MEDAN, SUMUT POS- Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Republik Indonesia menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Harika Foundation untuk menghadirkan pendekatan baru dalam memasyarakatkan kesadaran berhaji sejak usia muda.
Melalui kolaborasi tersebut, generasi Z tidak lagi ditempatkan sekadar sebagai objek edukasi mengenai haji, tetapi didorong menjadi produsen pesan dakwah dan edukasi haji melalui konten digital yang kreatif, relevan, serta dekat dengan kehidupan sehari-hari anak muda.
Kolaborasi tiga institusi itu diluncurkan melalui kegiatan Sosialisasi Haji Muda dan Program Dai Sejuta Mimbar bertema “Generasi Muda sebagai Penerus Dakwah Berbasis Platform Digital” yang digelar di Aula SMA IT Al Fityan Medan, Sumatera Utara, Jumat (14/8/2026).
Baca Juga: Putri Anne Jawab Kepercayaan yang Dianutnya
Anggota Badan Pelaksana BPKH, Harry Alexander, mengatakan kesadaran berhaji perlu dibangun sejak usia muda, bukan hanya dari sisi spiritual, tetapi juga melalui perencanaan keuangan yang matang.
“Haji bukan hanya tentang keberangkatan ke Tanah Suci, tetapi juga tentang membangun komitmen jangka panjang melalui perencanaan keuangan yang disiplin. Semakin dini memulai, semakin besar peluang generasi muda mewujudkan cita-cita berhaji,” ujar Harry dalam opening remark kegiatan.
Menurutnya, masa tunggu keberangkatan haji yang panjang di sejumlah daerah menjadi salah satu alasan penting bagi masyarakat untuk mempersiapkan diri sejak dini.
Karena itu, keputusan mendaftar haji ketika masih muda dinilai memiliki nilai strategis. Persiapan spiritual dan finansial, kata dia, harus berjalan beriringan sehingga generasi muda tidak hanya memiliki keinginan berhaji, tetapi juga memahami bagaimana mempersiapkan kemampuan finansial untuk mewujudkannya.
“Peningkatan literasi pengelolaan keuangan haji merupakan fondasi agar kesiapan spiritual dapat berjalan seiring dengan kesiapan finansial,” katanya.
Ia berharap kegiatan Haji Muda dan Dai Sejuta Mimbar dapat menjadi sarana untuk memperluas pemahaman generasi muda mengenai pentingnya mempersiapkan ibadah haji sekaligus memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan.
Kepala SMA IT Al Fityan Medan, Ustadz Pilmon Ginting, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pembahasan mengenai haji dan dakwah digital sangat relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini.
“Di era digital seperti saat ini, peningkatan awareness generasi muda terhadap isu haji dan dakwah di era digital menjadi isu yang sangat relevan,” ujar Pilmon.
Konsep tersebut diperkuat melalui Program Dai Sejuta Mimbar, sebuah gerakan nasional yang diperkenalkan oleh salah satu tim Gerakan Dai Sejuta Mimbar dari Harika Foundation, Fatchul Wachid.
Program ini berangkat dari perubahan besar dalam pola komunikasi dakwah. Jika sebelumnya mimbar identik dengan masjid atau majelis keagamaan, perkembangan teknologi digital telah membuat ruang dakwah menjadi jauh lebih luas.
“Mimbar dakwah hari ini tidak lagi berdiri tunggal di masjid, tetapi berpindah ke layar genggam. Setiap anak muda yang memegang ponsel, pada dasarnya, sedang berdiri di atas mimbarnya sendiri,” ujar Fatchul.
Melalui kompetisi Dai Sejuta Mimbar, peserta didorong untuk memproduksi konten dakwah yang kreatif, inspiratif, dan relevan dengan kehidupan generasi muda.
Materi yang disampaikan tidak hanya berkaitan dengan nilai-nilai keislaman secara umum, tetapi juga dapat mengangkat tema kesiapan berhaji sejak usia muda, termasuk pentingnya membangun kebiasaan menabung dan merencanakan keuangan.
Peserta juga tidak berhenti pada tahap kompetisi. Mereka mendapatkan pendampingan untuk mengembangkan kemampuan sebagai kreator dakwah digital sekaligus membangun jejaring yang memungkinkan pesan-pesan positif tersebut menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Anggota Badan Pelaksana BPKH, Indra Gunawan, menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai penerus risalah kenabian.
Menurutnya, perkembangan media sosial harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk memengaruhi masyarakat melakukan kebaikan, bukan sekadar digunakan sebagai ruang hiburan.
Generasi muda, kata dia, memiliki kemampuan dan akses yang besar untuk menyebarkan pesan positif karena hampir setiap hari berinteraksi dengan berbagai platform digital. (san/ram)
Editor : Juli Rambe