NEW YORK, Sumutpos.jawapos.com – Elena Rybakina menutup perjalanan gemilangnya di US Open 2026 dengan cara paling sempurna. Bukan hanya merebut trofi Grand Slam, petenis Kazakhstan kelahiran Moskow, Rusia, itu sekaligus menegaskan statusnya sebagai ratu baru tenis dunia.
Rybakina mengalahkan Aryna Sabalenka dalam final US Open 2026 di USTA Billie Jean King National Tennis Center, New York, Minggu (13/9) waktu setempat.
Pertarungan sengit selama 2 jam 21 menit itu dimenangi Rybakina dengan skor 6-4, 5-7, 6-2. Kemenangan tersebut menjadi gelar Grand Slam ketiganya setelah Wimbledon 2022 dan Australian Open 2026.
Baca Juga: Kesbangpol Sumut Ajak Ormas Perkuat Persatuan, BNN Soroti Ancaman Narkoba
Gelar US Open terasa semakin istimewa karena diraih tepat setelah Rybakina memastikan diri menggusur Sabalenka dari posisi nomor satu dunia. Sebelumnya, dia telah memastikan pergeseran takhta tersebut setelah melaju ke perempat final.
Kini, status tersebut terasa semakin lengkap. Rybakina bukan sekadar mengambil alih ranking teratas, tetapi juga menaklukkan langsung pemilik takhta sebelumnya di panggung terbesar.
“Kali pertama saya datang ke sini sepuluh tahun lalu sebagai petenis junior. Sejak saat itu, tempat ini sudah terasa luar biasa bagi saya. Suasananya sangat riuh dan berbeda dari tempat-tempat lain,” kata Rybakina dalam konferensi pers yang diunggah melalui kanal YouTube resmi US Open.
Terkendala Cedera
Perjalanan Rybakina menuju gelar juara sebenarnya tidak dimulai dengan kondisi ideal.
Petenis berusia 27 tahun tersebut datang ke New York dengan kekhawatiran akibat cedera pergelangan kaki. Cedera itu dialaminya ketika menghadapi Iga Swiatek di Cincinnati Open, hanya 23 hari sebelum final US Open.
Bahkan, Rybakina sempat ragu dapat tampil di New York. Hasil pemeriksaan MRI yang dijalaninya tidak memberikan gambaran positif mengenai kondisi cederanya.
Namun, konsultasi dengan sejumlah dokter membuat proses pemulihan berjalan maksimal. Dukungan tim medis menjadi bagian penting dalam upayanya kembali ke lapangan.
“Saya beruntung memiliki dokter yang sangat baik di Australia. Dia terus berkomunikasi dengan kami melalui telepon sepanjang waktu,” tutur Rybakina.
Baca Juga: Virgo Transport 8 Ditemukan Terbalik di Laut Jawa, 129 Korban Masih Dicari
Julukan Ice Queen yang melekat kepadanya pun kembali menemukan maknanya. Di tengah tekanan, cedera dan ekspektasi besar, Rybakina tetap mampu menjaga ketenangan hingga pertandingan berakhir.
Selesaikan dengan Ace
Servis merupakan salah satu senjata utama Rybakina. Namun, pada set pertama, kekuatan tersebut belum sepenuhnya bekerja. Dia hanya mampu memasukkan 28 persen servis pertamanya.
Meski demikian, Rybakina menemukan kembali ketajamannya ketika pertandingan memasuki momen paling krusial.
Pada match point, dia sempat melakukan double fault. Tekanan semakin terasa karena Sabalenka merupakan petenis yang dikenal agresif dan berani mengambil risiko.
Rybakina tidak memberi kesempatan lebih jauh.
Sebuah ace menjadi pukulan terakhir yang mengakhiri perlawanan Sabalenka sekaligus memastikan trofi US Open berada di tangannya.
“Saya sangat tegang. Sulit untuk tetap fokus,” kata Rybakina kepada AFP mengenai momen match point.
“Saya tahu dia pemain hebat dan berani mengambil risiko. Jadi, saya harus memenangkan pertandingan itu sendiri,” imbuhnya.
Baca Juga: Lengah, PSMS Ditahan Sumsel United 2-2
Akhir 99 Pekan Sabalenka
Di sisi lain, kekalahan tersebut menjadi pukulan ganda bagi Sabalenka.
Petenis Belarus itu bukan hanya gagal mempertahankan gelar US Open untuk kali ketiga secara beruntun, tetapi juga harus menyerahkan posisi nomor satu dunia yang telah dikuasainya selama 99 pekan.
Catatan tersebut menjadi salah satu periode dominasi terpanjang dalam karier Sabalenka. Namun, akhirnya takhta itu berpindah tangan setelah Rybakina datang dengan kombinasi ketenangan, kekuatan dan konsistensi.
“99 pekan? Wow. Itu fantastis. Mari kita lihat apakah Elena bisa melampaui rekor saya itu. Tetapi, jika dia terus bermain seperti tadi, ya, saya dalam bahaya besar,” ujar Sabalenka.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan