MEDAN, SUMUTPOS.CO - Universitas Sumatera Utara (USU) kembali menambah deretan akademisi terbaiknya dengan mengukuhkan enam guru besar dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) serta Fakultas Pertanian. Acara pengukuhan dihadiri oleh sivitas akademika dan keluarga para guru besar yang dikukuhkan di Gelanggang Mahasiswa USU, Senin (10/2) lalu.
Adapun keenam guru besar yang dikukuhkan, yakni Prof Bengkel, Prof Dewi Kurniawati, dan Prof Heri Kusmanto dari FISIP. Sementara dari Fakultas Pertanian, dikukuhkan Prof Diana Chalil, Prof Lisa Mawarni, serta Prof Satia Negara Lubis.
Rektor USU Prof Muryanto Amin, dalam sambutannya menekankan, pengukuhan ini menjadi bagian dari upaya universitas dalam meningkatkan reputasi akademik secara nasional maupun global. Dia menyampaikan, USU terus berkomitmen dalam menciptakan lingkungan akademik yang inovatif dan kolaboratif, untuk menghasilkan riset dan pengabdian masyarakat yang berdampak luas.
“Setiap guru besar yang dikukuhkan hari ini adalah cerminan dari kualitas akademik USU. Mereka tidak hanya menjadi pemikir dan peneliti, tapi juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan akademisi muda agar terus berkarya,” ungkap Muryanto.
Dalam kesempatan ini, Muryanto juga mengingatkan, jumlah guru besar USU kini telah mencapai angka yang membanggakan. Pada 2024, USU menambah sebanyak 52 guru besar baru, dan sejak Januari hingga 10 Februari 2025, telah mengukuhkan 12 guru besar baru lagi. Angka ini menunjukkan konsistensi USU dalam mendorong kualitas pendidikan tinggi.
“USU sangat mendukung para akademisi dalam pengembangan karir mereka di ranah keilmuan masing-masing,” tutur Muryanto.
Muryanto juga menyoroti, pentingnya kolaborasi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Jabatan guru besar bukan hanya hasil kerja individu, tapi juga kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghasilkan inovasi dan lulusan yang berkualitas. Selain itu, dia menegaskan, pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam memberikan solusi atas permasalahan global yang terus berkembang.
Tiga pilar utama dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi juga menjadi perhatian utama, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pendidikan harus relevan dengan kebutuhan global dan memberikan akses inklusif bagi mahasiswa. Penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, harus bersumber dari riset yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah sosial.
Seorang guru besar yang dikukuhkan, Prof Bengkel dari FISIP USU, menyoroti pentingnya kebijakan daerah dalam mengakomodasi mobilitas penduduk. Dia menjelaskan, perpindahan masyarakat dari daerah minus ke daerah surplus adalah hal yang wajar, tapi perlu diimbangi dengan regulasi yang memastikan kesejahteraan mereka di tempat baru.
“Daerah tujuan harus mampu menyusun kebijakan yang dapat mengintegrasikan para pendatang, sehingga mereka tidak hanya berpindah tempat, tapi juga dapat meningkatkan kualitas hidupnya,” jelas Bengkel.
Sementara itu, Prof Satia Negara Lubis, dari Fakultas Pertanian, dalam pidatonya yang bertajuk “Dari Kebun ke Cangkir”, menekankan potensi besar komoditas kopi dari dataran tinggi Sumatera Utara, seperti Karo, Sidikalang, dan Tarutung. Dia menyoroti, bagaimana petani kopi dapat meningkatkan kesejahteraan mereka dengan memahami perbedaan margin keuntungan antara menjual cherry coffee dan roast bean.
“Petani kopi harus menyadari, menjual roast bean memberikan nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan hanya menjual green bean,” pugkasnya. (rel/saz)
Editor : Redaksi