Karhutla Ancam Tanjung Puting, Relawan Kewalahan Padamkan Api di Habitat Orangutan

Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 20:00 WIB
Karhutla mengancam Taman Nasional Tanjung Puting, habitat orangutan Kalimantan.(Instagram @pandemictalks)
Karhutla mengancam Taman Nasional Tanjung Puting, habitat orangutan Kalimantan.(Instagram @pandemictalks)

 

sumutpos.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, yang dikenal sebagai salah satu habitat penting orangutan di dunia. Kobaran api yang terus meluas mengancam kelestarian hutan sekaligus keberlangsungan hidup orangutan dan berbagai satwa liar yang bergantung pada ekosistem tersebut.

Melansir Instagram @pandemictalks, Senin (12/10/2026), kawasan konservasi yang dijuluki sebagai ibu kota orangutan itu kini menghadapi ancaman serius. Api terus menjalar di tengah kepulan asap tebal yang menyelimuti sejumlah wilayah, sehingga menyulitkan upaya pemadaman.

Kondisi tersebut membuat relawan gabungan dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kotawaringin Barat kewalahan. Setelah berhari-hari berupaya memadamkan api, mereka mengaku menghadapi keterbatasan tenaga dan dukungan untuk menangani kebakaran secara langsung.

Baca Juga: PLN UID Sumut Dukung Sambungan Listrik Gratis bagi 584 Rumah Tangga Prasejahtera

Situasi yang belum menunjukkan perkembangan signifikan mendorong para relawan mengambil keputusan untuk menarik sementara seluruh personelnya dari kegiatan pemadaman di lapangan.

Langkah tersebut diambil di tengah semakin sulitnya menjangkau titik-titik api dan terbatasnya kemampuan relawan menghadapi kebakaran yang terus mengancam kawasan hutan.

Para relawan mendesak pemerintah segera mengerahkan bantuan pemadaman melalui udara atau water bombing. Upaya ini dinilai penting untuk menjangkau lokasi kebakaran yang sulit diakses melalui jalur darat.

Selain bantuan udara, hujan menjadi salah satu harapan untuk membantu meredakan kebakaran yang melanda kawasan konservasi tersebut.

Baca Juga: Sambut Hari Ulos, Pemko Medan Gelar Medan Fashion & Culture Festival 2026

Sementara itu, Kementerian Kehutanan menyatakan telah mengupayakan pemadaman melalui udara. Namun, pelaksanaannya menghadapi kendala berupa kabut asap tebal yang membatasi jarak pandang.

Kondisi lahan gambut juga menambah kesulitan dalam proses pemadaman. Kebakaran di lahan gambut berpotensi bertahan di bawah permukaan tanah, sehingga api dapat terus menyala meskipun tidak selalu terlihat dari permukaan.

Habitat Orangutan Terancam

Kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting bukan sekadar persoalan hilangnya tutupan hutan. Peristiwa ini juga mengancam habitat orangutan serta berbagai satwa liar yang menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat hidup, mencari makan, dan berkembang biak.

Orangutan sangat bergantung pada keberadaan hutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kerusakan habitat akibat kebakaran dapat membatasi sumber pakan, mengganggu ruang jelajah, serta memaksa satwa berpindah ke wilayah lain untuk mencari tempat berlindung.

Baca Juga: Lestarikan Bumbu Cipera, Dosen USM Indonesia Bantu UMKM Berastagi Kembangkan Kemasan Sachet

Ancaman tersebut semakin memprihatinkan karena Tanjung Puting merupakan salah satu kawasan konservasi penting bagi pelestarian orangutan Kalimantan.

Di tengah upaya manusia melawan kobaran api, satwa-satwa di dalam hutan juga menghadapi risiko kehilangan tempat tinggal. Kebakaran yang tidak segera dikendalikan dapat meninggalkan kerusakan ekosistem yang dampaknya berlangsung jauh setelah api padam.

Kondisi ini memperlihatkan pentingnya penanganan karhutla yang cepat, terkoordinasi, dan didukung sumber daya memadai. Keterlibatan relawan menjadi bagian penting dalam upaya pemadaman, tetapi dukungan personel, peralatan, dan teknologi yang sesuai dengan kondisi lapangan juga dibutuhkan.

Penanganan kebakaran di kawasan gambut memerlukan strategi khusus agar api tidak terus menjalar dan kembali muncul setelah pemadaman awal.

Baca Juga: Cara Membuat Telur Orak-arik Biar Lebih Lembut dan Creamy

Di tengah keterbatasan yang dihadapi relawan, percepatan penanganan menjadi krusial untuk mencegah kerusakan hutan yang lebih luas. Upaya tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghentikan kobaran api, tetapi juga melindungi keanekaragaman hayati yang menjadi kekayaan kawasan konservasi Tanjung Puting.

Bagi orangutan dan satwa liar lainnya, hutan bukan sekadar bentang alam. Hutan merupakan ruang hidup yang menyediakan makanan, perlindungan, dan kesempatan untuk bertahan hidup.

Ketika api mengancam kawasan tersebut, masa depan satwa-satwa itu pun ikut dipertaruhkan.(lin)

Editor : Redaksi
orangutan Tanjung Puting kebakaran hutan kalimantan tengah karhutla