Gempa NTT Tewaskan 68 Orang, 253 Sekolah Rusak, Pemerintah Siapkan Kelas Darurat

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 09:50 WIB
Para prajurit TNI bersama petugas dari instansi lain membantu korban terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di NTT pada Rabu (15/8). (TNI)
Para prajurit TNI bersama petugas dari instansi lain membantu korban terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di NTT pada Rabu (15/8). (TNI)

 

 

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com-Duka akibat gempa bumi yang mengguncang sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah. Hingga Senin (17/8) pukul 17.00 Wita, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 68 orang meninggal dunia dan 213 lainnya mengalami luka-luka.

Korban meninggal tersebar di tujuh kabupaten terdampak di Pulau Flores. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak, yakni 26 orang. Berikutnya Manggarai Timur 24 orang, Nagekeo delapan orang, Sikka empat orang, serta Ende, Manggarai Barat, dan Ngada masing-masing dua orang.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari mengatakan angka tersebut masih dapat berubah karena proses pencarian, evakuasi, dan pemutakhiran data terus berlangsung di lapangan.

Baca Juga: Kabut Asap Kepung Malaysia! 58 Wilayah Terdampak, Satu Daerah Masuk Kategori Tidak Sehat

“Data yang kami peroleh hingga saat ini sebanyak 68 jiwa, sekali lagi, 68 jiwa yang meninggal,” kata Abdul dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring, Senin (17/8).

Tim gabungan Basarnas masih disiagakan di tujuh kabupaten terdampak untuk mengantisipasi kemungkinan adanya korban yang belum ditemukan. Penanganan darurat juga terus dilakukan bersamaan dengan pemantauan aktivitas seismik di wilayah Flores.

1.576 Gempa Susulan

Situasi belum sepenuhnya mereda. BNPB mencatat sebanyak 1.576 kali gempa susulan terjadi setelah gempa utama, dengan magnitudo maksimum mencapai 6,21.

Aktivitas tersebut membuat proses penanganan bencana harus dilakukan secara ekstra hati-hati. Selain menyelamatkan korban dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, pemerintah juga harus memastikan fasilitas publik yang terdampak tidak menimbulkan risiko tambahan.

Salah satu sektor yang mengalami kerusakan cukup luas adalah pendidikan.

253 Sekolah Rusak, Pembelajaran Dipindahkan

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat 253 satuan pendidikan mengalami kerusakan di tujuh kabupaten terdampak, yakni Ngada, Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Sikka.

Dari jumlah tersebut, 199 satuan pendidikan tingkat PAUD/TK, SD, SMP, dan SKB terdampak. Sementara 54 lainnya merupakan satuan pendidikan SMA, SMK, dan SLB.

Manggarai Timur menjadi wilayah dengan kerusakan pendidikan paling besar, dengan 104 satuan pendidikan terdampak. Tragedi gempa juga merenggut nyawa dua murid dan seorang guru di wilayah tersebut.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengatakan pemerintah telah berkoordinasi dengan Gubernur NTT untuk memastikan pendataan kerusakan berjalan akurat sehingga bantuan dapat diberikan secara tepat sasaran.

“Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas, dan proses pemulihan pendidikan akan kami kawal bersama pemerintah daerah hingga pembelajaran kembali berlangsung dengan aman dan nyaman,” ujarnya.

Sebagai langkah cepat, Kemendikdasmen menyiapkan 50 tenda untuk ruang kelas darurat. Sebanyak 30 tenda dikirim dari Jakarta dan Yogyakarta menuju Labuan Bajo untuk kebutuhan wilayah Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat.

Sementara 20 tenda lainnya dikirim dari Malang menuju Ende untuk mendukung sekolah terdampak di Ende, Ngada, Sikka, dan Nagekeo.

Selain ruang kelas darurat, pemerintah menyalurkan Family Kit dan School Kit. Dukungan psikososial melalui Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) serta konektivitas Starlink juga disiapkan untuk wilayah yang mengalami gangguan jaringan.

Baca Juga: Berkah Kemerdekaan, Famili Lima Puluh Salurkan Sembako kepada 60 Warga Kurang Mampu

Sekolah yang ruang kelasnya rusak diminta menghentikan sementara pembelajaran di ruangan tersebut. Kegiatan belajar dapat dialihkan ke ruangan yang aman maupun tenda darurat. Jika kondisi tidak memungkinkan, sekolah dapat meliburkan kegiatan belajar sesuai situasi masing-masing daerah.

Pemerintah Siapkan Dana Siaga Rp5 Triliun

Di tengah penanganan darurat, pemerintah juga memastikan dukungan anggaran tersedia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut sekitar Rp5 triliun dana siaga bencana telah disiapkan untuk mendukung kebutuhan tanggap darurat hingga proses pemulihan pascabencana.

Menurut Purbaya, penanganan awal akan menggunakan dana siap pakai yang tersedia di BNPB. Apabila kebutuhan meningkat, pemerintah akan menambah anggaran sesuai kebutuhan dan mekanisme yang berlaku.

“Biasanya kita pakai dana dari BNPB yang sudah kita siapkan. Masih ada tuh Rp5 triliun, kalau nggak salah. Mungkin sebagian terpakai, tapi masih cukup,” kata Purbaya, Senin (17/8).

BNPB sendiri memiliki dana siap pakai sekitar Rp500 miliar untuk memenuhi kebutuhan darurat di lapangan. Pemerintah memastikan anggaran tersebut dapat ditambah apabila kebutuhan penanganan bencana melampaui dana yang tersedia.

Fasilitas Radiasi Dipastikan Aman

Dampak gempa juga menjadi perhatian Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), terutama terhadap fasilitas yang memanfaatkan radiasi pengion di NTT.

Dari 51 fasilitas yang berada di provinsi tersebut, sebanyak 14 fasilitas terletak di delapan kabupaten yang terdampak gempa.

Baca Juga: 87 WBP Lapas Kelas III Gunungtua Terima Remisi HUT ke-81 RI

Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Bapeten Ishak mengatakan, berdasarkan hasil koordinasi sementara, tidak ditemukan dampak gempa terhadap keselamatan maupun keamanan sumber radiasi pengion.

Tidak ditemukan pula peningkatan paparan radiasi akibat gempa. Meski demikian, Bapeten tetap melakukan pemantauan, terutama karena aktivitas gempa susulan masih berlangsung. (jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
Gempa NTT kelas darurat bnpb gempa susulan sekolah