MEDAN, SUMUT POS- Fenomena perpindahan lebih dari 50 atlet Sumatera Utara ke provinsi lain menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk kalangan legislatif.
Anggota Komisi E DPRD Sumut, Hendra Cipta, menilai persoalan ini tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi, meskipun rendahnya honor atlet Pelatda KONI Sumut yang disebut hanya sekitar Rp1,9 juta per bulan turut menjadi sorotan.
Menurut Hendra, honorarium dalam Program Pembinaan Insentif (PPI) bukanlah faktor utama yang menyebabkan atlet memilih hengkang ke daerah lain. Ia menegaskan bahwa persoalan mendasar justru terletak pada lemahnya rasa memiliki terhadap daerah.
Baca Juga: Dirut PT PASU Bantah Korupsi Rp141 M, Sebut Kasus Inalum Murni Sengketa Bisnis
“Honor itu memang penting, tapi bukan faktor utama. PPI hanya rangsangan. Yang harus diperkuat adalah rasa memiliki terhadap daerah. Itu yang menjadi kunci agar atlet tetap bertahan dan berjuang untuk Sumatera Utara,” ujar Hendra saat memberikan keterangannya kepada Sumut Pos, Kamis (14/5/2026).
Hendra tidak menampik bahwa banyak provinsi lain secara aktif mendekati atlet-atlet berprestasi asal Sumatera Utara. Tawaran yang lebih menggiurkan, baik dari sisi finansial maupun fasilitas, kerap menjadi daya tarik kuat, terutama menjelang ajang besar seperti Pekan Olahraga Nasional (PON).
Ia menyebut fenomena ini sebagai sesuatu yang lazim terjadi dalam dunia olahraga nasional. Namun, kondisi tersebut tetap harus diantisipasi dengan strategi yang tepat agar tidak merugikan daerah.
“Kita tidak bisa menutup mata, memang ada rayuan dari provinsi lain. Ini sudah menjadi fenomena umum, apalagi menjelang PON. Atlet tentu punya naluri untuk memilih yang terbaik bagi dirinya,” katanya.
Lebih lanjut, Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itupun menyayangkan jika atlet-atlet yang selama ini dibina dan dibesarkan di Sumatera Utara justru memilih pindah dan meraih prestasi untuk daerah lain. Menurutnya, hal ini menjadi kerugian besar bagi daerah, baik dari sisi pembinaan maupun kebanggaan.
“Sangat disayangkan jika putra-putri daerah yang sudah kita bina, yang sudah berjuang bersama, justru pindah dan mengharumkan nama provinsi lain,” ucapnya.
Dalam hal ini, Hendra menekankan pentingnya peran KONI Sumatera Utara dalam melakukan pembinaan atlet secara berkelanjutan. Ia mengingatkan bahwa bagi atlet non-profesional, orientasi utama adalah prestasi, bukan semata-mata kesejahteraan finansial seperti halnya atlet profesional.
Namun demikian, aspek kesejahteraan tetap tidak boleh diabaikan, terutama bagi atlet yang telah menunjukkan prestasi di tingkat nasional maupun internasional.
“KONI harus fokus pada pembinaan dan prestasi. Tapi di sisi lain, atlet-atlet berprestasi juga perlu mendapat perhatian lebih. Jangan sampai mereka merasa tidak dihargai,” tegasnya.
Sebagai solusi, Hendra mendorong KONI Sumut untuk memperkuat semangat kebersamaan, loyalitas, dan kebanggaan atlet dalam membela daerah. Penanaman nilai-nilai tersebut dinilai penting agar atlet memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Sumatera Utara.
Selain itu, ia juga mengusulkan adanya langkah konkret seperti pemberian perhatian khusus atau insentif tambahan bagi atlet berprestasi yang berpotensi direkrut daerah lain.
“Perlu ada penguatan komitmen dan loyalitas. Bisa juga melalui fakta integritas atau bentuk perhatian khusus kepada atlet berprestasi. Mereka ini aset daerah yang harus dijaga,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Hendra menegaskan bahwa persoalan perpindahan atlet tidak bisa diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan kebijakan yang komprehensif, mencakup pembinaan, kesejahteraan, hingga penguatan karakter atlet.
Dengan langkah yang tepat, ia optimistis Sumatera Utara mampu mempertahankan atlet-atlet terbaiknya sekaligus meningkatkan prestasi di berbagai ajang olahraga nasional.
“Kalau semua aspek diperhatikan, mulai dari pembinaan, kesejahteraan, hingga rasa memiliki, saya yakin atlet kita tidak akan mudah pindah ke daerah lain,” pungkasnya.(san/ram)
Editor : Juli Rambe