspek keselamatan penerima manfaat tidak bisa ditawar. Evaluasi menyeluruh pun menjadi kebutuhan mendesak agar program MBG berjalan sesuai tujuan: memberikan makanan bergizi, aman, dan layak konsumsi bagi masyarakat.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
keracunan Dapur mbg siswa SPPG BGN