WASHINGTON, Sumutpos.jawapos.com – Alexandra Eala kembali mengharumkan nama Filipina sekaligus Asia Tenggara di panggung tenis dunia. Petenis berusia 21 tahun itu mencatat sejarah sebagai petenis Asia Tenggara pertama yang menjuarai turnamen tunggal level WTA 500 setelah tampil impresif pada Washington DC Open 2026.
Gelar bergengsi tersebut diraih Eala usai menaklukkan unggulan pertama asal Amerika Serikat, Jessica Pegula, dalam laga final yang penuh drama di William H.G. FitzGerald Tennis Center, Senin (3/8) waktu setempat atau Selasa dini hari WIB.
Sempat tertinggal satu set, Eala bangkit luar biasa untuk membalikkan keadaan dan menang 4-6, 6-4, 6-0.
Final sejatinya dimulai sehari sebelumnya. Namun, hujan deras memaksa pertandingan dihentikan saat Eala tertinggal 4-6 dan 1-2 pada set kedua. Penundaan itu justru menjadi titik balik bagi petenis muda Filipina tersebut.
Baca Juga: 10 Tips Membeli Motor Bekas agar Tidak Tertipu dan Tetap Untung
Saat pertandingan dilanjutkan, Eala tampil jauh lebih agresif dan tenang. Meski sempat tertinggal 3-4 di set kedua, ia berhasil merebut sembilan gim berturut-turut hingga memastikan kemenangan sensasional.
"Ya, 24 jam terakhir benar-benar gila. Rasanya saya melakukan pemanasan sekitar seribu kali karena cuaca terus berubah," ujar Eala usai pertandingan.
Ia mengaku memanfaatkan jeda pertandingan untuk mengevaluasi permainannya.
"Saya menggunakan waktu itu untuk belajar dari paruh pertama pertandingan dan menerapkannya ketika laga dilanjutkan. Syukurlah semuanya berjalan sangat baik," katanya.
Pecahkan Rekor Asia Tenggara
Keberhasilan Eala menjadi tonggak baru bagi tenis Asia Tenggara.
Sebelumnya, legenda tenis Indonesia Yayuk Basuki dan mantan petenis Thailand Tamarine Tanasugarn memang pernah meraih sejumlah gelar WTA. Namun, seluruh gelar tersebut diraih pada level yang kini setara dengan WTA 250.
Begitu pula petenis Indonesia Janice Tjen, yang tahun lalu menjuarai turnamen WTA 250 di Chennai.
Karena itu, gelar WTA 500 yang diraih Eala menjadi pencapaian tertinggi yang pernah diraih petenis Asia Tenggara di nomor tunggal putri.
Menaklukkan Deretan Bintang Dunia
Keberhasilan Eala terasa semakin istimewa karena diraih melalui jalur yang tidak mudah.
Sepanjang turnamen, ia harus mengalahkan sederet pemain papan atas dunia, dimulai dari juara Olimpiade Paris 2024 Zheng Qinwen, kemudian juara bertahan Leylah Fernandez, unggulan kedua Elina Svitolina, unggulan ketiga Naomi Osaka, hingga akhirnya menumbangkan unggulan pertama Jessica Pegula di partai final.
"Saya sudah bekerja sangat keras. Memenangi gelar WTA 500 terasa luar biasa. Ini pencapaian terbesar dalam karier saya," ungkap Eala.
Baca Juga: Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Tempuh Praperadilan, Soroti 9 Kejanggalan Penyidikan
Ia mengaku bahkan tidak pernah membayangkan akan mengangkat trofi tersebut, baik di awal turnamen maupun ketika musim 2026 dimulai.
"Semua ini datang begitu saja dan akan selalu saya kenang," ujarnya.
Tembus 20 Besar Dunia
Gelar di Washington turut mengantarkan Eala menembus 20 besar peringkat WTA untuk pertama kalinya sepanjang kariernya.
Musim ini, performanya memang terus menanjak. Kemenangan atas Pegula menjadi kemenangan ketujuh Eala atas pemain peringkat 10 besar dunia sepanjang 2026, menyamai pencapaian Elena Rybakina dan Elina Svitolina.
Popularitas Eala juga terus meningkat.
Sepanjang Washington DC Open, tribun pertandingan dipenuhi bendera Filipina yang memberikan dukungan tanpa henti kepada sang petenis.
Antusiasme itu dipastikan berlanjut di Canada Open. Tiket pertandingan perdana Eala yang dijadwalkan berlangsung Rabu malam waktu setempat bahkan telah terjual habis.
Sekitar 3.100 tiket ludes hanya dalam waktu singkat setelah jadwal pertandingan diumumkan.
Besarnya dukungan tersebut tak lepas dari komunitas warga Filipina yang cukup besar di Toronto. Selain itu, petenis tuan rumah Leylah Fernandez, yang juga dijadwalkan tampil pada sesi malam, memiliki darah Filipina dari pihak ibunya.
Dengan usia yang masih 21 tahun dan performa yang terus menanjak, Alexandra Eala kini bukan hanya menjadi kebanggaan Filipina, tetapi juga simbol kebangkitan tenis Asia Tenggara di level tertinggi dunia. (jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan