Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Anwar Ujang, dari Kerawang Melegenda di PSMS Medan

Deking Sembiring • Senin, 4 Maret 2024 | 22:12 WIB
LEGENDA: Anwar Ujang (kanan) ketika memperkuat Timnas Indonesia melawan Santos yang mengandalkan pemain legendaris Pele di Stadion Utama Senayan Jakarta, 22 Juli 1972. (Dok Keluarga)
LEGENDA: Anwar Ujang (kanan) ketika memperkuat Timnas Indonesia melawan Santos yang mengandalkan pemain legendaris Pele di Stadion Utama Senayan Jakarta, 22 Juli 1972. (Dok Keluarga)

Anwar Ujang merupakan salah satu legenda PSMS Medan. Dia turut membantu Ayam Kinantan meraih prestasi di tingkat nasional maupun internasional. Bagaimana kisahnya? Berikut tulisan Pecinta PSMS, Indra Efendi Rangkuti.

ANWAR Ujang lahir di Cikampek, Karawang, Jawa Barat pada 2 Maret 1944. Dia merupakan mantan pemain nasional sepak bola Indonesia di era 1960-an dan 1970-an. Dia juga salah satu pemain legendaris PSMS seangkatan Ronny Pasla, Tumsila, Zulkarnaen Pasaribu, Sarman Panggabean,Yuswardi, Nobon Kayamuddin, Wibisono, dll.

Pemain yang identik dengan nomor punggung 5 ini pertama kali bergabung dengan PSSI pada April 1965. Dia kemudian menjadi Kapten PSSI pada tahun 1970 - 1974. Pada masa jayanya, Anwar Ujang sering dijuluki Beckenbauer Indonesia. Bersama tim Indonesia, dia sering melakukan pertandingan-pertandingan melawan tim dari Eropa dan Asia.

Pada masa itu, Indonesia merupakan salah tim yang paling ditakuti di Asia. Bahkan Indonesia layak disetarakan dengan Israel (sekarang masuk ke zona Eropa), Burma (Myanmar), dan Iran.

Anwar Ujang adalah salah satu bek tengah terbaik di Asia. Dia bahkan sempat beberapa kali masuk nominasi Asian All Star, yang merupakan bukti bahwa reputasinya sebagai back tengah handal diakui di tingkat Internasional.

Salah satu kirsah heroik Anwar Ujang adalah ketika Indonesia kedatangan timnas Uruguay yang akan tampil di Piala Dunia 1974 di Stadion Istora Senayan, 19 April 1974. Saat itu Uruguay diperkuat pemain kelas dunia seperti Juan Silva dan Fernando Morena.

Saat itu, Uruguay sepertinya terkejut dengan penampulan para pemain Timnas Indonesia. Mereka tidak menyangka Anwar Ujang dkk. mampu mengimbangi dan menekan, sehingga Uruguay harus menerima kekalahan dengan skor 2–1.

Anwar Ujang turut menjadi pemain terbaik pada laga ini. Dia berhasil mematikan pergerakan Fernando Morena, Pedro Rocha, dan Juan Silva sehingga mereka tampak kesulitan untuk menembus pertahanan timnas Indonesia.

Pertandingan ini membanggakan bagi penggemar PSMS, karena tiga pemainnya tampil sebagai starter. Ketiganya adalah Ronny Pasla, Nobon dan Anwar Ujang.

Karena tidak ingin malu, Uruguay meminta pertandingan ulang. Pertandingan diadakan pada tanggal 21 April 1974. Sayangnya kali ini giliran timnas Indonesia yang harus menerima kekalahan dengan skor 2–3.

Anwar Ujang juga punya pengalaman fantastis ketika memimpin Timnas Indonesia melawan klub Santos Brazil pada 22 Juni 1972 di Stadion Utama Senayan Jakarta. Santos saat itu membawa Legenda Dunia asal Brazil, Pele.

Sebagai libero yang harus berhadapan langsung dengan Pele, tidak membuat Anwar Ujang canggung dan kagok. Dengan mantap dia mampu mengawal dan membuat Pele mati kutu. Anwar Ujang sendiri tampil mantap mengawal lini pertahanan Timnas Indonesia bersama rekan setimnya di PSMS, yakni Ronny Pasla (kiper),Yuswardi (back kanan), dan Sunarto (back kiri).

Usai pertandingan, Pele memberikan pujian khusus kepada Anwar Ujang. Ketika ditanya wartawan usai pertandingan siapa pemain Indonesia pada pertandingan itu, Pele dengan tegas menyebut “Pemain bernomor 5” yang merujuk langsung ke Sang Kapten, Anwar Ujang.

Anwar Ujang juga membawa Timnas Indonesia menjuarai Kings Cup 1968 di Bangkok. Saat itu Timnas Indonesia diperkuat para pemaun bintang seperti Soetjpto Soentoro,Yudo Hadianto, Mulyadi, Iswadi Idris, Sinyo Aliandoe (Persija), Abdul Kadir, Jakob Sihasale (Persebaya), M Basri (PSM), Anwar Ujang (Persika) dan Max Timisela (Persib) dikontrak oleh Pardedetex yang pada waktu itu berkompetisi di bawah naungan PSMS Medan.

Di Pardedetex sendiri waktu itu ada tiga anak Medan yaitu Sarman Panggabean, Sunarto, dan Azis Siregar. Karena saat itu Pardedetex bernaung di bawah PSMS, maka di Kejurnas PSSI 1969 bintang-bintang nasional yang ada di Pardedetex itu memperkuat PSMS.

Perpaduan bintang-bintang Timnas dengan anak-anak Medan non Pardedetex seperti Ronny Pasla, Yuswardi, Tumsila, Zulham Yahya, Achmadsyah “Ipong” Silalahi, Syamsuddin, dan Nobon membuat PSMS Menjadi kekuatan yang solid hingga dijuluki sebagai The Dream Team. Hasilnya PSMS juara Kejurnas Perserikatan PSSI 1969. Dengan materi pemain tersebut, PSMS juga lolos ke semifinal AFC Champions Cup 1970 di Teheran.

Setelah itu, para pemain yang bukan bersal dari Medan kembali ke klub asalnya sebelum memperkuat Pardedetex. Namun Anwar Ujang tetap berada di Medan, karena harus bertugas di Pertamina Medan. Di Kota Medan ini pula, Anwar Ujang menemukan tambatan hatinya dengan menikahi Nuraini Lubis.

Setelah Pardedetex bubar pada 1970, Anwar Ujang bergabung ke klub anggota PSMS lainnya yaitu Bintang Utara. Dan bersama bintang senior PSMS Sukiman, Anwar Ujang sukses menjadi tembok kokoh yang mengawal lini pertahanan PSMS meski ditinggalkan bintang-bintang Timnas.

PSMS tetap menjadi terbaik di Indonesia dengan menjuarai Kejurnas PSSI 1971. Gelar itu juga membawa PSMS menjadi tim pertama yang juara Kejurnas Divisi Utama Perserikatan PSSI tiga kali berturut-turut, setelah sebelumnya juara pada 1967 dan 1969.

Ketika masih aktif, media Indonesia dan Asia memberi julukan Beckenbauer Indonesia kepada Anwar Ujang. Julukan ini memang pantas karena gaya bermain Anwar Ujang yang kokoh dan lugas sebagai libero. Kemudian piawai dalam membantu serangan, termasuk mampu mencetak gol, mirip dengan Legenda Jerman Franz Beckenbauer yang dijuluki Der Kaizer.

Selain juata Kejurnas Divisi Utama Perserikatan PSSI pada 1969 dan 1971, Anwar Ujang juga membawa PSMS Medan Juara Soeharto Cup 1972, Marah Halim Cup 1972 dan 1973, serta peringkat empat AFC Champions Cup 1970. Selain itu, Anwar Ujang juga Tim Sumut meraih Medali Emas PON VII tahun 1969 dan membawa PSSI Wilayah I yang didominasi pemain PSMS meraih juara Kejuaraan Nasional Antar Wilayah PSSI 1974 dan Runner-uo President Cup 1974 di Seoul.

Anwar Ujang membawa Timnas Indonesia juara Kings Cup 1968, Merdeka Games 1969, Juara Piala Sukan 1972, Djakarta Anniversary Cup 1972 dan berbagai gelar lainnya.
Di Sumut selain membela PSMS, Anwar Ujang yang pernah bertugas di Pertamina Pangkalan Berandan juga pernah membela PSL Langkat. Di PSL Langkat inilah Anwar Ujang menutup karir sepakbolanya

Anwar Ujang meninggal dunia di Medan pada Sabtu 18 Oktober 2014 dan dimakamkan di TPU Muslim Pinang Baris Medan. Walau bukan anak Medan dan bukan putra daerah Sumut tetapi dia adalah legenda PSMS Medan dan Pahlawan Olahraga Sumut. (dek)

TEKS
LEGENDA: Anwar Ujang (kanan) ketika memperkuat Timnas Indonesia melawan Santos yang mengandalkan pemain legendaris Pele di Stadion Utama Senayan Jakarta, 22 Juli 1972. (Dok Keluarga)

Editor : Redaksi
#psms medan #Anwar Ujang