JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com – Aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah kembali bergerak setelah tujuh bandara di Jabodetabek, Jawa Barat, dan Lampung dibuka secara bertahap. Namun, operasional belum sepenuhnya kembali normal. Setiap pesawat yang akan terbang diwajibkan menjalani inspeksi menyeluruh untuk memastikan tidak ada abu vulkanik yang menempel maupun masuk ke bagian mesin.
Kebijakan tersebut diberlakukan setelah sejumlah bandara terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau selama tiga hari terakhir. Pemerintah memilih membuka kembali operasional secara bertahap dengan tetap menempatkan keselamatan penerbangan sebagai prioritas utama.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan, tiga bandara pertama yang kembali beroperasi pada Selasa (8/9) dini hari adalah Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Husein Sastranegara.
Baca Juga: Aksi Damai Masyarakat Dalihan Natolu Aek Nabara Barumun, Bupati Tegaskan Komitmen Kawal Hak Adat
Selanjutnya, Bandara Budiarto Curug dan Pondok Cabe dibuka pada pukul 02.25 WIB. Dua bandara di Lampung, yakni Radin Inten II dan Muhammad Taufiq Kiemas, juga kembali beroperasi pada pagi hari.
Meski telah dibuka, pemerintah memberikan sejumlah catatan penting kepada otoritas bandara dan maskapai. Salah satunya kewajiban melakukan pemeriksaan terhadap setiap armada sebelum kembali digunakan untuk penerbangan komersial.
“Untuk memastikan keselamatan dan keamanan penerbangan, pembukaan bandara ini juga disertai dengan sejumlah catatan. Otoritas bandara bersama dengan maskapai harus melakukan inspeksi terhadap semua armada pesawat,” tegas Dudy saat berada di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Selasa dini hari.
Abu Vulkanik Mengancam Mesin Pesawat
Kewajiban inspeksi bukan tanpa alasan. Abu vulkanik memiliki partikel yang sangat halus sehingga berpotensi masuk ke berbagai bagian pesawat, termasuk mesin.
Kondisi tersebut membuat pesawat yang telah berada di apron sekalipun tidak serta-merta dinyatakan aman untuk kembali mengudara. Perlindungan mesin saat pesawat diparkir tidak cukup untuk memastikan armada terbebas dari paparan abu vulkanik.
Baca Juga: Bendung Sidalu-Dalu Disorot, 211 Rumah di Gambus Laut Kembali Terendam
Karena itu, pemeriksaan menyeluruh harus dilakukan sebelum pesawat kembali melayani penumpang.
“Partikel abu vulkanik berukuran sangat kecil, sehingga perlindungan mesin pesawat saja belum cukup tanpa pemeriksaan menyeluruh sebelum armada kembali dioperasikan melayani penerbangan komersial,” ujar Dudy.
Selain pemeriksaan armada, pilot dan awak pesawat juga diminta menghindari restricted polygon, yakni wilayah udara yang masih dinilai berbahaya karena berpotensi mengandung abu vulkanik.
Langkah tersebut menjadi bagian dari mitigasi untuk memastikan pesawat tidak memasuki wilayah dengan konsentrasi abu yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan.
AirNav Terus Pantau Sebaran Abu
Sementara itu, EVP Corporate Secretary AirNav Indonesia Hermana Soegijantoro mengatakan, pembukaan kembali tujuh bandara tersebut tetap diikuti pemantauan secara ketat.
Pasalnya, awan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terdeteksi di sejumlah wilayah penerbangan. Kondisi ini membuat informasi mengenai pergerakan dan sebaran abu harus terus diperbarui.
Baca Juga: Dua Siswa SMPN 1 Lubukpakam Sakit Perut Bersamaan, Dilarikan ke RS Grandmed
Hermana meminta pilot dan seluruh kru penerbangan meningkatkan kewaspadaan, baik saat pesawat melakukan proses keberangkatan maupun ketika melakukan pendaratan.
AirNav Indonesia juga terus memantau perkembangan sebaran abu vulkanik, salah satunya melalui paper test volcanic ash yang dilakukan secara berkala di sejumlah bandara terdampak.
“Pemantauan dan pembaruan informasi aeronautika dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan operasional penerbangan tetap berlangsung dengan mengutamakan aspek keselamatan,” kata Hermana.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan