PFI Medan Gelar Diskusi Kebencanaan, Penyintas Aceh Tamiang Ungkap Kisah Pilu Banjir

Triadi Wibowo • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:08 WIB
Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan dan Mata Waktu bersama peserta dan tamu undangan Diskusi di Atrium Plaza Medan Fair, Kamis (20/8/2026). (Dok. PFI Medan)
Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan dan Mata Waktu bersama peserta dan tamu undangan Diskusi di Atrium Plaza Medan Fair, Kamis (20/8/2026). (Dok. PFI Medan)

 

MEDAN - Pameran Foto 'Prahara Pulau Emas' yang digelar Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan bersama Mata Waktu di Atrium Plaza Medan Fair, Kamis (20/8/2026), memasuki hari kedua dengan agenda diskusi tentang kebencanaan. 

Kegiatan ini menghadirkan pewarta foto, BPBD, pemadam kebakaran, pengelola pusat perbelanjaan hingga penyintas sekaligus relawan banjir Aceh Tamiang.

Diskusi tersebut menghadirkan Muhammad Said Harahap dari PFI Medan, Kepala BPBD Kota Medan Muhammad Yamin, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Medan Wandro Abadi Agnellus Malau, S.STP, Marcomm Manager Komunikasi Plaza Medan Fair Lenni Manalu, serta Ama Salha, penyintas sekaligus relawan banjir Aceh Tamiang.

Dalam diskusi, Muhammad Said Harahap membagikan pengalamannya saat meliput bencana tsunami Aceh pada 2004. Menurutnya, seorang pewarta foto harus memiliki kesiapan mental ketika berada di lokasi bencana.

Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan dan Mata Waktu bersama peserta dan tamu undangan Diskusi di Atrium Plaza Medan Fair, Kamis (20/8/2026). (Dok. PFI Medan)
Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan dan Mata Waktu bersama peserta dan tamu undangan Diskusi di Atrium Plaza Medan Fair, Kamis (20/8/2026). (Dok. PFI Medan)

 

“Seorang fotografer harus siap mental dalam liputan dan mendokumentasikan peristiwa bencana. Pada 2004 belum ramainya media sosial, saya melihat informasi gempa dan tsunami Aceh dari running text di salah satu stasiun televisi. Saya pun segera bergegas menuju lokasi bencana dengan berbagai cara agar peristiwa tersebut bisa dipublikasikan kepada dunia,” ujar Said, fotografer yang telah menyandang gelar doktor tersebut.

Sementara itu, Kepala BPBD Kota Medan Muhammad Yamin menekankan pentingnya mitigasi dan kemampuan masyarakat membaca kondisi lingkungan sebelum menuju lokasi yang berpotensi bencana.

“Mitigasi tentang kebencanaan sangat penting bagi masyarakat, apalagi mahasiswa yang sering bepergian ke tempat yang dikategorikan rawan bencana. Jadi harus memahami kondisi lokasi. Saya berharap mitigasi bencana dapat diterapkan menjadi salah satu materi pendidikan, baik di tingkat pelajar maupun mahasiswa,” terang Yamin.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Medan, Wandro Malau, mengatakan tugas petugas pemadam kebakaran tidak sebatas menangani kebakaran. 

Diskusi tentang kebencanaan di Atrium Plaza Medan Fair, Kamis (20/8/2026). (Dok. PFI Medan)
Diskusi tentang kebencanaan di Atrium Plaza Medan Fair, Kamis (20/8/2026). (Dok. PFI Medan)

 

Menurut Wandro, petugas juga dituntut memiliki kemampuan untuk menangani berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

“Kami adalah petugas dengan segala keahlian serba bisa. Tidak hanya memadamkan api saat terjadi kebakaran, namun juga harus mampu menyelesaikan permasalahan lain di masyarakat, seperti menangani satwa liar yang masuk ke rumah hingga menyelamatkan kucing yang terjebak di dalam pohon,” ujar Wandro.

Dari sisi pengelola pusat perbelanjaan, Lenni Manalu mengungkap dampak banjir yang melanda Kota Medan pada November 2025 terhadap aktivitas Plaza Medan Fair.

“Kejadian bulan November tahun lalu masih membekas di ingatan saya. Hujan yang terus-menerus turun membuat Jalan Gatot Subroto terendam banjir hingga ke parkiran Plaza Medan Fair. Hal itu mengganggu aktivitas jual beli dan akses jalan pun tidak dapat dilalui akibat banjir. Semoga tidak terulang kembali,” ucap Lenni.

Baca Juga: Air Purifier LG PuriCare™ AeroMini, Pembersih Udara yang Cocok dengan Desain Rumah

Suasana diskusi semakin emosional ketika Ama Salha menceritakan pengalamannya sebagai penyintas banjir Aceh Tamiang. Dengan menahan tangis, ia mengungkapkan dirinya bersama keluarga sempat terjebak di tengah banjir dan harus bertahan di atas atap rumah.

“Saya dan keluarga terjebak di tengah banjir. Kami harus mengungsi di atap rumah karena banjir telah menenggelamkan rumah kami. Tiga hari saya bersama suami dan anak-anak tidak makan, tidak ada listrik dan tidak ada apa-apa,” ungkapnya.

Ama juga menyampaikan rasa terima kasih kepada masyarakat Medan dan PFI Medan yang memberikan bantuan kepada warga terdampak banjir di Aceh Tamiang.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada warga Medan karena merekalah yang banyak membantu kami, warga Aceh Tamiang. Bantuan tidak pernah putus, logistik terus mengalir. Kalau tidak karena bantuan warga Medan, kami pasti mati kelaparan,” kata Ama.

Baca Juga: Bobby Nasution Ajak Masyarakat dan Pelaku Usaha Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Ia juga mengenang bantuan logistik dari PFI Medan yang menurutnya sangat berarti bagi para penyintas.

“Dua minggu kami makan tidak enak, lalu teman-teman PFI Medan hadir memberikan bantuan logistik dan nasi Padang dengan lauk rendang. Kami menangis haru sambil makan,” sambung Ama.

Diskusi tersebut dihadiri pelajar dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Medan, di antaranya USU, UMSU, UNIMED, STIKP, UIN, SMK Negeri 9, SMK Panca Budi dan SMK Broadcasting Bina Creative.

Usai diskusi, kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama. Pameran Foto Prahara Pulau Emas PFI Medan didukung Mata Waktu, PLN, Pelindo Multi Terminal, PT Agincourt Resources, Pertamina PHR, BRI serta Komunitas Jurnalis Anak Medan (Kojam).

Rangkaian kegiatan pameran akan berlanjut pada Jumat (21/8/2026) dengan sejumlah agenda lainnya di Atrium Plaza Medan Fair, Medan. (rel/tri)

Editor : Redaksi
Diskusi Kebencanaan aceh tamiang pfi medan