MEDAN, SUMUTPOS.CO - Persoalan atlet Kota Medan yang belum menerima tali asih medali PON 2024 mendapat perhatian dari pemerhati olahraga Sumatera Utara, Rafriandi Nasution. Dia meminta agar Pemko Medan menempati janji sehingga kepercayaan atlet tidak hilang.
"Persoalan tali asih ini sangat penting. Ini berkaitan dengan kepercayaan atlet, orang tua atlet, dan pengurus cabang olahraga. Jangan sampai muncul anggapan bahwa Pemko Medan tidak peduli dengan atlet berprestasi," ujar Rafriandi Nasution kepada wartawan, Rabu (24/9/2025).
Ditambahkan, bila anggapan itu telah muncul, maka kepercayaan atlet akan hilang. Bukan tidak mungkin mereka akan berbondong-bondong pindah ke daerah lain.
"Apalagi tahun 2026 akan digelar Porprovsu, arus perpindahan atlet akan semakin kencang. Jika Kota Medan kurang peduli, maka atlet kemungkinan akan pindah. Tentu ini akan sangat merugikan bagi Kota Medan," tegas insan olahraga renang itu.
Untuk itu, Rafriandi meminta agar Wali Kota Medan Rico Waas menepati janji. Jika memang akan dibayar pada triwulan keempat, dia berharap jangan molor lagi. "Jangan sampai tali asih pun dicicil," harapnya.
Bahkan, Ketua DPD Lembaga Pengawas Kinerja Apratur Negara Sumatera Utara ini berharap agar tali asih itu segera dibagikan tanpa harus menunggu triwulan keempat. ""Kalau memang sudah ada (dananya), apa lagi yang ditunggu? Segera bagikan. Saya rasa tidak perlu dilama-lamakan. Makanya harus dipastikan juga apakah tali asih itu ditampung di APBD atau di perubahan?" jelasnya.
Sebelumnya, atlet Kota Medan yang meraih medali pada PON 2024 lalu mengaku kecewa karena tali asih dari Pemko Medan tak kunjung dibagikan. Padahal pelaksanaan PON 2024 sudah berlalu setahun lalu.
"Kemarin kita mendengar akan turun di Haornas. Kita juga sudah mendapat selebaran surat untuk mengumpulkan berkas. PON itu sudah berlalu satu tahun, tapi sampai sekarang pun belum ada kejelasan," ucap atlet boling, Aldila Indryati.
Aldila pun merasa cemburu melihat rekan-rekan atletnya yang berasal dari Kabupaten Asahan. Pasalnya, Kabupaten Asahan telah memberikan tali asih tersebut kepada seluruh atlet berprestasi pada perayaan Haornas, 9 September 2025 lalu.
Padahal menurut Aldila, selama ini Kota Medan selalu menjadi daerah tercepat yang menyerahkan tali asih tersebut.
"Kota Medan tali asih itu tidak pernah telah dari PON sebelumnya. Setahu saya, bonus Medan itu satu minggu atau beberapa hari setelah bonus Sumut, tapi PON ini sudah setahun dan tidak ada kepastian. Jadi saya pasti kecewa," ujarnya.
Dengan tak adanya kejelasan tali asih ini, menurut Aldila dapat menimbulkan dampak negatif yang sangat besar terhadap perkembangan prestasi olahraga di Medan. "Kemungkinan atlet akan berpindah daerah kalau konteksnya seperti ini, karena kita merasa tidak dihargai di daerah kita sendiri," tegasnya. (dek)
Editor : Redaksi