Kelelahan Mengasuh Anak Tak Sekadar Bikin Capek, Ini Dampaknya pada Hubungan Orang Tua dan Anak

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 10:30 WIB
Ilustrasi, kadang orang tua sering bingung membuat menu sarapan untuk anak. (pexels.com)
Ilustrasi, kadang orang tua sering bingung membuat menu sarapan untuk anak. (pexels.com)

 

Sumutpos.jawapos.com-Menjadi orang tua membawa kebahagiaan besar, tetapi juga menghadirkan tuntutan yang tidak sedikit. Mengurus anak, bekerja, memenuhi kebutuhan rumah tangga hingga menghadapi persoalan finansial bisa membuat energi terkuras tanpa disadari.

Ketika tekanan berlangsung terus-menerus sementara dukungan yang tersedia terasa minim, kelelahan dapat berkembang menjadi parental burnout atau kelelahan berat dalam menjalankan peran sebagai orang tua.

Kondisi ini bukan sekadar lelah setelah seharian mengurus anak. Parental burnout dapat ditandai dengan kelelahan emosional, munculnya jarak emosional terhadap anak, serta perasaan bahwa kemampuan untuk menjalankan peran sebagai orang tua semakin menurun.

Baca Juga: Jangan Dianggap Sepele, 10 Kalimat Ini Sering Diucapkan Anak yang Takut Mengecewakan Orang Tua

Dilansir dari Psikologi Today, dalam kondisi tertentu, kelelahan tersebut dapat memengaruhi cara orang tua merespons perilaku anak. Respons yang semula hangat dan penuh kesabaran bisa berubah menjadi mudah marah, menarik diri, atau lebih sering menggunakan pendekatan yang keras.

Ketika Kelelahan Mulai Mengubah Pola Asuh

Penelitian Katherine M. Ryan dan tim pada 2026 menyoroti hubungan parental burnout dengan pola pengasuhan dalam keluarga yang memiliki risiko persoalan seperti pengabaian atau kekerasan terhadap anak.

Penelitian tersebut melibatkan 140 pengasuh di Australia yang sebelumnya mengikuti program dukungan pengasuhan. Para peserta berasal dari keluarga yang memiliki riwayat pengabaian atau kekerasan terhadap anak, tekanan keluarga, atau anak dengan perilaku eksternalisasi yang signifikan.

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara tingkat burnout orang tua dengan berkurangnya perilaku pengasuhan positif serta meningkatnya perilaku pengasuhan negatif.

Dengan kata lain, ketika orang tua semakin terkuras secara emosional, kehangatan dan dukungan kepada anak dapat ikut menurun. Sebaliknya, respons seperti permusuhan, tekanan atau pola pengasuhan koersif dapat meningkat.

Baca Juga: Rafik Dorong Kajian Bagi Hasil Pelabuhan Kuala Tanjung untuk Batu Bara

Namun, penting dipahami bahwa parental burnout tidak berarti seseorang otomatis akan melakukan kekerasan atau mengabaikan anak. Kondisi keluarga, dukungan sosial, kesehatan mental, situasi ekonomi dan banyak faktor lain juga ikut berperan.

Anak dan Orang Tua Bisa Terjebak dalam Siklus

Persoalannya dapat berkembang menjadi lingkaran yang sulit diputus.

Anak yang sedang mengalami masalah perilaku mungkin lebih sering tantrum, marah atau menunjukkan perilaku agresif. Kondisi tersebut membuat orang tua semakin tertekan.

Ketika energi emosional orang tua sudah terkuras, respons yang diberikan kepada anak dapat menjadi lebih keras, tidak konsisten atau justru menarik diri.

Respons tersebut kemudian berpotensi memperburuk perilaku anak. Anak semakin sulit dikendalikan, orang tua semakin frustrasi, dan kelelahan pun bertambah.

Siklus semacam ini menunjukkan bahwa persoalan tidak selalu terletak pada “anak yang sulit” atau “orang tua yang buruk”. Keduanya dapat saling memengaruhi dalam situasi yang penuh tekanan.

Karena itu, mengenali masalah sejak awal menjadi langkah penting.

Kenali Tanda Sebelum Kelelahan Semakin Dalam

Salah satu kunci untuk mencegah parental burnout berkembang lebih jauh adalah mengenali tanda-tandanya.

Orang tua perlu memperhatikan ketika dirinya mulai lebih mudah tersinggung, terus-menerus menyalahkan diri sendiri, merasa tidak mampu menjalankan peran sebagai orang tua atau kehilangan harapan bahwa keadaan akan membaik.

Kelelahan emosional yang terus berlangsung juga patut diperhatikan, terutama jika mulai membuat hubungan dengan anak terasa semakin jauh.

Mengakui kondisi tersebut bukan berarti menjadi orang tua yang gagal.

Justru sebaliknya, kesadaran bahwa diri sedang kewalahan dapat menjadi langkah awal untuk mencari bantuan.

Jangan Menunggu Sampai Benar-Benar Habis

Salah satu cara menghadapi parental burnout adalah membangun jaringan dukungan.

Bantuan bisa datang dari pasangan, keluarga, teman, tetangga maupun komunitas yang dipercaya. Bantuan sederhana seperti mengambil alih pengasuhan sementara agar orang tua dapat beristirahat pun bisa berarti besar.

Baca Juga: Bawa Peta dan Akta 1906, Zhuriat Kedatukan Limapuluh Ungkap Jejak Sipare-Pare

Orang tua juga perlu memberi ruang untuk dirinya sendiri. Istirahat bukan kemewahan dan bukan tanda bahwa seseorang tidak sanggup menjalankan tanggung jawab.

Jika tekanan sudah mengganggu keseharian atau memunculkan emosi yang sulit dikendalikan, mencari bantuan profesional juga dapat menjadi pilihan yang tepat.

Konsultasi dengan tenaga profesional dapat membantu orang tua memahami sumber tekanan, mengelola emosi dan menemukan pola pengasuhan yang lebih sehat.

Anak Tidak Membutuhkan Orang Tua yang Sempurna

Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu tenang, selalu benar atau tidak pernah merasa lelah.

Yang lebih penting adalah adanya hubungan yang aman, hangat dan terbuka.

Orang tua boleh mengakui bahwa dirinya sedang kelelahan. Boleh meminta bantuan. Bahkan boleh mengambil jeda ketika emosi mulai memuncak, selama kebutuhan dan keselamatan anak tetap terjaga.

Sebab, menjaga kesehatan emosional orang tua pada akhirnya juga merupakan bagian dari menjaga anak.

Baca Juga: Demi Kesehatan Mental, Jennifer Coppen Cuek dengan Komentar Miring Netizen

Ketika orang tua memiliki cukup dukungan untuk pulih, mereka memiliki lebih banyak ruang untuk kembali hadir secara hangat bagi anak.

Menjadi orang tua memang tidak selalu mudah. Tetapi kelelahan tidak harus dilalui sendirian. Meminta bantuan bukan tanda kegagalan, melainkan salah satu cara untuk melindungi diri sekaligus membangun hubungan yang lebih sehat dengan anak.(net/han)

Editor : Johan Panjaitan
lelah parental burnout pola asuh orangtua